Hypnotized (onsehoot)

image

Author : fofo
Genre : romance, sad
Cover by : @_snsdtaeny

HAPPY READING

Apa kau tahu?

Kamu sudah menjadi segalanya bagiku.

.

.

Taeyeon Pov

” Sepertinya hujan akan turun. ” ujar gadis itu. Sooyoung menatap kosong keluar jendela lalu diikuti helaan nafas beratnya. Tampaknya masalah dengan kekasihnya membuat harinya porak poranda, seharian ini dia tidak fokus bekerja.

Aku kemudian mengikuti arah pandangnya. Jalanan tampak lenggang sore ini, diluar sana terlihat gelap. Matahari yang tadi menunjukkan sinar teriknya kini menciut tertutup awan pekat yang sangat tebal. Sudah pasti hujan lebat akan turun sebentar lagi. ” Khaah~ ” aku ikut menghela nafas. ” Aku benci jika hujan benar-benar datang. ” gumanku.

” Kenapa? ” Sooyoung menoleh.

” Karena aku harus pergi, ada pertemuan dengan manager White Group dua jam lagi. ” aku beranjak dari kursi. ” Habiskan saja makan siangmu dan jangan melamun lagi. ”

” Ya, aku akan berusaha. ” dia mendongak, menatapku dengan senyum yang terkesan dipaksakan. ” Gomawo.. aku sedikit lebih baik sekarang. ”

Aku mengangguk lalu menepuk bahunya, memberi semangat sebelum meninggalkannya. ” Aku pergi. ” pamitku dan setelahnya kakiku mulai bergerak menjauh, meninggalkan Sooyoung dengan wajah yang masih sama muramnya dengan beberapa menit lalu. Dengan setengah berlari aku keluar restoran dan menuju mobilku yang terparkir rapi di luar. Ketika sampai di dalam mobil kusempatkan menengok langit, awan kelabu semakin menyebar menutupi kota Seoul.

Seakan berlomba dengan cuaca, aku bergegas menghidupkan mesin mobil dan segera melajukannya. Aku tidak suka hujan membasahi setelan jas mahalku. Tapi belum lama mobilku membelah lalu lintas, langit gelap sudah mencurahkan hujan dengan sangat derasnya.

” Sial! ” aku mengumpat kesal. Kembali aku menghela nafas panjang. Mau tak mau kecepatan sedikit kutambah meski air menutupi jalanan dan membuatnya licin. Suara dentuman hujan yang menabrak kecepatan mobilku dan aroma basah hujan membuat suasana semakin muram.

Aku tidak menyukai hujan.

.

.

Setelah belokan terakhir menuju perusahaan White Group aku merasa udara kian dingin dan jarak pandang berkurang karena derasnya hujan. Terpaksa laju mobil kubuat lambat. Mataku berusaha fokus menatap lurus ke depan tapi dari kejauhan, diujung sana sesuatu mengusik penglihatanku. Seiring mobilku yang berjalan mendekat, kulihat sesosok tubuh di tepi jalan. Dia berdiri ditengah hujan.

Hal yang mengganggu mataku itu menimbulkan rasa penasaran yang kuat. Aku semakin memelankan laju mobilku. Ketika mobilku didekatnya, aku baru menyadari bahwa sosok itu adalah seorang gadis.

Gadis itu mendongak, merentangkan kedua tangannya ke samping seakan menyambut tetesan dingin air hujan. Dan laju mobilku seperti merangkak ketika melewati gadis itu, mataku tak lepas darinya. Aku yang harusnya fokus mengemudi menjadi berpusat padanya. Gadis yang mematung di bawah barisan hujan itu sungguh menarik.

Mataku tak beralih meski mobilku perlahan menjauh. Dari kaca sepion aku melihat mata gadis itu masih terpejam, menikmati hujan. Bibirnya menyunggingkan senyuman luar biasa indah. Wajah mungilnya terbingkai rambut hitam panjang yang basah. Dia tampak luar biasa saat tetesan-tetesan hujan membias dari kemeja putih yang dia kenakan.

Gadis itu bagaikan dewi hujan yang indah ditengah suramnya langit. Dan tiba-tiba, sesuatu yang asing bergetar di dalamku, pada hatiku.

Aku menggeleng lemah, berusaha kembali fokus menyetir seiring bayangannya yang menjauh hingga menjadi titik kecil lalu hilang dari mataku. Kuinjak sedikit lebih dalam gas mobil agar meleset cepat. Namun kilauan cahaya terang tiba-tiba menyilaukan indra penglihatanku. Aku terbelalak dan tubuhku membeku sesaat sebelum sebuah truk yang oleng menerjang mobilku dari arah berlawanan. Lalu…

Tiiiiinnn~~~!!!

Bruaak!!

Hanya itu suara-suara keras yang terngiang di gendang telingaku sebelum akhirnya hanya ada kegelapan dan keheningan yang mengekangku. Aku pasti sudah mati.

* * *

.

.

Ketika mataku yang begitu berat terbuka, aku mendengar suara decitan pintu terbuka. Aku terbangun dengan kepala berat dan nyeri. Secara perlahan mataku terbuka dan samar kudengar suara langkah kaki mendekat. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, berorientasi dengan cahaya terang dari lampu yang menusuk penglihatanku. Rasanya silau.

” Kau sudah bangun? ” masih samar, aku mendengar suara seseorang yang mengalun lembut. Aku menoleh keluar jendela dan hari sudah pagi. Pagi ini masih sedikit mendung, terdapat embun-embun menembel di jendela dan genangan air sisa hujan deras kemarin sore.

Sudah pagi? Apa ini? Kenapa aku ada di rumah? Alisku membentuk kerutan, kebingungan tergurat jelas saat menyadari aku keberadaanku. Ada sesuatu yang asing ketika aku terbangun di kamarku pagi ini. Rasanya sungguh aneh.

” A-apa yang terjadi? Aku..! bukankah aku-? ” suaraku yang keluar serak khas orang bangun tidur tapi ucapanku menggantung takkala mataku menangkap orang asing duduk diranjangku, dan dia menatapku. Alisku kembali berkerut, ” D-duguse-yo? ” tanyaku sopan dan mata gadis itu menyipit tajam.

Mwo? Nugu?? Aissh! Makanya jangan minum soju lagi agar kepalamu tidak kacau! ” bentaknya membuatku terlonjak kaget. ” Bisa-bisanya kau tanya siapa aku. ” gerutunya dengan wajah kesal.

Dahiku menyerngit, kerutanku tergurat semakin dalam. Aku sungguh tidak mengerti dengan yang terjadi padaku. Seingatku aku bergegas untuk bertemu mitra bisnis di saat hujan turun kemarin sore dan setelah itu aku…. KECELAKAAN!!

Aku terlonjak, duduk secara tiba-tiba lalu menggerayangi tubuhku dari ujung rambut hingga kaki. Mataku terbelalak menyadari tidak ada rasa sakit atau luka-luka bekas tabrakan di tubuhku, selain rasa pusing yang mengganggu. Bahkan baju yang kukenakan tetap sama dari hari kemarin. Lalu..? Apa yang terjadi?? Bagaimana bisa aku disini?

” Ini, mimunlah dulu. ” lamunanku terhenti saat tangan gadis itu mengulurkan segelas air madu padaku.

Mataku beralih cepat kearahnya dan detik itu juga aku kembali terbelalak. Betapa terkejutnya saat aku menyadari jika gadis di tengah hujan kemarin sore kini dia berada di kamarku, dihadapanku. Mulutku menganga tak percaya.

” Kenapa kau ini? Ya~! Berhenti bersikap aneh dan menatapku seperti itu. ” ujarnya ketus lalu telapak tangannya yang hangat menarik tanganku agar menggenggam gelas yang ia bawa. ” Cepat minum dan segera keluar, sarapan sudah siap. Bergegaslah atau kau bisa terlambat bekerja. ”

Aku masih membeku. Menatap mata indahnya yang memiliki bulu mata lentik, dia tak kalah cantiknya ketika tidak dibasahi hujan. Rambut hitam panjang bergelombak yang tergerai membingkai wajah putihnya, sungguh cantik.

Yeoboo~! ” bentaknya lagi dan terlihat penuh emosi. Sedangkan aku terlihat kebingungan, rasanya ini tidak nyata. ” Suamiku!! ”

Ne? ” sahutku lirih. Tapi seperti ada sambaran listrik ribuan volt menghantam tubuhku, aku terbelalak sempurna. “ MWO??? SUAMII!?? ” aku menaruh gelas di nakas dan menarik tubuhku dari ranjang. ” S-ss-ssuami?? ” bibirku gemetaran saat menanyakan status itu. Astaga, aku adalah pria lajang!

Aigoo~ berhenti berakting. Cepat bangun dan sarapan. ” ia beranjak berdiri dan akan keluar kamar tapi segera aku menangkap pergelangan tangannya. Aku butuh penjelasan lebih dari ucapan yang baru saja keluar dari bibirnya.

” Suamimu? Aku??? ” aku menunjuk diriku sendiri dengan sangat tidak percaya.

” Ya. ” jawabnya singkat, datar dan.. penuh penekanan. Dalam hitungan detik mataku nyaris meloncat keluar karena terkejut. Sangat sangat sangat terkejut!

MWORAGO!!?? Aku suamimu?? ” aku terperangah, sangat sulit menelan ludahku sendiri yang tercekat diujung tenggorokan. Pahit, itulah rasanya.

” T-tunggu! Ini tidak mungkin. Apa maksudmu memanggilku seperti itu? Suami? Hah!? Apa-apaan kau ini! Siapa kau sebenarnya? Astaga! Ada apa sebenarnya denganku? Bagaimana bisa dalam semalam aku punya istri!? Nona, aku bahkan tidak mengenalmu! ” aku mencercanya dengan pertanyaan bertubi-tubi, mengatakan apa saja yang terlintas di kepalaku.

Tck! Itulah sebabnya aku membenci orang yang suka mabuk-mabukkan. ” kedua lengannya bersendekap di depan dada, lengkap dengan tatapan mengintimidasi. ” Lihat ini. ” dia mengarahkan kelima jarinya kewajahku, menunjukkan benda berkilau yang melingkar di salah satu jarinya. ” Bukankah kau juga memilikinya? ” sebelah alis gadis itu terangkat ke atas.

Segera aku mengangkat tanganku. Dan… Apa?? Yang benar saja! Cincin emas berhias permata kecil warna merah juga melingkar di jariku. Itu artinya???

Omo! Omo! ” kepalaku bertambah berat dan benda-benda yang kulihat disekitarku terasa berputar-putar, memusingkan. ” Ya Tuhan, ada apa ini!? ” aku memegangi kepalaku dan menjambak frustasi rambutku.

Aigoo, kiyowo~ Kau sama sekali tidak berubah. ” dan disaat seperti ini bisa-bisanya dia terkekeh begitu manisnya. Astaga~~!!

Gidar-yo! ” dengan sedikit gemetar tangan kokohku mencengkram lengannya dan mendorong tubuh mungilnya hingga lebih dekat padaku. Bisa kurasakan hembusan nafas teratur gadis itu menerpa permukaan kulitku, mengirim sinyal-sinyal aneh pada dadaku. Dan wajah cantiknya tampak tenang, sungguh berbeda denganku yang sangat kacau.

” Tidak! Pasti ada yang salah. Aku belum menikah dan aku tidak mengenalmu. ”

” Taeyeon-ah lepaskan aku. ” dia memberontak tapi dengan gerakan cepat aku berhasil megurung gadis itu dengan lebih erat.

” Jelaskan padaku. Bagaimana bisa kau mengenalku dan mengaku sebagai istriku? Kau pasti penipu, benarkan!!? ” bentakku menuntut kebenaran.

” Kepalamu pasti sudah diracuni alkohol sampai bertanya siapa aku. Geure, kalau tidak percaya aku ini istrimu tanya saja keluargamu atau teman-temanmu. ” aku memandangnya dengan serius. Tiba-tiba wajahku pucat ketika melihat matanya, aku menemukan kesungguhan di sana.

Maldo andwae! ”

Aagh! Taeyeon-ah apa! ” Menyadari dia kesakitan, aku mengendurkan cengkramanku lalu dia terlepas.

Kakiku merangsek mundur, bola mataku bergerak tak tenang. Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha tenang dan mengingat semuanya tapi beberapa ingatan melayang entah kemana. Dan kepalaku tetap pening meski rambutku kucengkram kuat-kuat. Sungguh tidak mungkin!

Yeoboo~

” Tidak, ini tidak mungkin! ”

” Kim Taeyeon.. ” kurasakan tangan halus menyentuh pipiku, rasa hangat itu memaksaku menatap manik hitam matanya. ” tenanglah.. jika kau panik kau bisa sakit kepala dan aku tidak ingin kau sakit. ” suara lembutnya membius kegusaranku. Seperti sihir, nafasku berangsur normal hanya karena sentuhannya.

” Itulah sebabnya aku memintamu tidak minum-minum. Kau selalu seperti ini setelah mabuk. Kau tahu.. aku sangat mengkhawatirkanmu dan juga marah padamu. ”

” Tapi- ”

Ssstt.. ” dia menangkupkan kedua telapak tangannya diwajahku dan seketika darahku berdesir cepat, memompa jantungku lebih kuat hingga membuatnya berdegub kencang tak beraturan. Wajahku mungkin sudah merah padam karena jarak kami begitu dekat.

” Aku tahu kau bingung, tapi aku milikmu yeoboo. ”

” Aku.. istrimu. ” dan ucapan gadis itu sukses membuatku berhenti bernafas, saat itu juga.

.

.

Siang ini aku duduk termangu di ruang kerja dengan kondisi kacau. Aku membutuhkan waktu dan tempat untuk menenangkan diri setelah petir menyambar duniaku di pagi buta. Hanya dalam semalam aku adalah suami dari gadis yang tak kukenal, bahkan dia mengaku tinggal serumah denganku selama 2 tahun ini.

Konfirmasi?

Tentu saja sudah kulakukan! Eomma, Appa, Sooyoung, rekan kerja, tetangga, bahkan surat pernikahan. Dan semua mengatakan jika aku memang terikat dengan gadis itu, Hwang Miyoung.

Mungkinkah aku amnesia? Tapi kecelakaan itu tidak membuatku babak belur. Kepalaku menggeleng dengan gusar. Aku bingung karena tak tahu harus bagaimana lagi. Aku merasa asing dengan tempatku tinggal dan juga hidupku sendiri. Sungguh aku merutuki keadaan saat ini.

Khaah~ ” aku mendesah pelan dan tertunduk lesu. ” Bagaimana bisa ini terjadi padaku? ” aku berguman sendiri. Baru saja aku akan bersorak gembira karena promosiku sebagai Direktur tapi sekejap rasa bahagia itu lenyap setelah kejadian aneh ini datang, dan mengacaukan semuanya. Mataku kemudian menatap penuh tanya pada cincin di jari manisku. Terlalu banyak bukti untuk mengabaikan statusku sebagai suaminya.

Ceklek!

Pandanganku beralih saat pintu terbuka dan seseorang memasuki kantorku.

” Astaga! Dia lagi? Aiishh. “ keluhku dalam hati.

” Suamiku~~ aku membawakan makan siang untukmu. ” dia menenteng tas kecil berisi kotak makan. Dia menyingkirkan beberapa dokumen penting yang terbengkalai diatas meja lalu meletakkan makanannya tanpa permisi. ” Aku membuat makanan kesukaanmu. Kau pasti lapar, kan? ”

Ne? Aigoo~ kenapa kau kemari? Kenapa membawa ini? Aku tidak lapar dan aku juga tidak biasa makan di kantor. ” jawabku cepat.

Mwo? Apa maksudmu adalah memintaku membawa ini kembali setelah istrimu jauh-jauh datang kemari? Omo! Bagaimana bisa kau lakukan ini padaku? ”

” I-itu.. bukan begitu. Hanya saja aku tidak terbiasa. Maafkan aku, tapi aku tidak lapar. ”

Hiks.. padahal aku sudah bersusah payah memasak untukmu. Jika kau tidak suka aku datang tapi setidaknya jangan mengabaikan makanan! Kau kejam padahal aku ini is- ”

” Iya-iya baiklah! Kalau begitu biarkan saja disitu, aku sedikit lapar sekarang. ” cepat-cepat aku memotong ucapannya, aku tidak mau mendengar ada wanita marah-marah dan menangis di kantorku. ” Terimakasih untuk makanannya tapi sekarang pulanglah, oke? ” pintaku, suaraku melembut.

” Tapi.. ”

” A-apa? ” tanyaku penuh selidik.

” Aku… ” dia menaruh sikunya di atas meja dan mencodongkan badannya ke depan hingga bisa kulihat belahan dada seksinya yang tersaji di depanku. Tapi wanita itu terus bergerak mendekat, nyaris menutup jarak yang tersisa diantara kami. ” bisakah aku meminta sesuatu darimu sebagai imbalan masakanku? ”

Aku diam. Mataku terkunci oleh tatapan lembutnya yang berusaha melelehkan hatiku. Bisa kujelajahi sudut-sudut wajahnya yang putih bersih dengan make up minimalisnya dari jarak dekat. Bibir tipisnya yang diolesi pink lipstik sungguh menawan. Dan sekarang bibir itu tertarik keatas, membingkai senyuman sehangat matahari di pagi hari dan itu mengusikku, menghipnotisku dengan sempurna. Kurasa jantungku kembali berhenti berdetak saat memandanginya sedekat ini.

” Suamiku.. ”

” Eoh? ” aku merinding karena suara sialan seksi gadis itu mengganggilku dengan sebutan suami. Punggungku lalu kutarik menjauh, ” K-kau minta a-apa? ” tiba-tiba aku terbata. Aku gugup karena mata hitamnya menembus dalam ke mataku.

”ย Kissue~ ” jawabya, berbisik ngeri dengan nada manisnya yang menggoda.

M-mwo? ” sungguh tidak bisa di percaya! Kurasa jantungku berdetak kembali bahkan lebih cepat saat melihatnya menyeringai evil seperti predator memburu mangsanya.

” Kau tidak mau? ” tanyanya dan suara itu begitu menggoda.

Tentu… Tidak! Sadarlah Kim Taeyeon! Mungkin ini sejenis jebakan dari rubah!! Dan aku bukan gadis mesum!

” Taeyeon~ah~~ ” dia memanggil namaku dengan nada manja, membuatku bulu kudukku meremang. Astaga, wanita ini sungguh seksi.

” M-miyoung-ssi.. ” panggilku lirih, aku mendesah pelan. Entah kenapa aku tertarik untuk ikut mencondongkan badan ke depan. Wajah kami hanya berjarak tak lebih dari lima centi sekarang. Aku bergerak perlahan, mendekatkan mulutku ke telingannya. ” Tidak. Aku harus bekerja. ” bisikku, kubuat cara bicaraku setenang dan sedingin mungkin, yeah~ meskipun aku sedikit tergiur untuk melototi selain garis di dada gadis itu yang menantang di hadapanku. Kemudian aku menjauhkan kembali badanku darinya.

Dia ikut mendesah. ” Kalau begitu jangan lakukan! Makan saja bekalnya dan nanti jangan pulang terlambat. ” ucapnya seiring tubuhnya yang kembali tegak, tampaknya dia marah. Tapi aku hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Aku sungguh tak terbiasa dengan semua keanehan ini. Bahkan saat dia menapakkan kaki keluar ruangan aku masih diam dan mengangamati punggungnya hingga menghilang.

Khaaah~ ” aku menghembuskan nafas lega. Kutepuk-tepuk dadaku yang bergejolak tanpa kendali. Gadis itu membuatku gila.

* * *

.

.

Keesokan harinya…

Saat memasuki rumah aroma makanan merebak membangkitkan seleraku, rasa lelah setelah bekerja lembur membuatku lapar. Aku melirik jam dinding dan baru sadar jika sudah jam sebelas malam. Tck! Pantas saja aku lapar.

Aku pun bergegas mendekati meja yang penuh makanan dengan tak sabaran. Namun ditengah jalan langkahku mendadak tertahan. Mataku terarah pada sofa di ruang tamu. Tiba-tiba rasa bersalah menyergapku begitu cepat. Perasaan itu datang karena gadis itu meringkuk tak nyaman tanpa selimut, tertidur di sofa dan terlihat lelah.

” Apakah dia menungguku? Tapi kenapa? “ batinku. Aku sungguh tidak menyangka dia akan menantiku untuk makan malam.

Aku mengurungkan niat untuk mengunjungi meja makan dan berbalik mendekati sofa. Aku mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke kamar. Sampai di ranjang kubaringkan tubuhnya yang ringan secara hati-hati, aku tak mau gadis itu terbangun dan ku selimuti dia hingga sebatas dada karena kulitnya yang sedingin es. Aku tidak akan tega jika dia jatuh sakit karena diriku. Setidaknya aku tidak sejahat itu.

Akan tetapi setelah itu aku menjadi enggan beranjak pergi. Harusnya aku tidur di sofa ruang tengah seperti kemarin malam tapi kini aku hanya duduk diam diujung ranjang, memandangi lekat gadis itu. Melihatnya sedang tidur aku tersenyum diam-diam. Dia begitu manis saat tidur.

” Rasanya aneh ketika ada seseorang yang menungguku pulang. Sungguh aneh. ” aku berguman, suaraku yang keluar nyaris seperti bisikan di tengah malam.

” Maaf aku pulang terlambat. ” sambungku, tanpa melepas tatapanku padanya. Tanganku kemudian tanpa sadar terulur ke wajah Miyoung, aku ingin menyentuhnya, menghangatkan kulitnya yang dingin.

DEG~ DEG~

Omo! Dan suara itu lagi-lagi mengusikku, berdetak kuat seperti mesin rusak. Aku menelan ludahku sendiri saat tanganku hanya menyisakan jarak beberapa centi lagi. Deguban itu pun kian menguat. Getaran di dalam dadaku telah menggoyahkanku untuk tetap menjaga jarak dengan wanita ini.

Tapi, mendadak seperti ada yang menahanku untuk menyentuhnya. Aku berhenti ditengah jalan, jariku akhirnya hanya menari-nari diatas angin ketika aku berada diantara kebimbangan. Aku pun menarik tanganku kembali, tidak jadi menyentuh wajahnya.

Tidak! Perasaan seperti ini tidak boleh ada! Sebelum aku yakin dia istriku maka tidak boleh ada perasaan seperti ini. Bukankah api yang mulai membesar harus segera dipadamkan? Lagipula perasaan ini juga tidak mendasar.

” Benar! Hal yang terpenting adalah menguak kebenaran. Aku tidak boleh menyerah karena aku yakin gadis ini bukan siapa-siapa. ” aku menarik pantatku, bersiap istirahat di luar.

Andwae! H-hajima~ ” dia mengigau dan kepalanya bergerak gelisah. Kulihat keningnya mengkerut, bintik-bintik keringat dingin muncul di dahinya. Sepertinya dia sedang bermimpi buruk. Tangannya kemudian terjulur seakan hendak meraih sesuatu. “ A-andwae~ haji..ma-

” Miyoung-ssi.. neo gwaenchana? ” aku menepuk lembut lengannya, berharap dia tidur lebih tenang. Tapi tangannya tiba-tiba mencengkramku lalu menarikku hingga aku terdorong kearahnya. Aku bahkan nyaris mencium pipinya! Dengan segera aku menarik tubuhku agar kembali duduk tegak. Sayangnya tangan kananku masih dalam cengkramnya.

G-gajima.. je-bal. ” dalam tidurnya ia terus bicara.

Aku berusaha menarik tanganku sepelan mungkin tapi dia justru menaikkan tanganku ke dadanya, mencengkramku lebih erat disana. Mataku terbelalak dan aku memerah. Segera kupalingkan wajahku. Ya ampun~ dadanya terasa sangat hangat dan kenyal. ” Omo! Bagaimana ini~? ”

Hingga beberapa menit aku dalam keadaan seperti ini. Tidak ada yang bisa kulakukan selain terdiam, pasrah. Namun ketika aku menatapnya lagi, tidurnya tampak lebih tenang. Aku mendesah pelan, ada perasaan lega saat tidurnya kembali lelap.

Kuperhatikan wajahnya dibawah sinar redup bulan yang menyusup di celah-celah jendela kamar, dia memang cantik. Tapi alisku mengkerut saat melihat ada bekas air mata di sudut matanya. Dia menangis? Tanganku terulur, mengusap lembut jejak air matanya.

” Istirahatlah, aku tidak akan pergi. ” bisikku. Meski aku tidak menyukainya tapi aku juga tidak membencinya.

.

.

Cerahnya pagi akhirnya menyambut hariku. Aku dan Miyoung duduk di ruang makan untuk sarapan bersama. Beruntung hari ini adalah hari minggu jadi aku bisa tidur setelah sepanjang malam tak tidur dan hanya duduk seperti mayat hidup. Aku juga lega bisa keluar kamar sebelum dia bangun.

” Benarkah tidak perlu kerumah sakit? Kau pucat sekali. ”

” Ne? Oh.. tidak perlu. ” aku menggeleng. ” Aku hanya lelah dan mengantuk. ” jawabku lemas. Aku menyesap kopi dan mengalihkan pandangan, cara matanya menatapku benar-benar mengusikku.

” Aku harap ini dapat membuatmu sedikit lebih baik. Ini adalah bubur abalon dan sup kimchi. ” dia menggenggamkan sendok ketanganku. ” Jja~ makanlah.. ”

Aku tidak menjawab, kulirik mangkuk bubur di atas meja tanpa semangat. Aku mengaduknya sebentar sebelum mendorong satu sendok kedalam mulutku. Tapi.. pada suapan pertama aku mendapati rasa yang luar biasa, masakannya mengingatkanku kembali pada eomma. Sudah sangat lama semenjak eomma bercerai dan hidup di luar negeri aku tidak merasakan makanan seperti sekarang ini, sangat lezat.

Eotte? ” tanya gadis itu, matanya berbinar menunggu reaksiku.

Ehem. ” aku berdehem pelan, berpura-pura berpikir. ” Ini.. tidak buruk. ” jawabku seadanya dan mendengar itu dia tersenyum senang.

” Aku tau kau pasti akan menyukainya. ” ujarnya diiringi senyum cantik yang mengembang di bibir tipisnya. Aku diam sesaat kemudian aku meraih gelas disebelahku dan meneguk airnya dalam jumlah banyak. Tiba-tiba saja aku merasa gugup! Untuk menutupi rasa gugup yang belum hilang aku kembali memakan bubur buatannya.

” Kau juga makanlah. ” ucapku disela-sela mengunyah bubur karena dia hanya diam melihatku makan.

” O-oh.. ne. ” ia mengambil sendoknya dan memulai sarapan.

Ada senyuman samar yang nyaris tidak terlihat di bibirku karena senang melihat cara makannya yang menggemaskan. Ada perasaan aneh yang berkembang di hatiku, entah kenapa itu membuat dadaku terasa hangat. Rasanya sungguh menyenangkan karena ada seseorang yang menemaniku di meja makan setelah sekian tahun aku selalu sendirian.

Dulu setelah eomma bercerai aku selalu sendiri sampai kemudian ada seseorang yang menemaniku, memenuhi hidupku seolah Mikyung adalah pusat hidupku. Akan tetapi.. semenjak dua tahun lalu Mikyung lenyap, hilang tanpa bekas dari hidupku, aku tidak lagi menemukan jejaknya. Hal itu membuatku kembali merasakan pendertiaan ketika aku hanya sendirian. Kepergiannya telah memunculkan sisi dingin pada hatiku.

Beberapa menit kemudian aku mengkhiri sarapan. Diam-diam aku beralih memandanginya. ” Kemarin.. kenapa tidur di luar? Kalau kau sakit itu akan merepotkan. ” ujarku memeceh keheningan.

” Aku ada di luar itu karena kau. Babo. ” jawabnya tanpa menatapku.

” Aku? ”

” Lalu siapa lagi? ”

” Harusnya kau tidak usah menungguku. ” ujarku acuh.

Mwo? Tidak usah menunggu? ” dia meletakkan sendoknya dan menatapku tajam. ” Kalau tidak mau aku menunggu kenapa tidak memberitahuku jika pulang larut? Jika keberatan menelponku harusnya katakan padaku sebelum berangkat. Atau kau..? Jangan-jangan sengaja tidak memberitahu karena kau pergi minum-minum lagi? ”

Aissh! Bukan begitu. Kenapa kau ini? Kenapa kau terus bersikap seolah kau ini- ”

” Istrimu? ” ia menimpali.

Rahangku mengeras, lalu berdehem pelan. ” Tapi ini sungguh aneh karena ada kau di rumahku sebagai istriku. Kau tau? Tidak ada satupun hal yang kuingat jika kau istriku. Bahkan aku juga tidak menderita amnesia atau sejenisnya. Aku merasa masih lajang tapi tiba-tiba BUUM~! kau datang dan semua orang membenarkan status kita. ” aku membela diri.

” Kalau begitu cukup biarkan semua ini mengalir begitu saja. Meskipun kau tidak merasa aku adalah istriku, cukup rasakan yang ada dalam hatimu.ย  ” dia menggenggam tanganku, meremasnya lembut. ” Aku yakin kau akan menerima semua ini dan menerimaku. ”

Aku membalas tatapannya dan dia tersenyum. Senyuman yang tak bisa kulupakan itu selalu sehangat genggamannya, begitu menawan sehingga kupu-kupu mulai berterbangan di dalam perutku. Jantungku berdegup kencang, lagi.

” Kenapa kau bisa begitu yakin jika aku akan menerima semua ini? ” aku menarik tanganku.

” Karena aku istrimu. Dan karena kau mencintaiku. ” jawabnya enteng lalu kembali memasukkan nasi kedalam mulutnya.

Apa? Mencintainya?? Benarkah? Kemudian aku hanya memandangi Miyoung dan termenung.

Tidak! ini terlalu aneh!

Kucoba mengabaikan topik ini dan mencari hal lain untuk dibicarakan. ” Miyoung-ssi, apa hari ini kau ada acara? ” tanyaku hati-hati. Aku menatapnya yang hanya diam. Tapi mataku beralih, aku tertarik pada bibir tipisnya. Tanpa ijin aku mengerakkan jemariku hingga menyentuh bibirnya. Dia tampak menegang saat jariku mengusapnya lembut untuk membersihkan sisa makanan yang tertinggal di sudut bibirnya.

Dia berhenti mengunyah, matanya bergerak menatapku, dalam satu garis lurus kami pun saling memandang dalam keheningan. Di saat seperti ini.. rasanya setiap detik yang berlalu di antara kami begitu mendebarkan, aku serasa tidak bisa bernafas. Lalu perlahan Miyoung menepis lembut tanganku yang masih berada di atas bibirnya, dia menelan susah payah sisa nasi ke dalam tenggorokan lalu menenggak segelas air hingga tandas.

” A-aku.. aku ada janji bertemu seseorang hari ini jadi tidak bisa pergi ke tempat lain. Baiklah, aku sudah selesai sarapan. ” ujarnya tergesa-gesa lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju wastafel bersama piring-piring yang kotor dalam genggamannya. Dia menolakku sebelum aku mengutarakan isi hatiku.

Aku menggeleng lemah, ” Dia sungguh wanita yang aneh. ”

* * *

.

.

Hari-hari pun berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah satu bulan lebih kami tinggal bersama sebagai suami istri, tapi tetap tidak ada kontak fisik lebih dari genggaman tangan. Aku masih tidur diluar untuk menghindari hal-hal buruk. Namun meski berjalan hampir dua bulan, belum kutemukan keganjilan jika Miyoung bukan istriku. Aneh memang, tapi aku seakan tidak bisa lepas darinya. Tak pernah terpikirkan sekalipun untuk menceraikan Miyoung.

Hubunganku dan Miyoung berkembang cukup baik karena dia berusaha berinteraksi denganku secara intens setiap hari. Dan sebenarnya.. di mulai dari bangun tidur, ketika di kantor dan saat aku sudah pulang bekerja, hanya Miyoung yang kutemui setiap harinya. Kehidupanku menjadi berpusat padanya, selangkah demi selangkah wanita itu menggeser Mikyung.

Dan gadis itu, Hwang Miyoung, dia satu-satunya orang yang bisa membalas sikap dinginku dengan hangat. Sebelumnya tak pernah ada seseorang yang memperhatikanku dan mengisi hariku sebanyak Miyoung, bahkan mantan kekasihku sekalipun. Tanpa kusadari perasaanku berubah, lebih berkembang.

Jadi, karena itu hari ini aku pulang lebih awal. Aku tersenyum sekilas saat berjalan mendekati gadis itu. Seorang gadis yang berhasil membuatku tertarik padanya karena segala keanehan yang padanya. Sesampainya di dapur aku bersandar di ambang pintu, bersendekap tangan dan memandangi punggungnya. Tanpa aku menyadarinya, sejak tadi aku memperhatikan semua hal yang dilakukan gadis itu di dapurku.

Kyaaa~~!! ” aku terkesiap ketika tiba-tiba dia menjerit lantang, melempar entah kemana cangkir kopi dari genggamannya dan melompat menjauhi meja.

Gerakan meloncat Miyoung yang tiba-tiba itu membuat tubuhnya tak seimbang, dia akan jatuh! Sontak aku berlari dan berhambur menangkap tubuhnya, lengan melingkari pinggangnya, aku merengkuh Miyoung dalam perlindunganku agar tubuhnya tak membentur kerasnya lantai. ” Miyoung-ah, gwaenchana? ” tanyaku cemas tapi dia terpejam erat menahan rasa takut.

” Miyoung-ah.. ” panggilku lembut. Aku mengulurkan tangan, menyentuh dagunya, membuat dia mendongak hingga pandangan kami bertemu. Dan detik itu juga, lagi-lagi aku terkesima, matanya yang menatapku begitu bening, sangat indah, membuatku tenggelam di dalamnya. Aku seperti merasakan sejuta rasa yang tidak mampu kumengerti.

Gwaenchana? ” tanyaku lagi.

” K-k-kecoa! ”

” Kecoa? Mwo? Jadi kau meloncat hanya karena seekor kecoa? ” aku terkekeh dan dia mengeryitkan dahi, tak suka dengan tawaku kecilku yang bernada mengejek.

Geunde.. apa kau lebih takut pada kecoa daripada aku? Bagaimana jika aku… ” aku mempererat tanganku, merapatkan tubuhnya kedalam pelukanku. Perlahan wajahku mendekat untuk mengecup bibir merah chery Miyoung yang seksi. Dalam hati aku terkekeh karena tiba-tiba aku ingin menggodanya.

” Hentikan. ” tapi Miyoung menarik tanganku hingga tubuhnya terlepas dari pelukanku, ia mundur satu langkah. ” Mian, aku harus pergi menemui seseorang sekarang. ” setelah menyelesaikan ucapannya dia segera berbalik, melangkah cepat menuju lantai atas tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Dia tak membiarkanku menatap lebih lama wajahnya yang memerah. Aku pun tersenyum, merasa puas bisa menggodanya. Dia sungguh manis dan menggemaskan ketika malu-malu seperti tadi.

* * *

.

.

Siapa yang tidak terbius dengan wajah cantiknya? Matanya yang berbinar indah terlebih saat eye smile-nya muncul, wajah cantik dan bersinar, atau.. tubuh langsingnya? Kesempurnaan seperti itu pasti menaklukkan pria atau wanita manapun. Well, itu termasuk.. aku. Tetapi itu bukan yang utama bagiku. Karena dibalik kecantikannya, sikapnya yang lembut dan perhatian gadis itulah yang membuatku terpesona. Miyoung adalah teman bicara yang baik, dia bersabar dengan ketidak-nyamananku sebagai suaminya.

Lambat laun aku menjadi terbiasa berbagi kehidupan dengannya. Aku tidak lagi terkejut ketika mendapatinya memasak di dapurku, atau sambutannya saat aku pulang, bahkan saat dia tiba-tiba ada di kamar mandiku. Sekarang aku merasa nyaman bersamanya. Bahkan aku mulai merindukannya saat tak melihatnya, seperti siang ini yang tidak datang ke kantorku.

Khaah~ aku ingin mendengar suaranya, ingin menghirup aroma khas tubuhnya, ingin memakan masakannya, dan ingin merasakan kehangatan sikapnya.

Tapi apakah itu artinya.. aku mulai mencintai Hwang Miyoung ?

DEG!

Aku memerah seketika. Omo! Itu tidak mungkin!Aku menggeleng kuat-kuat, menepis pemikiran semacam itu. Aku tidak boleh menumbuhkan perasaan semacam itu! Lagipula aku sudah menegaskan diriku untuk tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Gadis itu bersikap baik karena dia adalah.. istriku?

Mwo? Istri? Tidak! Kenapa aku mengakuinya? Aish! Kim Taeyeon, ini tidak benar! Tapi? Arrrggh!! Mola-mola! ” aku mengacak-acak frustasi rambut klimisku. Memikirkan semua keanehan ini membuat kepalaku seperti dihantam palu bertubi-tubi, ini memusingkan. Aku tidak mengerti, sungguh!

Tok..tok!

” Direktur Kim, apa kau di dalam? ”

” A-ah ya.. masuklah. ” aku merapikan kembali penampilanku saat Sooyoung memasuki ruanganku.

” Ada apa kau datang kemari? ” tanyaku saat dia sudah berdiri di depan mejaku.

” I-itu.. itu.. ”

Wae? Apa ada sesuatu? Apa ada masalah dengan kontrak kita bersama White Group? ” selidikku.

” T-tidak, tidak bukan itu. Tapi.. ”

” Tapi apa? ”

” Sebenarnya.. ini bukan tentang pekerjaan. Aku hanya ingin tau apakah kau..? ” suaranya melirih, hingga kemudian tergantung di udara saja. Dia diam dengan segala keraguannya.

Mataku pun memicing, kian curiga, ” Mwo? Apa yang ingin kau tanyakan? Palli~! ” sahutku tak sabaran.

” I-itu.. ” dia menatapku, ” apa kau mencintai Miyoung? ”

Ne? ” alisku terangkat, terkejut mendapat pertanyaan semacam itu dari Sooyoung. Aku diam sesaat dan tidak bisa menjawab. Namun mataku mengamati keraguan yang tergurat di garis wajahnya. ” Waegure Sooyoung-ah? Pertanyaan macam apa itu? ”

” Itu.. bagaimana jika? ”

” Apa? Jika apa? ” sahutku cepat.

Ah~ anio.. ” dia menggeleng. ” Tidak ada apa-apa. ” ujarnya membuatku menyerngit kebingungan. ” Belakangan ini kau terlihat lebih segar dan bahagia. Aku juga bahagia jika melihat temanku ini bahagia bersama istrinya.ย  ”

Yaa! Bicara apa kau ini? ” pipiku memerah mendengar ucapan Sooyoung. Yeaah.. tapi itu benar jika aku tidak sekacau waktu itu meski mendadak hidup bersama wanita asing, sebagai istriku. ” Tapi apa hanya itu yang ingin kau katakan? ” aku bertanya lagi.

” Oh! Aku datang karena ingin mengingatkanmu jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia sepertinya menulis hari ulang tahunnya sendiri di schadule milikmu ketika mengantarkan makan siangmu kemarin. ”

” Ulang tahun? Siapa? Miyoung? ”

Sooyoung mengangguk, ” Kau tidak lupa, kan? ”

” O-oh.. tentu, hahaha.. mana mungkin aku lupa. Hahaha.. ” aku tertawa kaku. Bukannya lupa tapi aku memang tidak tahu.

” Baguslah kalau begitu. Dan..ya, hanya itu yang ingin kukatakan padamu. Geurom.. sampai bertemu besok. ” dia berbalik cepat dan menghambur keluar begitu saja.

Aigoo~ ada apa dengan anak itu? ” gerutuku lirih. Saat ruangan kembali hening aku mencoba fokus pada pekerjaan tapi aku justru teringat ucapan Sooyoung.

Apakah kau.. mencintai Miyoung?

Glek~! Susah payah aku menelan ludah. Tentu itu tidak mungkin. Tapi kenapa ada yang aneh dalam dadaku ketika aku menyangkalnya? Mungkinkah aku….

Arrgh!! ” aku kembali menggeram frustasi. ” Tidak tahu! Aku tidak tahu. Aissh! Kenapa dia membuatku semakin kacau saja! Menyebalkan. ”

Hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Perkataan Sooyoung kembali terngiang di kepalaku. ” Ulang tahun? Tapi apa yang harus kulakukan? ” tanyaku pada diriku sendiri. Aigoo~ aku bahkan tidak tahu apa yang di sukainya. Aku menyandarkan punggung di sandaran kursi lalu mendesah gelisah karena belum juga mendapatkan jawaban.

Miyoung.. meski dia sering membuatku merasa hangat tapi bagiku dia juga misterius, sulit kupahami. Aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran gadis itu. Dia tidak pernah membuatku tahu tentang apa yang tengah dirasakannya.

Dan sepanjang hari aku pun memikirkan apa yang bisa kuberikan di hari ulang tahun Miyoung.

.

.

Aku berjalan cepat setelah matahari hampir tenggelam seluruhnya, aku tidak mau pulang terlambat dan membuat Miyoung menunggu. Membawa sebuket mawar merah, wajahku begitu sumringah sepanjang jalan. Aku tak sabar bertemu Miyoung dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Sesekali kuhirup wangi bungaku, itu membuatku mengingat dengan jelas semua hal yang Miyoung lakukan untukku. Tak bisa kupungkiri jika saat-saat bersamanya sungguh menyenangkan. Jadi aku berencana memberinya hadiah yang lebih spesial setelah bunga ini. Karena bagiku, rasanya tidak mungkin melupakan gadis yang datang secara tiba-tiba dan memberiku kehangatan. Aku merasa di cintai, seutuhnya.

Tak sampai sepuluh menit aku sampai di rumah. Wajahku panas membayangkan diriku memberikan bunga ini dan melihat reaksi Miyoung. Jantungku berdebar liar, semoga dia menyukai hadiah pertamaku.

” Miyoung-ah, aku pulang~ ” ujarku riang tapi sesaat kemudian raut berseriku hilang karena keadaan di rumah sepi senyap.

Alisku berkerut karena tidak ada sahutan dari Miyoung. Aku memandang sekeliling, tidak biasanya Miyoung mengabaikan kedatanganku. Aku menoleh ke ruang makan, bahkan meja tetap rapi dan bersih seperti tidak terjamah. Lalu kupandangi jam dinding, sudah hampir waktu makan malam tapi tidak ada apapun dan siapapun.

” Miyoung-ah.. ” panggilku lebih keras tapi tetap sepi. Rasa khawatir menyeruak cepat dan memenuhi dadaku, perasaan takut jika dia menghilang tiba-tiba seperti caranya datang mulai menyerangku. Pemikiran itu membuatku menjadi kalut. Aku resah.

” Miyoung-ah, neo eodiseo?? ” aku menyisir seluruh ruangan dengan cemas, tapi tidak ada tanda-tanda akan keberadaannya. Aku diselubungi ketakutan, sangat takut akan kehilangannya dalam sekejap. Jika dari awal ini memang mimpi maka aku belum ingin bangun saat ini.

” Tenanglah.. tenanglah Kim Taeyeon! ” aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas lalu menghembuskan perlahan. ” Mungkin dia ada di kamar. ” pikirku dan kuputuskan naik ke lantai dua.

Langkah demi langkah aku menapaki anak tangga yang terasa tanpa ujung. Namun betapa leganya saat dari kejauhan aku melihat lampu kamar menyala. Aku mendesah pelan dan tersenyum lega. Segera kusembunyikan buket bungaku dibalik punggung dan menyamarkan langkahku seperti langkah hantu, aku ingin membuat kejutan.

Sampai di depan pintu aku menghela nafas, menetralisirkan kegugupanku. Sebaik mungkin aku memasang wajah cerah yang tulus, setidaknya aku ingin berterimakasih dengan pantas untuk membalas kehangatannya. Bahkan aku belum pernah memberi Miyoung senyum sehangat ini. Beberapa detik kemudian aku merasa yakin sehingga aku memutar knop pintu. Senyum lebarku siap untuk menyambutnya.

” TIDAK! AKU TIDAK BISA! ” Teriakan itu seketika mengurungkan niatku membuka pintu.

” Miyoung-ah.. kita sudah cukup mempermainkannya jadi kita hentikan saja. Jika kebenaran terkuak maka dia akan mendapat lebih dari sebuah hukuman. “

Aku mematung, diam dan menguping pembicaraan Miyoung dengan.. Sooyoung? Tapi kenapa Sooyoung ada disini? Apa maksudnya dengan kebenaran dan hukuman? Siapa yang mereka bicarakan?

” Kim Taeyeon, atau jangan-jangan kau memilih diam karena kau-? “

” Tidak Sooyoung-ah! Aku melakukan ini semua karena kebencianku padanya! Tapi meski seluruh tubuhku terasa jijik dan muak saat bermesraan dengannya, ini belum cukup! “

Senyum lebarku menguap seketika dan tergantikan oleh raut yang tak bisa kujelaskan. Tanganku yang memegangi kenop pintu gemetaran hingga genggamanku terlepas dan jatuh begitu saja.

Miyoung membenciku?

Tubuhku kaku, sarafku lumpuh untuk mencerna arti ucapan Miyoung. Tapi saat dia bilang membenciku, seketika dadaku seperti diremas dan dihujam keras ke batu tajam di dasar jurang. Suara Miyoung yang biasa terdengar lembut itu kini meneriakkan kebenciannya padaku.

Tapi kenapa?

” Geunde Miyoung-ah, ini juga tidak benar. Rencana kita hanya sampai membuatnya melihatmu dan membuat gadis menyukaimu saja, bukan sebagai suamimu! Dia sudah mendapat hukumannya dan aku tidak mau kau jatuh terlalu dalam bersamanya. “

” Tidak! Aku belum puas sampai membuatnya benar-benar mengemis padaku. Dia harus merasakan hukuman karena telah mencampakkan kakakku. Dia adalah pembunuh Mikyung eonni jadi dia harus sama tersiksanya seperti kakakku! “

Mataku melebar sempurna, nafasku tercekat diujung tenggorokan.

Miyoung adalah… adik Mikyung? Dan aku.. pembunuh kakaknya?? Hwang.. Mikyung.

” Hipnotis ini akan berlanjut, sampai kubuat akulah yang menceraikannya! Aku yang mencampakkannya dan aku yang membuatnya ingin mati tapi tidak bisa! “

DEG!

Hip..no..tis??

Seperti belum selesai siksaan yang tadi, kini jantungku yang terluka semakin diinjak-injak hingga hancur dan berlubang setiap bagiannya. Begitu perih, begitu menyakitkan.

Ugh! ” aku mencengkram kuat dadaku yang terasa berat seperti ada ribuan ton batu menimpaku. Sesak dan sakit, sangat sakit. Nafasku menjadi tak beraturan, kakiku mendadak lemas dan duniaku berputar pelan dalam kehampaan. Tubuhku yang seperti jelly nyaris menyeluruh ke lantai jika tanganku tidak menopang ke daun pintu.

Jadi selama ini.. senyum sehangat matahari pagi, genggaman tangan hangatnya, kelembutannya dan segalanya adalah… palsu?

Jika semuanya hipnotis, lalu tentang gadis itu? Tentang hubungan kami? Tentang perasaannya? Dan… perasaanku?

” Benar! Aku membencinya! Aku membenci Taeyeon!! “

Tidak! Tolong hentikan!

Aku menggeleng lemah, aku tidak bisa menerimanya. Kucengkram kuat kepalaku dan pandanganku mengabur karena genangan air mulai berdesakan ingin keluar. Kugigit bibir bawahku hingga tak peduli jika berdarah, aku hanya berusaha menekan rasa sakit yang luar biasa.

” M-Miyoung-ah.. arrgh! ” suaraku yang memanggil namanya tenggelam ke dasar jurang tanpa dasar dan gelap, rintihan kesakitanku begitu lirih dan tak terdengar.

Aku tidak sanggup lagi memanggil namanya karena rasanya sakit, sangat sesak. Aku ingin marah, ingin mendengar pejelasan dan ingin memintanya jangan membenciku tapi aku sudah hancur lebih dulu. Aku tak berbentuk lagi, melebur menjadi serpihan, dan rusak karena kegetiran yang begitu menyedihkan.

Mataku berubah gelap ketika air mataku mulai berjatuhan menyedihkan. Dengan sisa tenaga aku menarik pergi tubuhku yang mematung bagai tak bernyawa. Aku tak kuasa mendengar apapun lagi, dadaku kesakitan saat menarik nafas, dan suara-suara disekitarku berubah menjadi dengungan tanpa kejelasan. Jika aku bertahan disini mungkin detakan jantungku akan mati, benar-benar mati. Tapi aku akan mati perlahan untuk merasakan sakitnya siksaan.

Kini langkahku terseok-seok menjauh. Segala yang kulihat berputar lambat, tanganku yang kebas sudah tak ingat dimana bungaku berada. Mungkin bungaku yang harum telah tertinggal di depan pintu, mendengarkan penderitaan yang tak sanggup kuhadapi.

Aku merasa dipatahkan, dicabik, dihujami belati, dan disakiti, pada hatiku. Karena Miyoung membenciku. Dan aku pun menangis dalam diam. Karena aku mencintainya.

” Aku mencintaimu Miyoung-ah.. “

.

.

.

.

* END **

SEDIKIT PENJELASAN :

Sejak awal tdk ada pernikahan / kecelakaan krn memang itu perbuatan (hipnotis) Miyoung untuk aksi balas dendam setelah kakaknya meninggal setelah dicampakan Taeyeon.

Sedangkan menurut Taeyeon, dialah yang dicampakkan. Tapi keberadaan Miyoung tiap harinya bersama Taeyeon memang nyata (bukan hipnotis).

Dan ini adalah ff repost, jd gw maklum klo pada bosen ma ff absrud ini.

Btw gw udah bikin list ff di (kotak) MENU. Silahkan di cek!

Bye.

Advertisements

24 thoughts on “Hypnotized (onsehoot)

  1. sn

    Gantung banget ini mah Thor, kelanjutannya gimana ini taeng? Bikin sequel Thor Wkwkkwkwkw masa gantung gini sih thor. Udah gitu taeng udah tau dia di hipnotis end ok lah wkdbajkdbqksljdbwkdbwhwksbwjdb ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜

    Like

    Reply
    1. brigittagapes

      Nah gw jga sempat berpikir gw udh pernah baca nih ff dan yeah emang bener…
      Ini ff pindah tangan atau gimana ye??? Wkwkwk…
      Asli gw masih suka aja sama alurnya… selama itu taeny…
      Sip sip udh ada listnya… saat nya ngobrak abrik nih…
      See ya thor n hwataengggg!!!

      Like

      Reply
  2. ryan

    Laaah
    Udah end? Beneran nih udah end?
    Gantung amat thor, aturannya TBC bukan end ini mah :v
    Sequel nya ke thor ..
    Biar jelas nih gimana nasib si taengnya -__-

    Like

    Reply
  3. TaeNyong

    baruu bacaa ,,, bener” keren wkwkwk gak nyangkaa ternyataa cinta nya pany palsu dan semuaa nya karna benci mungkin dendam juga kkkk
    aigoo kasihann taetae guee hiks..hiks…

    annyeong thor readers baru hehe

    Like

    Reply
  4. noviangale

    “Aku merasa dipatahkan, dicabik, dihujami belati, dan disakiti, pada hatiku..”
    Nyesek pas akhirnya..poor tae ๐Ÿ˜ญ
    Padahal tae udah mulai suka ama miyoung ๐Ÿ˜ž
    Please jangan benci tae …๐Ÿ™‡

    Like

    Reply
  5. Q'cho11

    Hey thor^^ maqy disinie:)
    klo pun memang hanya menyakiti tae, tp knp sooyoung ikutan jg bukan kah tae n soo sahabat.. apa pany kekasih soo.. sakit lah di tipu begitu..

    Like

    Reply
  6. emyeonhye

    Keren thor ceritanya ๐Ÿ™‚ walaupun sempet rada bingung pas taeyeon sadar dari kecelakaan dan tiba-tiba udh punya istri hahaa eh ternyata hanya balas dendam fany aja
    Walaupun rada nyesek diakhir hehe

    Like

    Reply
  7. lilgadis

    hah,, uda segitu aja… dan END

    kirain tae mimpi napa bs tiba2 jadi suami istri,,
    agak nyesek sii,, jadi siapa dia wanita itu? dan yg pura2 jadi sooyoung? apa mereka salah 1 siluman rubah
    dan miyoung apa yg terjadi?
    dan kenapa si mikyung mao bales dendam, apa yg tae perbuat?

    Like

    Reply
  8. dan-

    Waw keren ff nya, kasihan taetae disaat dia mencintai miyoung eh ternyata miyoung mendekati taetae hanya untuk balas dendam ngenes banget.
    Buat sequelnya dong thor nanggung banget ff nya…..?

    Like

    Reply
  9. 9#50N3

    Pas baca dari awal aku merasa prnah baca ini. Tapi dimana ya?.
    Apa author nya pindah lapak?

    Ini beneran udah end?
    Gk ada squelnya?
    Kasian taetae nya, gk ingat apa” hubungan nya dg eunnie nya phany, langsung menderita setengah tumpes gitu,, Haha,,.

    Like

    Reply
  10. Kimrahmahwang

    Pantes kaya familiar sama jalan ceritanya, repost dari wp yg sebelumnya yaa thor??
    Btw masih gantung aja ini ff, kapan atuhh sequel nya. Miyoung kok kejam, siapa tau yg jadi penyebab kematian mikyung bukan taeyeon. Tiati lohh nyesel udh mencampakan taeyeon seperti itu hihihi

    Like

    Reply
  11. Kimie

    ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
    Fany tega amat ya, kirain dia beneran suka juga sama tae nyatax cuma mau balas dendam..

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s