STRANGER (1)

a16f1d9879e74c2a091a7549aaf0db23

 “Kau sudah menyelesaikannya?” Nayeon mengiyakan jawabanku.

“Baiklah, terimakasih. Kau bisa beristirahat sekarang.”  Ada keraguan saat ia mengangguk dan berjalan menjauh dariku.

Nayeon-ah.. Mengapa kau masih belum bisa menggunakan topengmu dengan baik?

“Nona.. apa kau.. akan baik-baik saja?” matanya berkata padaku untuk menjawab pertanyaan itu.

Apa yang harus kulakukan?

“Aku akan baik-baik saja.” Meskipun Nayeon berkata iya, tapi keraguan itu masih ada.

“Sekarang, pulanglah. Aku yakin kedua adikmu sudah menunggu.” Matanya seakan menolak saranku. Kudorong tubuhnya berjalan menuju pintu keluar.

“Nona.. aku bisa tetap disini menemanimu.”

Nayeon… Terimakasih. Tapi kau lebih baik tidak ada disini.

“Aku ingin sendiri. Tak bisakah kau mengabulkan permintaanku?” Mata ini mulai menunjukan keahliannya. Nayeon terlihat tak bisa menolak permohonan yang tergambar di jendela mataku ini. Ah.. seingatku tak ada yang bisa menahan pesona mata indah ini.

Bahkan dia pun tak bisa menolaknya.

“Nona.. maaf apa ini milikmu?” suaranya yang kaku membangunkanku dari lamunan ini. Tangannya memegang Aurora Diamante-ku.

“Tuhan… akhirnya aku menemukanmu!” kuambil pena bertahtakan lebih dari 30 karat berlian DeBeers itu dari tangannya dengan cepat. Kuperiksa kondisi fisik pena pemberian ibuku itu dengan teliti.

Kau tahu.. aku tak ingin ada satu cacatpun yang terlihat di pena ini.

Bukan harganya yang mahal yang membuatku seperti ini.

Tapi….

“Jika itu sangat berharga untukmu, kau harus menjaganya dengan baik.” Lesung pipi kecil di wajahnya yang mungil itu hadir menemani senyum canggungnya.

Wanita di hadapanku ini… aku baru kali ini melihatnya.

Apa dia.. staff baru yang dibicarakan kemarin?

“Nona.. aku permisi?” mengapa dia membuat pernyataan itu menjadi sebuah pertanyaan? Apa dia meminta izin padaku untuk pergi?

Hahahaa cute!

“Stay…” ucapku datar meskipun ada permohonan di dalamnya.

Dia menatapku dalam diam begitupun aku.

Pandangan kami saling bertemu. Mereka seperti berbincang dalam keheningan yang menyelimuti, membuatku heran sendiri.

Kedua mata coklat kehitamannya yang bening itu menatapku penuh tanya dan.. terhibur?

“Aku tidak mengizinkanmu pergi.” Matanya masih menatapku begitu dalam, mencoba membaca apa yang ada di pikiranku saat ini.

Mungkin bagi orang lain, kami bagai idiot yang berdiri mematung dikerumunan orang yang berlalu lalang melewati.

Tapi aku tak peduli.

Mata ini, hanya peduli pada apa yang ada di hadapanku.

Dia

Masa depan.

Ya.. masa depanku.

Itu terdengar bagus!

“Aku tidak akan bisa pergi setelah melihat matamu sepertinya.” Tawa kering dan renyahnya memutuskan pertarungan mata kami yang menari bahagia menyambut pertemuan ini.

 

“Jika kau tidak pergi maka aku akan..” mendengar ucapanku ini, Nayeon membulatkan kedua matanya. Sepertinya ia mengerti maksud dari nadaku tadi.

“Baiklah Nona.. aku pergi.. aku pergi.” Nayeon bergegas pergi akhirnya meninggalkanku sendiri di ruang ini.

“Bodoh.. mengapa aku seperti ini lagi” ucapku pada kesunyian yang kini menemani. Kutepuk-tepukan kedua sisi wajahku, mencoba membangunkanku dari pikiran abu-abu.

Menemani?

Apa sunyi mau menemaniku?

Bahkan jika sunyi ingin menemani, aku merasa tak pantas untuk mendapatkannya.

Karena sunyi hanya miliknya.

Dia..

Dia yang kurindukan dalam sunyi yang menjadi keindahan dimatanya.

Dunia ini sungguh lucu.

Sungguh aneh.

Dan keanehan yang dunia ciptakan adalah aku.

Bukan aneh.. mungkin bodoh.

Ya.. bodoh adalah kata yang pas untuk menggambarkan diriku.

Aku mencintainya. Tapi aku tak ingin bersamanya.

Aku ingin memiliki dunianya. Tapi aku tak ingin menjadi dunianya.

Aku ingin menjadi keabadiannya tapi aku yang membuatnya menghapus kata itu.

Aku merindukannya tapi pada akhirnya aku juga yang membuatnya jauh dariku.

Mengapa cinta serumit ini?

Haaa.. tidak. Cinta tak pernah serumit ini.

Aku.

Ini aku yang membuatnya seperti ini.

Ya.. itu aku.

Kebodohan ini..

Kesedihan ini..

Rinduku ini..

Tentu semuanya hanya kuserahkan padanya.

Hanya untuknya.

Yang selamanya akan menjadi keabadianku.

Di dunia.. maupun di surga nanti.

Surga.. aku tak tahu jika surga adalah duniaku yang baru.

Karena dengan mencintainya seperti ini, namaku sudah tertulis di daftar hadir Neraka.

Jika menyebut Surga dan Neraka, aku ingin tertawa mendengarnya.

Kalian tahu kenapa?

Mencintai seorang Dia adalah sebuah surga dan neraka bagiku.

Satu detik aku bahagia bagai di surga.

Detik berikutnya neraka menyiksaku bila aku berada di dekatnya.

Mencintainya bagai meminum sebuah kopi hitam pekat.

Satu detik kau merasakan kehangatan dan manis menyerbu lidahmu.

Detik berikutnya rasa pahit bercampur asam meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam hidupmu.

Bedanya.. bukan dia yang menciptakan pahit dan asam itu.

Aku.. itu aku.

Dan kebodohan itu adalah aku.

Aku.

“Kau bilang apa?” mata coklat kehitamannya menatapku tak percaya, seolah aku adalah komedian terhebat abad kini yang memberikannya lelucon terbaik saat ini.

“Aku..” Kucoba meletakan tangan ini di bahunya yang masih terlihat ingin tertawa mendengar ucapanku tadi.

“Kau berhasil membuat hariku jadi lebih menyenangkan dengan celotehmu tadi!” Tawa renyahnya yang terdengar canggung bagi sebagian orang kini menggema lagi di ruanganku. Dia masih memegang satu catatan kecil di tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang pena Mont Blanc yang kuberikan padanya sebagai hadiah ulang tahunnya beberapa bulan lalu.

“Aku tidak sedang bercelo..” Sial! Mengapa kau memelukku seperti ini?

“No.. bagiku itu adalah lelucon. Aku tidak akan pernah percaya dengan omong kosongmu tadi.” Bisiknya halus dan pelan di telingaku yang memerah menerimanya. Ia meniupkan nafasnya di telingaku, membuat pertahananku melemah.

Tidak! Kau tidak boleh seperti ini!

Kebahagiaanmu adalah prioritasku.

Jika aku harus menjadi orang paling bodoh di dunia untuk membuatmu bahagia, maka akan kulakukan.

Prioritasku adalah hidupmu.

Karena kebahagiaanku adalah hidupmu.

Hidupmu adalah kebahagiaanku.

Dan kebahagiaanku adalah hidupmu.

“Apa kau ingin melamarku?” kedua mata yang menjadi jendela jiwanya menatapku penuh dengan antusias dan semangat.

Apa kau gila?

“Hei! Dengarkan aku. Aku..” Lidahku terasa kelu saat bibir manisnya menyapaku cepat. Kelembutan itu membuat otakku terasa beku.

Ini bukan kali pertama dia mengecupku tapi wanita brengsek di hadapanku ini selalu membuatku lupa diri.

Jantung ini selalu bekerja lebih cepat jika ia mulai bertingkah seperti tadi.

“Ya.. aku mau mendampingi dirimu. Aku mau menjadi suami.. errr atau istrimu? Hehehe sebenarnya aku bingung apa aku lebih cocok menjadi istri atau suamimu.” Wajah awet mudanya yang seperti bayi membuat hatiku ingin menangis.

Tuhan.. seandainya kau buat ini mudah untuk kami.

Seandainya kau tak begitu terpesona padaku, begitu mencintaiku sehingga kau..

“Bagaimana? Kau ingin aku menjadi apa? Orang bilang sikapku seperti seorang pria tapi kau tahu.. sisi kewanitaanku tak pernah padam kekekekeke.” Aku memijat bagian kepalaku yang terasa pusing.

Tuhan.. apa yang sedang kulakukan sekarang?

“Dan melihat sisi kewanitaanmu yang tinggi, sepertinya kau cocok memegang peran wanita dalam rumah tangga kita nanti. Kau akan menjadi ibu yang luar biasa! Hahahahaha” tawa merdunya itu melengkapi wajah imut dan menggemaskannya yang bisa memacu kematianku lebih cepat.

Haruskah aku merasa bahagia atau menderita?

Mengapa kau begitu bodoh?

Dan yang paling bodoh adalah orang yang mencintaimu.

Aku.

“Aku ingin kita berpisah.” Kubuka mataku perlahan. Dia masih menatapku seperti aku adalah makhluk asing yang menjelma menjadi dewi di hadapannya?

“Apa kau.. kekasihku?” jari telunjuknya beberapa kali menyentuh pipiku.

Demi Dewa, Tuhan dan apapun!

Tuhan.. kau sepertinya serius ingin membunuhku dengan mengirimkannya padaku T.T

“KIM.. TAE.. YEON. Dengarkan aku! Aku.. serius!” dengan dramatisnya ia jatuhkan buku dan pena mahal yang kuberikan padanya.

Tuhan… terkadang aku berpikir mengapa aku bisa menyukai wanita berlebihan sepertinya.

Bodoh!

“Why..?” pernah mendengar orang mengatakan kata itu dengan merdunya?

“Aku berharap kau tidak mempercayaiku tapi aku.. AKU TIDAK MENCINTAIMU lagi Kim!”

“Kau hanya tidak mencintai Kim, berarti Taeyeon masih dicintai olehmu.” Kepolosan dan kebodohan itu disekat oleh garis yang sangat tipis dan aku tak tahu harus berkata apa.

“AKU TIDAK MENCINTAIMU KIM TAEYEON!” Teriakku dekat sekali di wajahnya yang terpaku menatapku dengan kedua matanya tak berhenti memandangi.

“Kau bohong.” Ucapnya sedikit datar, tak ada penekanan di dalamnya.

“Bagian mana yang menjadi sebuah kebohongan bagimu?” tangan yang tadi ingin memegang bahuku kutangkis. Dia terlihat terkejut melihat itu.

“Fany..” Tangan itu berusaha meraihku lagi. Tapi kali ini tak kutangkis.

“Mengapa kau begitu menyebalkan heuh! Menyusahkan saja!” Tubuhnya kudorong kedepan sehingga ia mundur tehuyung ke belakang. Tapi hal itu tak membuatnya terjatuh ke lantai.

“Kumohon jangan temui aku lagi.”

“Fany..”

“Anggap saja kita tak pernah bertemu. Jika kau terpaksa bertemu denganku, jangan pernah menunjukan wajah pedofilmu yang memuakkan itu!” Aku merasa suaraku mulai tak stabil. Penekanannya mulai goyah tak seperti awal.

Mata hitam kecoklatannya kini berkaca-kaca menatapku penuh kebingungan.

“Kau mau pergi sekarang atau aku yang akan mengusirmu?” Tubuhnya masih diam, menatapku dengan kesedihan dan tak percaya.

“Fany.. aku mencintaimu” Aku tahu, aku tahu Taeyeon-ah.

“Taeyeon…” sungguh ini sangat melelahkan. Rasanya seluruh tenagaku lenyap entah kemana.

“Fany.. aku mencintaimu..” dia mengucapkan itu bagai mantra. Dan aku selalu terbius oleh sihirnya itu. Aku berjalan mengambil gagang telepon.

“Dae Young, tolong bawa seseorang dari ruanganku sekarang. Dia sungguh menggangguku.” Kututup panggilan itu sementara kekasih euhm maksudku mantan kekasihku itu masih mengucapkan kalimat cinta yang menjadi melodi indah di telingaku pada teman imajinasinya.

“Taeyeon..”

“Fany.. aku mencintaimu..”

“Fany.. aku mencintaimu..”

“Fany.. aku mencintaimu..”

“Fany.. aku mencintaimu..”

“Fan…” Dia memalingkan wajahnya padaku perlahan.

Tanda merah muda di pipi kanannya masih terlihat jelas.

“Fan..” Kutampar sekali lagi pipinya. Kali ini yang kiri yang menerima panasnya tamparan itu.

“Fann..” Dia menundukan wajahnya melihat tanganku terangkat bersiap memukulnya.

“Nona..” seorang pria, bawahan kepala keamanan perusahaanku bergegas menghampiriku dan Taeyeon.

“Nona.. ada ap…”

“Je Ha.. tolong jangan biarkan aku melihatnya ada di kantor ini. Terimakasih.” Walau dia menolak, dia tak bisa menahan kekuatan Je Ha yang kini menyeretnya keluar dari ruanganku untuk.. mungkin.. ah tidak.. ini akan menjadi selamanya.

Ya.. dia takkan pernah lagi menginjakan kakinya di ruangan ini, kecuali.. jika di ruangan ini, sudah bukan aku lagi yang menjadi pemiliknya.

 

“Masih menikmati nostalgilamu?”  Aish! Apa yang sedang dilakukannya disini?

“Nostalgila? Hahaha.. kau lucu suamiku!” Aku bangkit dari kursiku, menghampiri pria yang sudah duduk di sofa kesayanganku.

 

“KIM TAEYEON!” ini adalah kali bagi tambah kurang kalinya aku berteriak padanya hari ini.

“Selamat bertambah tua Nona Hwang hehehehe” tawa generasi tuanya kadang membuat bulu kudukku merinding. Tapi anehnya itu terdengar begitu merdu di telingaku.

Sihir apa yang sebenarnya dia gunakan?

“Mengapa kau melakukan ini?” Aku ingin menangis melihatnya tersenyum begitu lebar, menampilkan deretan gigi rapi dan putihnya yang menyilaukan.

“Karena aku.. mencintaimu?” Bodoh.. mengapa kau mengubahnya menjadi sebuah pertanyaan?

“Oh.. Kim!” Tawa generasi tuanya kembali membahana saat tubuhku meluncur kedalam pelukannya.

.

.

.

Mengapa kau membelikanku sofa ini?

“Karena PINK adalah kebahagiaanmu.” Dia tersenyum begitu manis saat ini.

Tuhan bagaimana bisa kau menciptakan manusia 2 alam sepertinya?

Dia bisa terlihat begitu cantik dan detik berikutnya ketampanannya membuat diriku ragu apa aku benar-benar menyukai jenisku.

Mungkin di kehidupan sebelumnya kau adalah seorang katak yang berjasa bagi dunia sehingga Tuhan memutuskan menghadiahimu sebagai manusia dan bertemu denganku yang luar biasa ini.

Kau Luar Biasa Taeyeon-ah!

“Fany.. kau tidak senang?” saat kerutan itu muncul di dahinya, entah mengapa dia terlihat semakin tampan bagiku.

“Oh Taeyeon.. senang bukan kata yang tepat menggambarkan apa yang kurasakan sekarang!” Kerutan itu berkurang, tergantikan dengan senyum penasaran dan semangat yang membuatnya semakin terlihat seperti anak PlayGroup untukku.

LOL… sejak kapan aku menjadi pedo seperti ini?

“I don’t like it. I love it” Kecupan manis dan ringan menjadi balasan untuk kebahagiaan yang dia berikan padaku hari ini.

Terimakasih Taeyeon-ah.

 

“Hei istriku… jangan terlalu banyak melamun. Kau akan terlihat semakin cantik jika hal itu terjadi.” In Sung, pria yang sudah 6 bulan ini menjadi suami-ku melancarkan lagi celotehannya yang bermutu.

“Maksudmu seperti ini?” kutunjukan fotonya dari smartphone-ku. Wajahnya seketika pucat melihat gambar ini. Aku hanya tertawa puas dalam hati melihat tingkah konyolnya.

********

Penandlove @KTY_3989

Mendapat semangat baru dari sesi menguras otak siang ini! XD

Saymyname @Stranger3981

@KTY_3989 apa kau sudah menemukan inspirasi barumu???

Penandlove @KTY_3989

@Stranger3981 Tidak!!! Aku masih belum menemukannya TT. Sulit mengganti seseorang yang sudah cukup lama menjadi Muse-ku.

“Kau mengobrol dengannya?” Taeyeon melepas kacamatanya. Ia mengambil Ice Americano  yang menjadi penambah semangatnya setelah kegiatan yang padat siang tadi.

“Sudah bertemu dengannya?” Jessica Jung, wanita yang duduk di samping Taeyeon mendorong kursi yang diduduki temannya itu ke samping kanan, menggeser sang pemilik dari tahtanya di depan layar monitor.

“Aku akan segera bertemu dengan Muse-ku bila kau mau menemuiku! DONE!!! Hahaha.” Jessica terlihat begitu senang saat ia berhasil mengirim pesan itu. Taeyeon yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.

Temannya itu.. euh tidak, maksudnya… sahabatnya itu terkadang terlalu seenaknya padanya.

“Sica..” Keduanya masih menikmati sore santai mereka, menikmati kopi dan camilan kecil yang ada.

“Menurutmu aku gila?” Taeyeon menatap sahabatnya itu dengan pandangan yang menyesatkan siapapun  yang melihatnya.

Taeyeon.. dia bisa begitu seksi dan polos secara bersamaan.

Menambah kemungkinan wanita manapun menjadi penyuka sesama jenis jika terjebak dalam pesonanya.

”Yah! Jangan menatapku seperti itu!” Jessica mendorong sedikit keras wajah sahabatnya itu ke kanan. Ia tak mau menjadi salah satu korban Taeyeon yang jika diurutkan berada di angka satuan.

“Sica.. jawab aku…” ucapnya memaksa. Jessica terlihat berpikir sebentar memikirkan jawabannya.

“Kau tidak gila. Hanya sedikit menyedihkan dan BELUM gila..” Taeyeon memandang sahabatnya yang menatapnya penuh belas kasih dibalik wajah iblis bertopeng malaikatnya.

“Belum? Yah!!!” Churros isi coklat itu Taeyeon lempar pada Jessica yang segera menangkapnya, memakan donat Spanyolnya itu.

“Aku serius.”

“Maksudmu?”

“Taeyeon… ini sudah hampir setahun sejak wanita jalang itu memutuskanmu.”

“Sica..”

“Dia sudah menikah dan lihat bagaimana keadaanmu sekarang? Kau malah asik berchat ria bersama orang asing yang wajahnya pun tak kau ketahui.” Churros itu kembali Jessica lahap, menumpahkan lumeran coklat di pinggir bibirnya, terlihat belepotan.

“Sica..”

“Aku tahu sulit bagimu untuk melupakannya tapi dia sudah melupakanmu. Dia sudah menikah Taeng! Dengan pria tinggi yang begitu tampan. Aku rasa anak mereka akan menjadi artis suatu hari nan…” Churros lain kini menerobos masuk ke mulut mungil Jessica yang tersedak menerima serangan itu.

“Kau tidak usah menabur garam di lukaku Jung!” Meskipun wajahnya terlihat begitu sedih tapi keimutan itu masih terjaga di wajah Taeyeon.

“Hei.. ada apa ini?” Seorang pria datang mendekati Taeyeon yang terlihat masih marah pada sahabatnya itu.

“Yoongie! Huhuhuhu” dengan tangis palsunya Jessica menghamburkan dirinya ke pelukan sang suami.

“Aku tidak tahu bagaimana dulu dia menyihirmu” Taeyeon bergumam dengan dengan bahasa aliennya.

“Apa yang Noona lakukan Sayang?” Puncak kepala Jessica Yoong elus perlahan penuh cinta dan kasih saying membuat Taeyeon mual.

“Sayang.. Taeyeon memintaku untuk dipertemukan dengan temanmu itu yang kemarin.. dia memaksaku dan menyuapku dengan churros dan ice americanno…” ucap Jessica dengan air mata palsunya yang berhasil dilahap Yoong.

“Juniel?” Jessica menganggukan kepalanya mendengar nama itu.

“Yah!!! Jessica!!!” Senyum 1000 watt itu Jessica berikan pada Taeyeon yang terlihat sangat kesal dengan ucapannya tadi.

“Noona.. kau seharusnya langsung bilang padaku. Sepertinya Juniel juga tert..”

Bragkk!!!

“Kalian berdua….” Ucapan bernada mengancam dan dingin itu terhenti saat sebuah suara yang mengindikasikan pesan baru terdengar. Taeyeon segera berjalan mengambil smartphone-nya, tersenyum membaca balasan teman dunia mayanya.

Saymyname @Stranger3981

@KTY_3989 bukankah kita sudah sering bertemu di alam mimpi?

Penandlove @KTY_3989

@Stranger3981 Aku ingin mimpi itu menjadi kenyataan TOT. Bisakah kau menjadi Genie-ku?

Saymyname @Stranger3981

@KTY_3989 Euhm aku akan memberikanmu pilihan. Bertemu denganku lalu kau takkan bisa berkomunikasi lagi atau tetap berhubungan seperti ini di dunia maya dan tak bertemu denganku? Bijaklah Nona Kim ^_^ Oh ya.. dan ingatlah perjanjian kita dulu.

“Apa ini?” Taeyeon meng-scroll lagi riwayat pertanyaan yang muncul di layar telponnya.

1 bulan sudah berlalu sejak Tiffany meninggalkannya. Sejak saat itu Taeyeon jarang mengecek akun media sosialnya karena disana banyak moment yang ia posting, ia bagikan pada dunia sebagai kebahagiaan yang ia kira akan menjadi selamanya. Di instageram, Snepcet dan  tuitter, banyak sekali foto, video dan ungkapan bahagia, sedih atau kekesalannya pada dunia atau pada Tiffany, kekasih tercinta. Tiffany… dewinya itu, sungguh sulit menghapus semua kenangan dan rasa itu dari pikiran dan hatinya.

Bahkan hingga hari ini Taeyeon masih belum merasakan jiwanya hidup lagi. Setiap hari Jessica, Sunny, Hyoyeon atau Seohyun mengecek keadaannya. Mereka yang dengan sabar mengingatkan Taeyeon untuk kembali hidup, tidak menjadi mayat hidup hanya karena seorang wanita kejam yang tega mencampakkannya begitu saja. Hari berganti dan perlahan luka itu mulai mengering meski belum terobati.

Obat.. ahhh ya obat.

Obat itu muncul di suatu hari yang berangin.

Angin itu seakan membujuk Taeyeon untuk berdiri ke meja kerjanya, menemukan sesuatu yang akan mengubah segalanya.

“Eh apa ini?” kata demi kata mulai Taeyeon baca dari akun ask epemnya.

‘Hei.. mengapa kau tak melanjutkan tulisanmu?’

‘Aku adalah penggemar rahasiamu. Apa kau sedang patah hati? Mengapa cerita terakhir yang kau posting begitu menyakitkan?’

‘Saat kita mencintai seseorang, kita akan menjadi lemah karenanya. Apa kau setuju?’

‘Satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka. Bukankah hidup itu indah?’

‘Dibalik sesuatu pasti ada sesuatu. Semangatlah!’

“Siapa dia?” senyum itu menemani Taeyeon selama ia membaca berbagai pertanyaan dari seseorang yang tak ia ketahui bisa menjadi seseorang yang membantunya bangkit dari keterpurukannya.

 

“Taeng.. lebih baik pilihan pertama.” Jessica menjauhkan wajahnya dari sahabatnya yang mendelik tajam padanya.

“Noona.. aku setuju dengan Sica, tapi kau harus siap menerima konsekuensinya.” Churros itu Yoong makan dari bibir istrinya yang mengecupnya pelan, memberikan senyum nakalnya pada sang suami.

“Ewwhh.. kalian jangan mengotori mataku!” Churros itu kembali melayang ke arah Jessica yang segera diselamatkan oleh pangerannya.

“Noona.. seriously.. kau harus berhenti menganiaya istriku dengan benda senikmat ini.” Yoong melahap donat spanyol itu penuh kenikmatan yang tergambar di wajahnya.

“Kalau begitu berhentilah mengotori jiwa suciku.” Apapun yang ada di mulut Jessica dengan cepatnya tumpah ke lantai.

“Sayang..” Yoong segera menolong istrinya yang terlihat begitu pucat setelah memuntahkan makanan yang ada di mulutnya beserta isi perutnya.

“Sica.. kau hamil?” Muntahan itu kembali terdengar setelah Taeyeon menyelesaikan pertanyaannya.

“Hei kau kenapa?” Taeyeon kini mendekati sahabatnya yang terlihat bertambah pucat. Yoong berlari mengambil air minum dan menghubungi petugas kebersihan untuk membereskan muntahan istrinya.

“Jangan mengatakan hal itu lagi.” Engah Jessica berusaha mengatur nafasnya. Ia meneguk air hangat itu, berusaha mengusir rasa mual dan pusing setelah mendengar ucapan sahabatnya tadi.

“Apa?” tanya Taeyeon pada sahabatnya yang menatapnya horror.

“Jiwa suci. Jangan pernah katakan itu lagi.. Eurgh!” muntahan itu kembali keluar.

“Noona.. ada apa dengan jiwa suci?” Yoong kini yang bertanya pada Taeyeon yang sebenarnya tak mengerti kenapa Jessica bisa sesensitive itu mendengar kata-kata yang baginya tak berarti apa-apa.. mungkin.

“Yoong..” muntahan itu kembali keluar ketika Jessica mengingat kembali tumpukan CD tak bernama di kamar Taeyeon yang disembunyikan di kolong kasurnya. Belum lagi dengan majalah-majalah ‘unik’ yang membuatnya Jessica merasa menyesal telah mencoba menggeledah kamar sahabatnya itu hingga hari ini. Andai saja ia tak melakukan hal itu, mungkin jiwanyalah yang masih suci hingga hari ini.

 

********

“Kau.. masih melihat benda itu?” Bora menghampiri sahabatnya yang tersenyum dalam diamnya membaca kembali surat-surat yang tersimpan rapi di meja belajarnya.

“Euhm..” hanya itu jawaban yang diberikan Tiffany padanya.

“Kau merindukannya?” Bora berdiri di samping sang sahabat yang menyimpan salah satu surat yang tadi sedang ia baca.

“Selalu.” Senyum kecil itu sudah menjawab segalanya. Bora terdiam sebentar memandangi sang sahabat yang kini terlihat lebih kurus.

“Mengapa kau.. menyiksa dirimu seperti ini?” Bora berjalan ke kursi yang ada di depan meja sahabatnya itu sehingga kini mereka sudah saling berhadapan.

“Jika dengan begini aku masih bisa melihatnya.. maka aku akan terus melakukannya.”

 “Eh.. apa ini?” sebuah amplop coklat cukup besar tersimpan di meja belajar Tiffany. Ia ambil amplop itu dan mengeluarkan isinya.

“Wow.. banyak juga..” Tiffany berucap sembari mengatur isi surat di amplop itu yang berurutan.

“Oh ini dia no 1-nya. Mari kita baca!” senyum semangat masih menghiasi ketika Tiffany membaca beberapa kalimat awal surat itu. Senyum itu perlahan menghilang saat kalimat di surat itu mulai mendekati ide utama yang membuat Tiffany terkejut sekaligus heran bagaimana hal tersebut dapat terjadi.

“Tapi tidak dengan seperti ini Tiff” tangan itu coba Bora genggam. Ia ingin membangunkan sahabatnya itu dari semua hal gila yang sedang dilakukannya.

Gila.. ya.. tentu saja ini semua gila.

Bagaimana 2 orang yang saling mencintai bisa terpisah karena surat-surat bodoh yang berlagak seperti Tuhan?

“Lalu apa yang harus kulakukan?” senyum Tiffany adalah hal yang membuat Bora selalu senang melihatnya. Itu terasa begitu ringan dan membuat kebahagiaan itu entah mengapa bisa tersalurkan padanya. Enerji positif serta perasaan menyenangkan itu seperti tertular padanya. Tapi senyum itu kini sudah berubah. Ada kehampaan dan kesedihan yang datang tersembunyi.

“Tiff..” Jika Bora ingat lagi, apa yang dikatakan dalam surat bodoh itu perlahan mulai menjadi nyata.

“Apa aku akan diam saja melihatnya menderita seperti yang surat-surat ini katakan padaku? Apa aku harus membiarkannya menanggung rasa sakit yang mungkin saja bisa membunuhnya lebih cepat dari apa yang perlahan membunuhku saat ini?” Mendengar pendapat sahabatnya itu Bora terdiam. Rasanya mulutnya entah kenapa terkunci. Ia hanya bisa menatapi sahabatnya itu penuh dengan rasa iba dan dan kasih sayang.

“Tapi.. apa kau akan menghabiskan waktumu seperti ini?” keberanian itu kembali menghinggapi Bora. Ia mencoba menyuarakan apa yang ada di pikirannya saat ini.

“Dan membiarkannya mati karenaku?” tak ada yang lebih menyakitkan saat ia melihat Tiffany seperti ini.

Beep… Beep..

Smartphone Tiffany berbunyi. Sang pemilik segera membuka kunci telepon genggamnya itu – membaca pesan baru dari seseorang yang selalu bisa melukiskan senyum yang benar-benar menjadi sebuah kebahagiaan – bukan kamuflase untuk menutupi semua kesedihannya.

“Itu pesan darinya?” ada kebahagiaan lain saat Bora melihat senyum yang ia rindukan itu.

“Euhm.” Anggukan itu memberi tahu Bora bahwa sahabatnya itu terlihat begitu senang mendapat pesan dari kekasih hatinya.

“Apa yang dikatakannya?”

“Dia.. ingin menemuiku.” Senyum itu menjadi sendu entah sejak kapan dan Bora tak suka melihatnya.

“Temuilah.” Kalimat itu begitu saja terucap dari bibir Bora yang dibalas dengan anggukan kepala dari yang diajak bicara.

Benarkah? Oh Tuhan akhirnya!” rasa terengah itu Bora rasakan kembali. Ia memegang kembali tangan sahabatnya yang tersenyum padanya.

“Tentu. Dia akan bertemu dengan pemilik akun ini nanti.”

“Maksudmu?”

“Jikapun ia ingin bertemu denganku, maka Nayeonlah yang akan menemuinya.” Senyum kecil itu Tiffany berikan pada sahabatnya yang terlihat tak bisa berbicara atau berpikir untuk sejenak.

“Kau gila??? Mengapa kau melakukan hal itu?” Nada bicaranya meninggi. Rasanya Bora ingin sekali menampar Tiffany atau memberikan pukulan keras di kepalanya yang sudah mulai keras seperti batu – sulit untuk dibujuk atau dinasehati. Diam cukup lama menghinggapi kedua wanita itu. Yang satu berusaha mengontrol emosinya yang satu lagi berusaha memikirkan alasan yang tepat untuk ucapannya tadi yang tak disangka memancing sahabatnya.

“Bora.. selama aku adalah Tiffany Hwang, maka dia takkan pernah bisa menemuiku, begitupun sebaliknya. Jadi ini adalah yang terbaik” tak ada yang ingin Bora ucapkan setelah mendengar hal itu. Ia berdiri memberikan pelukan singkat sebelum akhirnya pamit dari ruangan sahabatnya itu.

 TBC

 

Advertisements

12 thoughts on “STRANGER (1)

  1. sn

    Gue ya ngeh deh serius sama ini cerita thor. Jadi gimana sih? Ff nya kayak puzzle gitu, kepotong potong tiap part masing masing cast dan itu bikin gue bingung , alurnya ga ngeeehhh gueeeehhh

    Like

    Reply
  2. mestmiracle

    Hais pasti pany gr2 ngerasa ga normal deh ckckc namanya jg cinta, ga mengenal gender dll hahahah
    Trus skrg malah menghilangkan kerinduan jd stranger wkwkwks trus malah mau nyuruh nayeon lg x.x ckckkck ga abis pikir

    Like

    Reply
  3. inngoo

    diantara semua komen,Apa cuma gue yg ngeh sma jlan critanya dsini ??
    Ini authornya kek semacem ngajak maen teka teki gitu yee 😄😄
    Oke dehh di tunggu klanjutannya..

    Like

    Reply
  4. taenggank

    author nim gw harap ff ini tetap berlanjut.
    meski di awal sedikit bingung tp gw ttp penasaran n yakin ini cerita menarik.
    semangat author n tengkyu ud bikin ff yg bener2 menarik.
    gw suka bgt sm tulisan2 author

    Like

    Reply
  5. Kimie

    Apa isi surat itu sih smpai fany bgtu jahat sama tae pdhl saling mncintai,,
    Bagus ceritax walaupun awal baca msih bngung..
    😍😍😍

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s