Step mother (1)

image

HAPPY READING

.

.

” Apakah aku harus mencoba lebih keras? Katakan padaku, aku akan melakukan keinginanmu. Apapun.. yang membuat kau merasa nyaman, aku pasti berusaha. ” wajah Tiffany terlihat serius ketika berbicara pada pria yang duduk di hadapannya, di sebuah restoran siang ini. Sejenak dia diam mengamati perubahan ekspresi di wajah pria itu, tapi tak ada perubahan berarti. Pria itu hanya membisu.

” Kalau begitu, mari kita bertemu besok setelah kau pulang kerja. ” sambung Tiffany.

Pria bernama Choi Jin Woo itu menunduk lalu terdengar helaan nafas panjang darinya sebelum kembali menatap Tiffany. Raut wajahnya sendu. Kemudian dia menggelengkan kepalanya lemah. ” Tidak Tiffany, kita tidak perlu bertemu besok, lusa ataupun hari-hari berikutnya. ” jawab Choi Jin Woo lesu dan melanjutkan, ” Sebaiknya kau segera kembali karena hujan telah berhenti. Aku benar-benar sibuk sekarang. ”

Oppa, chakaman. ” Tiffany mencoba menahan pria itu meski merasa terluka karena menyuruhnya segera pergi. Bukan terluka oleh perkataan dingin pria itu tapi lebih pada perpisahaan itu sendiri. ” Kenapa kau seperti ini? Oppa, kau tidak seharusnya memperlakukanku seperti ini. Aku.. benar-benar tulus padamu. ”

” Maafkan aku. Tapi kurasa takdir kita.. berhenti sampai di sini. ” Tiffany tertegun mendengar ucapan pria itu, tak percaya mendengar kata perpisahan dari pria yang selama ini begitu ia sayangi.

Tiffany menatap Choi Jin Woo dan memohon, ” Andwae! Oppa jebal…

” Berulang kali aku berpikir dan mencoba untuk mempertahankanmu di sisiku tapi sekarang aku tidak bisa. Aku sungguh menyesal. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. ”

” Tapi kenapa? Kau tidak bisa melakukan ini padaku. ”

” Maafkan aku, tapi kita hentikan saja. Aku sungguh minta maaf. ” Choi Jin Woo bangkit, bersiap pergi.

Wae? Apa karena selama ini aku tidak cukup baik untukmu? Atau kau sudah menemukan seseorang lagi dan berkencan dibelakangku? ” dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, Tiffany berusaha tak menangis. Dia mendongak, memberanikan diri menatap wajah pria yang hari ini telah mencampakkannya. ” Itukah alasan oppa mencampakkanku? Aku..- ”

” Aku tidak mencintaimu Tiffany, ” Jin Woo menyela, suaranya tegas dan begitu menohok telak ke jantung Tiffany hingga gadis itu merasa dadanya nyeri sekali.

M-mwo?

Choi Jin Woo lalu memejamkan mata sejenak kemudian mengarahkan tatapannya kembali pada Tiffany. Sekali lagi dia mengambil nafas panjang, terlihat sudah letih dengan hubungan yang telah ia jalani bersama Tiffany selama satu tahun ini. ” Aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padamu, itulah kenapa kita harus berhenti. ” ucapnya. Tiffany terdiam, membisu seperti orang bodoh. Ia bahkan tidak melihat pada Jin Woo lagi. Ia terfokus pada satu titik, namun otaknya sedang mencerna kenyataan ini.

” Karena itu jangan terlalu lama menyimpan kenangan diantara kita. Kau harus bertemu seseorang yang lebih baik dariku, segera lupakan aku dan jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal, Tiffany. ” dan pria itu meninggalkan Tiffany dengan sebuah kalimat yang membuat dada Tiffany terhempas ke jurang. Lalu punggung Jin Woo menghilang dari pandangan Tiffany, membuat air mata gadis itu tak bertahan lebih lama. Tiffany pun menangis, menangis dalam diam.

Hanya beberapa saat, Tiffany beranjak keluar dari restoran menuju halte. Kali ini dia bertekad pergi sebelum dia lebih hancur lagi. Berdiri di trotoar, ia mendongak, memandangi langit biru. Sebuah pohon rindang menutupi cahaya  matahari yang membakar kulit wajahnya. Tiffany memejamkan mata. Namun saat ini dia merasa hatinya sakit dengan hanya sendiri. Tiffany tak tahu, haruskah dia berusaha lebih keras dan tak menyerah seperti ini? Tapi Tiffany lelah. Ia ingin menikmati hidup damai sekalipun dirinya di takdirkan tidak hidup bahagia seperti mimpinya, bersama pria tampan impiannya.

Drrrt…

Kemudian terdengar dering ponsel ketika seseorang menelponnya. Tiffany membuka mata kembali, menghapus kasar air matanya dengan punggung tangan dan berusaha tak terlihat menyedihkan di depan ayahnya. ” yeobose-yo.. ”

” Ah maaf, tapi.. apa kau mengenal pria pemilik ponsel ini?  “

N-ne? Wae-yo? ” tanya Tiffany. Namun ketika seorang pria di telpon itu mengatakan sesuatu, seketika tangan Tiffany terkulai lemas. Dia tak dapat menahan air matanya dan Tiffany sangat terpukul atas apa yang di hadapinya saat ini. Tangis gadis itu pecah, Tiffany menangis keras dan terus menangis hingga tangisnya terdengar begitu menyakitkan.

Dan seseorang dibalik kemudi SUV hitam yang terparkir di seberang jalan tengah berdiam diri untuk mengamati segala hal yang Tiffany alami. Dia tak beranjak sejak kedatangan Tiffany di restoran untuk bertemu Choi Jin Woo. Kilauan matanya tajam, dan tak ada jejak senyum di bibir orang itu.

.

.

BrekingNews :

” Salah satu perusahaan kontruksi di korea, Sowon Group terancam bangkut. Telah diketahui bahwa harga saham perusahaan tersebut terus mengalami kemerosotan harga di bursa saham. Tewasnya Presdir Sowon Group kemarin, Joseph Hwang akibat insiden kebakaran menyebabkan perubahan signifikan dalam perusahaan.

Hingga kini belum diketahui apa penyebab kebarakan dalam gudang tersebut karena masih dalam tahap penyelidikan polisi. Namun dampak kejadian ini mengakibatkan proyek-proyek baru yang tengah dikerjakan harus dihentikan. Diperkirakan Group Sowon mengalami kerugian yang cukup besar karna hal itu. “

.

.

Tiffany melepaskan kacamatanya. Mata merahnya mulai terlihat dan sangat basah. Dia mengelap air matanya dengan ibu jari dan telunjuknya lalu ia menarik nafas dalam-dalam. Apa yang bisa dia lakukan sekarang tanpa ayah yang selama ini menjadi orang satu-satunya yang dia miliki sebagai keluarga? Tiffany menengadahkan kepalanya agar air matanya tak mengalir lagi, dan menghela nafas panjangnya.

Benar-benar sulit dipercaya bahwa seorang Tiffany Hwang yang terbiasa terlihat ceria dan penuh semangat akan menangis sesedih ini. Tapi sekuat-kuatnya seseorang, dia pasti memiliki kelemahan. Tidak ada manusia yang sempurna, semua orang tahu itu.

Sore ini gadis itu masih berdiri di tempat pemakanan karena kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya, tanpa mendapat kesempatan bertemu sang ayah untuk yang terakhir kalinya. Bayangan ayahnya saat sibuk menyiapkan makanan, saat menemaninya sarapan, lalu saling bercengkrama, bahkan ketika memberinya pelukan hangat sebelum ia berangkat kuliah seperti pagi-pagi sebelumnya, masih mengalir deras dalam ingatan Tiffany. Melihat ayahnya saat itu yang begitu bahagia, itu semakin membuat hati Tiffany seperti terhempas. Kabar jika pria yang hangat itu meninggal dalam sebuah tragedi kebakaran di perusahaan, hidup Tiffany seakan ikut mati.

” Tiffany hari mulai petang, sebaiknya kita kembali. ”

” Tapi bibi, a-aku.. a-ayahku- ”

Ssst.. aku tahu sayang. Kau harus istirahat, sejak kemarin kau terlihat pucat dan lemas. Kuatkan dirimu, ne..?  ” kakak perempuan dari ayah Tiffany itu mengusap lengan keponakannya penuh kelembutan, berusaha memberi sedikit penguatan meski sebenarnya dia sendiri tidaklah jauh berbeda. Mereka masih sama-sama rapuh.

” Bibi, aku belum ingin pergi. ” Tiffany melanjutkan.

” Tidak baik jika tetap berada disini. Ayahmu pasti sedih jika kau sampai jatuh sakit. Kajja.. ” pinta bibi Tiffany, dan Tiffany menoleh, menatap kesedihan yang sama di mata wanita itu sebelum akhirnya dia menggangguk lemah menerima ajakan bibinya untuk meninggalkan pemakaman.

Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Tapi belum jauh melangkah, sejenak Tifany menahan langkahnya. Dia merasa ada seseorang yang mengawasi di balik punggungnya. Tiffany menolehkan kepalanya dan ketika matanya menangkap sosok tubuh mungil dengan balutan kaos polo putih dibalut jaket hitam berada di koridor yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Tiffany merasa terusik. Keningnya berkerut. Di depannya sana, ada seorang wanita yang tengah mengawasinya dengan mata tajam. Tiffany tak bisa membaca ekspresi gadis muda itu karena jarak mereka yang lumayan jauh. Tapi Tiffany tahu jika wanita itu terus memperhatikannya karena sesuatu hal.

Wae? ” tanya bibi penasaran.

Tiffany menatap bibinya lagi lalu menggeleng, ” Oh, aniyo. Ayo pergi, bi.. ” jawab Tiffany cepat dan keduanya kembali melanjutkan langkah mereka. Beberapa saat Tifany menyempatkan untuk  melihat sesosok wanita tadi, namun di tempat yang sama sudah tak ada siapapun lagi.

.

.

Malamnya, Tiffany meringkuk diatas sofa sambil memeluk perutnya. Matanya sembab karena saat kakinya kembali menyentuh lantai rumahnya, air matanya menetes sampai jam makan malamnya ia lewati. Ia tak merasa lapar sekarang. Dia hanya membutuhkan ibunya, atau ayahnya. Cukup pelukan mereka, atau usapan tangan hangat mereka, bahkan jika sekedar suara mereka saja yang memanggil namanya, Tiffany sudah sangat bahagia. Atau setidaknya Choi Jin Woo.

Dadanya benar-benar sakit sekarang. Namun pria itu pun tidak menghubunginya sepanjang hari ini. Bahkan setelah ia kehilangan sang ayah. Tapi, lagi pula Tiffany memang tidak mengharapkan Jin Woo menghubunginya. Sekarang semuanya sudah terlihat jelas jika Jin Woo tidak ingin lagi bersama dengan dirinya. Kenyataan jika pria itu tidak menyukainya, maka begitu juga dengan dirinya sekarang. Karena itu, ia tahu apa yang harus dilakukannya dalam waktu dekat ini. Dan keinginannya untuk menjauh dari pria itu semakin bulat. Tiffany menghapus air matanya. Saat air matanya tersentuh, ia mengerang kesakitan karena perih.

Appa. Eomma.. aku ingin bersama kalian. Kumohon.. jangan tinggalkan aku sendiri.. ” pinta Tiffany, dia berbicara lirih seakan ayah dan ibunya bisa mendengar rengekannya. Namun yang tersisa di rumah gadis itu hanyalah rasa sepi dan hampa.

Haruskah aku pergi menyusul mereka?

Tiffany menarik bibirnya untuk tersenyum, namun itu hanyalah senyuman putus asa. Rasanya pahit sekali. Kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa kecil yang terdengar getir. Tidak, mereka pasti tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi apa yang bisa dia lakukan seorang diri dan mengisi kehidupnya tanpa kasih sayang seorang ayah dan ibu? Tiffany menggigit bibirnya dan kembali menangis tanpa suara.

Di saat seperti ini Tiffany benar-benar berharap ada sebuah keajaiban. Hingga matanya mulai terasa berat, seakan sudah lelah dengan semua pikirannya. Kali ini dia ingin menutup mata dan terbangun esok hari dengan menemukan ayahnya berada di dapur sedang memasakkan sarapan untuknya. Tapi.. tiba-tiba seseorang membunyikan bel rumahnya, tepat sebelum mata Tiffany terpejam sepenuhnya.

Tiffany kembali mengusap air matanya lalu menegakkan tubuhnya dan pergi menuju pintu dengan langkah berat. Siapa orang nekat yang mengunjungi rumahnya di tengah malam seperti ini? Sejenak Tiffany ragu, takut jika nanti ada seseorang yang berniat jahat. Perlahan ia mendekati layar intercom dan dilihatnya sosok wanita muda, seorang wanita yang asing berdiri di depan pintunya. Tapi siapa?

” Permisi, a-apa ada orang di dalam? ” suara gadis itu yang gemetaran menahan dinginnya malam membuyarkan lamunan Tiffany di balik pintu. ” Chogi-yo~ “

D-duguse-yo? ” Tiffany bertanya melalui alat itu.

” Aku… eumm, bisa kau buka pintunya lebih dulu? M-maafkan aku tapi diluar sangat dingin. “

Tiffany menyerngit, namun meski diliputi perasaan heran dan was-was, dia membuka pintu rumahnya. Ketika pintu telah terbuka, dengan jarak sedekat itu Tiffany bisa melihat wajah seputih salju dan cantiknya gadis itu. Tiffany menegakkan dagunya, berusaha bersikap berani menghadapi mata gelap gadis itu yang tajam. Namun sepertinya gadis itu tak terlalu asing. Lalu dimana mereka pernah bertemu? Seingat Tiffany inilah kali pertama mereka bertatap muka. Tiba-tiba sekelebat bayangan wanita muda yang mengawasinya di pemakaman sore tadi terlintas kembali. Tiffany menyerngit, tapi… siapa wanita ini? Pertanyaan itu kembali muncul di benak Tiffany.

Dengan nada selidik Tiffany bertanya pada sosok wanita misterius itu, ” Dangsineun, nuguse-yo?

N-nan… Kim Taeyeon imnida. ”

Ye? Geuraeseo..?

Na.. neo eommeoni, Tippany-ssi. ”

Tiffany terdiam kaget di tempatnya. Menatap mata hitam wanita itu yang memancar sorot tajam tapi juga lembut. Apa? Ibunya? Apa ini? Kenapa wanita ini tiba-tiba menjadi ibunya? Tiffany merasakan kepalanya seperti dihantam benda keras. Dia menggeleng lemah. Itu tidak mungkin. Tapi.. jika dia adalah ibunya, itu berarti ayahnya telah berkhianat selama ini? Mengkhianati ibunya? Yang juga, itu berarti mengkhianiti dirinya?

Saat Tiffany masih tercengang, senyum wanita itu bertambah lebar, terlihat raut wajah yang senang karena bertemu Tiffany. Namun wajah Tiffany semakin memucat. Lidahnya kelu ketika ingin berbicara. Dia menyipitkan matanya, mencengkram keningnya kuat-kuat saat nyeri di kepala Tiffany seakan bisa meledakkan kepalanya sebentar lagi. Jadi penderitannya belum usai? Tapi dia sudah lelah sekarang.

Gwaenchana-yo? Tippany-ssi…? ” panggil gadis itu.

Dan suara itu.. dia memanggilku dengan suaranya yang super lembut. Membuat pandanganku pada wanita itu goyah. Kakiku bagai agar-agar yang tak bisa bertumpu pada tempatnya. Akhirnya.. aku jatuh, tenggelam dan terdiam dalam kegelapan.

.

.

.

.

* * *

Advertisements

56 thoughts on “Step mother (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s