My Day (oneshoot)

image

Author : fofo
Genre : Romance, Genben
Lenght : oneshot
Cover by : Tiara12

PLAGIAT and Siders?? JUST.. GO AWAY!!!

SELAMAT MEMBACA.

.

.

Author Pov

Mwo?? Kau tidak bisa? ” tangan gadis berperawakan pendek bersendekap di dada, mata hitamnya terarah tajam, menusuk tepat ke mata pria yang tingginya lebih dari gadis itu.

Gadis bernama Sunny tersebut mengakui jika pria itu adalah pria usia dua puluh lima tahunan yang tampan diantara yang paling tampan dan punya kehidupan mapan. Namun sayangnya hal itu tak membuat Sunny berhenti menatap penuh tuntutan pada pria tersebut yang berstatus kekasihnya.

” Ya. Itu jawaban yang tidak bisa dirubah lagi. Aku tidak bisa. ” suara tegas pria itu lembut, seolah meminta Sunny untuk mengerti kesibukannya sebagai pengusaha sukses. Sooyoung adalah seorang CEO sibuk dari perusahaan Sone Ent.

” Maafkan aku.. ” nada suara Sooyoung melembut, hampir melelehkan kerasnya pikiran Sunny.

Sunny menghembuskan nafas kasar, masih tidak menerima kenyataan bahwa pria-nya tidak mau menuruti keinginannya. ” Kalau begitu jawab pertanyaanku. Seandainya, jika hanya ada aku dan pekerjaanmu? Mana yang kau pilih jika aku dan pekerjaanmu sama-sama berada diujung jurang? ”

Mata Sooyoung memicing lalu dia berdehem pelan, menyembunyikan tawa kecilnya karena pertanyaan Sunny yang sedikit.. aneh.

” Sunny- ”

” Pekerjaan, kan? ” Sunny bisa menerka itu dari wajah Sooyoung. Dia lirik pria itu yang rahangnya mengeras, mata Sooyoung tampak menahan rasa kesal.

Chagi-ya.. ini berbeda. ” Sooyoung menghembuskan nafas lalu meraih tangan Sunny, memberi kelembutan dalam remasan tangannya yang kuat. ” Tidak ada yang bisa ku pilih. Tidak keduanya, kau atau pun perusahaanku. Tolong mengertilah, semua sangat berarti untukku. ”

” Kau yang tidak mengerti! ” bentak Sunny keras, dia menyentak tangan pria-nya kasar. Rasanya panas pada dada Sunny, dan pada hatinya. ” Kenapa kau tidak mau pergi denganku? Aku hanya ingin bersamamu di pantai dan Jepang tidaklah terlalu jauh. Kau tahu kan besok adalah hari spesial yang menyangkut hubungan kita? Tapi kau begitu egois dengan me-nomor duakan diriku! Wae Sooyoung-ah!? ”

” Aku tahu tapi- ”

” Tapi kenapa? Kenapa kau justru memilih pekerjaanmu daripada aku! Wae? Kenapa kau melakukan ini padaku!? ” teriakkan Sunny semakin tinggi, nafasnya memburu, dia meledak tak terkendali.

” Sunny… aku sungguh menyesal, maafkan aku. ”

” Tidak. Aku tidak mau mendengar permintaan maafmu. ” ujar Sunny angkuh. Pandangan gadis itu kemudian mengabur seiring air mata tergenang dipelupuk matanya. Kemarahan dan kekecewaan di hati Sunny akan jatuh sebentar lagi, turun mengalir bersama air matanya.

” Sunny, kenapa kau tidak bisa melihat betapa aku mencintaimu? ” Sunny merasakan usapan halus tangan Sooyoung menjalar di pipinya yang dingin karena hembusan angin malam. Mata gelap Sooyoung menatap gadis itu tenang, dan itu membuat Sunny semakin kesal. Disaat seperti ini Sooyoung masih bersikap tenang, pikir Sunny.

” Aku sungguh ingin pergi tapi aku tidak bisa. Lebih dari 1000 pekerja akan kehilangan pekerjaan jika aku pergi. ”

” Lalu..? 1 selain dari 1000 orang itu, taukah jika kau telah menyakitinya? ” Sunny pun mengutarkan rasa kecewanya. ” Kau sudah melukai seorang gadis yang sangat mencintaimu! ” dia menatap Sooyoung nanar. Frustasi menggerogoti jantung Sunny lalu menggumpal dan akan segera meledak dalam dadanya. Jika ada kata yang menggambarkan lebih dari menyedihkan, itulah yang dirasakan gadis itu sekarang. Pria-nya begitu tak adil.

” Aku sungguh bersalah telah mengobarkanmu tapi ini adalah tanggung jawabku sebagai CEO. Sungguh, aku minta maaf. Ah~ bukankah kita bisa kesana pekan depan? ” tawar Sooyoung, dia berbicara dengan lembut.

Hiks.. ” tapi pundak Sunny mulai naik turun, tidak ada jawaban. Air matanya tidak tahan lagi untuk terus bersembunyi. Sunny akhirnya menangis dalam diam.

” Sunny.. ” panggil Sooyoung penuh sayang namun tak ada sahutan. Dia mencondongkan wajahnya lebih dekat untuk melihat wajah kekasihnya. ” My baby bunny.. ” panggilnya lagi, lebih mesra.

Geure, jika itu keputusanmu untuk tidak bersamaku dan kau memilih tetap bekerja. ” Sunny menegakkan kepalanya, jilatan amarah dimatanya belum juga redam. ” Aku bisa pergi sendiri. ” tangannya terkepal kuat untuk meyakinkan dirinya bahwa dia bisa berlibur sendiri.

” Kenapa kau seperti ini? Kita masih bisa pergi kesana di lain waktu. Sunny, kumohon jangan membuat ini rumit. ”

Sunny menatap lurus pada mata gelap Sooyoung. ” Tidak. Aku akan pergi sendiri. Tapi.. ” suara Sunny melirih dan semakin lirih hingga menggantung sementara. Dia menelan susah payah ludahnya sendiri yang tercekat diujung tenggorokan. ” kita akhiri saja sampai disini Sooyoung-ah. ” lidahnya getir saat berusaha membuat kalimat ini terdengar tegas.

Ucapan yang bagai bomerang itu sontak membelakkan sempurna mata Sooyoung. Dia sangat terkejut amarah gadis itu berujung menjadi petaka pada hubungan mereka. ” Tidak, kau tidak boleh melakukannya! ” sergah Sooyoung.

” Selamat tinggal. ”

Andwae! Sunny gidaryo! ”

Namun Sunny tidak peduli suara panggilan Sooyoung yang menggoda telinganya, dia hanya berusaha menjauhkan tubuhnya yang lelah dengan cepat. Kaki Sunny pun melesat, berlari menjauh seakan bisa menembus angin.

” Sunny berhenti! Tolong jangan lari! Sunny! Chagi-ya! ”

Teriakan Sooyoung terus bergema diantara kesunyian malam. Namun Sunny menggeleng, dia sungguh sedih tapi dia juga marah pada pria itu. ” Tidak! Aku tidak akan berhenti. ” batinnya. Sunny terus berlari, berlari dan berlari semakin cepat hingga..

Bruugh!!

Kyaaa~~!! ” gadis itu berteriak kencang bersamaan tubuhnya yang terjatuh seperti jelly lembek.

” Sunny!! ”

Huwaaaa~~ eommaa~~ ” dia benar-benar menangis sekarang. Hatinya sudah sakit dan sekarang tubuhnya juga ikut merasakan sakit. Sunny jatuh terjerembab di tanah karena tersandung sesuatu.

Chagi-ya, gwaenchana? ” entah sejak kapan Sooyoung sudah berjongkok dihadapan Sunny. Mata gelam yang tajam itu tersirat kekhawatiran. ” Kau terluka? Gwaenchana? Kau bisa berdiri? Apa ada yang sakit? ” suaranya panik. Detik berikutnya Sunny merasakan ibu jari Sooyoung bergerak lembut mengusap air matanya.

Jebal uljima, ne? Apa ada yang sakit? Tolong bicaralah.. ” di dalam suara lirihnya Sooyoung, dia benar-benar dipenuhi kekhawatiran.

Hiks.. pergilah. Aku tidak mau melihatmu. ” meski tubuh Sunny bergetar, dia memaksa berdiri, mengabaikan pria yang mencemaskannya. Dia masih sangat kesal pada Sooyoung! Sunny pun bergegas menggerakkan kembali tubuhnya menjauh.

Gajima! Jebal~! ” Sooyoung menangkap lengan Sunny sebelum gadis itu menjauh. Dia lalu menghembuskan nafas kasar, Sooyoung tampak frustasi menghadapi sikap sang kekasih. ” Sunny.. bagaimana bisa kau meminta berakhir hanya karena aku tidak bisa menemanimu ke Jepang? Kenapa kau begitu kekanakkan!? ”

Mwo? Kekanakkan? ”

” Ya, dan egois. ”

Dada Sunny sesak, dadanya mengembang mengempis menahan amarah dan kecewa yang mengaduk-aduk hatinya. Sunny lebih memilih tak menyahuti ucapan Sooyoung yang sudah menusuknya seperti belati beracun, mematikan.

” Sunny.. ”

” Lepaskan aku Sooyoung-ah! ” Sunny menepis tangan Sooyoung tapi cengkraman pria itu justru menguat.

” Tidak! Aku tidak akan melepasmu. Tidak akan pernah! ”

Wae!? Apa keputusanmu berubah? ” tanya Sunny, penuh harap.

Pandangan Sooyoung berpindah ke sisi lain dan lagi-lagi menghela nafas frustasi. ” Tidak ada yang bisa ku rubah. ” jawabnya lirih.

” Kalau begitu biarkan aku pergi sendiri. ” lagi-lagi Sunny memberontak, berusaha lepas. Tapi tanpa diduga, Sooyoung tiba-tiba menarik Sunny kedalam dada bidangnya, memeluk gadis itu rapat.

” Tolong berhenti marah-marah dan bersikap egois. Aku bisa gila jika kau terus melakukan ini padaku.! ” pelukannya mengerat sehingga Sunny bisa merasakan aroma wangi khas milik pria-nya yang masuk menyeruak hidungnya. Aroma dari Sooyoung selalu memabukkan.

Chagi-ya.. apa kau tidak bisa mendengarnya? ” tanya Sooyoung.

” Lepas. ” perintah Sunny dengan mempertahankan nada dinginnya.

” Kumohon dengarkan jantungku yang bekerja 100 kali lipat lebih cepat saat ini. Kau tahu kenapa? Itu karena kau. Jadi jika kau bersikeras mendorongku pergi, jantungku bisa berhenti berdetak. ”

Sunny terdiam, mendengarkan jantung Sooyoung yang memang berdetak cepat. Tapi detik berikutnya tangan Sunny mendorong dada Sooyoung, membuat sebuah jarak diantara mereka. Dia menatap pria yang membuat hatinya seperti dinaikkan roller coaster. ” Tapi kau tetap tidak bisa pergi denganku, kan? ” tanya Sunny untuk sebuah kepastian.

Kali ini Sooyoung yang diam, wajahnya tertunduk. Mata pria itu murung.

” Kalau begitu, aku juga sama. Tidak ada yang bisa kurubah. ” ujar Sunny dingin, sedingin es yang membeku di kutub. ” Jangan menemuiku lagi setelah ini. ” Sunny melepas pelukan Sooyoung dan menjauh. Gadis itu merasa jutaan jarum tajam dari langit turun menghujami setiap sudut hatinya dengan kejam, begitu perih, begitu sakit. Sunny merasa sangat terluka.

Arrghh! ” Sooyoung menggeram frustasi, dia bahkan mengacak-acak rambut rapi klimisnya. Tapi selang beberapa saat, dia mengejar dan menahan Sunny. Sooyoung menatapnya intens, hendak mengatakan sesuatu. Namun dia terdiam saat mata gelapnya bergerak turun hingga berhenti di kaki gadis itu.

Dan betapa terkejutnya Sunny saat tiba-tiba Sooyoung menurunkan tubuhnya dan berjongkok di hadapannya. Mungkin Sooyoung hendak memohon, pikir Sunny.

” T-tunggu! Kau mau a-aaa!! ” Sunny menyerngit ketika Sooyoung menyentuh lututnya. Gadis itu cepat-cepat menunduk dan baru menyadari jika lututnya lecet dan berdenyut-denyut, sakit!

” Kau berdarah. ”

M-mwo? Berdarah? hiks.. ”

” Bagaimana kau ini? Padahal sudah kubilang berhenti tapi kenapa terus lari!? ”

” Apa? Dia sekarang justru membentakku? “ batin Sunny kesal.

Huwaaa~~ eomma appo~ hiks.. appo~ huaa~~ ” tangis Sunny akhirnya kembali pecah, hampir seperti gelombang yang memecah kerasnya batu karang. Meski luka kecil tapi entah kenapa rasa perih dan sakitnya begitu dalam. Semua ini karena Sooyoung.

” Dasar Sooyoung menyebalkan! ” rutuknya dalam hati.

Aigoo kau ini sudah besar kenapa cengeng sekali? Berhentilah menangis! Jebal~! ”

Hiks.. Yaa~! Kenapa kau memarahiku? Hiks.. aku yang harusnya marah! ” Sunny membetak Sooyoung balik.

Chagi-ya~ kumohon berhenti menangis ya.. Aku tidak bermaksud membentakmu, maafkan aku. ” pinta Sooyoung tulus dan itu berhasil menghentikan tangisan Sunny. Dia lalu membuka tas hitamnya dan mengeluarkan segumpal kapas dan sebuah botol kecil obat luka.

Sooyoung menarik Sunny ke satu sudut. ” Duduk, ” pintanya dengan suara serius dan tak bisa dibantah.

Sunny duduk di kursi taman, masih terisak. Dia hanya diam mengamati pergerakan Sooyoung. Pria yang biasa dia kagumi meski menyebalkan itu tengah meneteskan obat luka di atas kapas, sambil berjongkok.

” Ini akan sedikit menyengat dan perih. ” ujarnya memperingati. ” Tahan ya.. ” imbuh Sooyoung. Suara pria itu terdengar lembut dan tatapannya fokus pada lutut Sunny. Dengan hati-hati dia mengoleskannya pada lutut Sunny.

Sshh..! ” Sunny mendesis karena rasa menyengat itu, tapi tidak bergeming. Lalu Sooyoung cepat-cepat meniup lutut Sunny, seketika memberi sensasi aneh. Perut Sunny terasa berkedut hingga dia menahan nafas dan tanpa sadar mengigit bibir bawahnya. Sooyoung menyeka lukanya bersih lalu menutup dengan plaster. Kelembutannya terasa menyeluruh bagi Sunny.

” Aku benci kau melakukan ini padaku. ” Sunny berucap dengan bibir mengerucut.

” Melakukan apa? ” Sooyoung bertanya, tanpa menatap gadis-nya karena masih sibuk sendiri.

” Melakukan hal manis disaat aku kesal padamu. Kau menyebalkan! ” jawab Sunny.

Sooyoung mengangguk. ” Ya, aku mengerti itu, tapi kita tidak perlu membahasnya. Aku akan mengantarmu pulang, kau harus istirahat. ” dia berdiri dan membuang kapas ke tong sampah. Sooyoung mengulurkan telapak tangannya yang hangat pada Sunny. ” Kaja. ” ajaknya. Bibir pria tampan yang seksi itu dilumuri kelembutan yang menentramkan saat dia tersenyum pada Sunny.

” Tidak usah. ” tapi Sunny menolak, dia mendengus tajam. ” Aku akan pergi denganmu jika kau merubah pilihanmu. ” dia beranjak dari kursi taman dan melenggang pergi.

Langkah Sunny yang menjauh menggeluarkan suara bergema di lantai taman lalu menyisakan keheningan untuk Sooyoung. Dia pergi meninggalkan Sooyoung begitu saja, yang berdiri membeku disana. Sunny pergi hanya membawa kekecewaan.

– End author Pov –

.

.

.

Sunny Pov

Keesokan harinya…

Khaah~ ” aku menghela nafas panjang. Mataku sibuk menembus kaca yang menyuguhkan pemandangan pantai biru dan pasir putihnya yang bersih. Akhirnya aku benar-benar berada di pantai ini, di Jepang, dan… seorang diri.

Ya.. hanya seorang diri saja. Aku tanpa Sooyoung.

Mengenaskan bukan?

Tapi, setidaknya meski usiaku baru memasuki 20 tahun, bepergian ke luar negeri seorang diri tidaklah masalah. Dan meskipun ada satu hal yang sangat menganjal dadaku seperti bongkahan batu raksasa hingga membuatku sulit bernafas, aku ingin melupakannya sejenak dan menikmati liburanku.

Kulirik jam dinding, sudah pukul lima sore dan ku putuskan meninggalkan hotel. Kurasa pergi keluar dan berjalan-jalan di pantai, lalu menikmati matahari terbenam setelah semalaman menangisi seorang pria adalah pilihan yang cukup baik.

Setiba di luar hotel kulihat langit tampak mendung. Cuaca yang begitu buruk seakan mewakili liburanku, namun aku butuh udara segar. Beruntung belum turun hujan dan aku punya kesempatan untuk pergi keluar. Dengan menggunakan jaket tebal, aku berjalan melewati jalanan yang begitu sepi.

Tampaknya cuaca yang tidak bersahabat membuat pengunjung malas keluar. Tempat ini yang selalu ramai menjadi sunyi, hanya deruan ombak yang saling bersahutan untuk menyambut kedatanganku.

Aigoo~ dingin sekali.. ” gumanku saat angin kencang menerpa tubuhku. Tanganku nyaris membeku karena udara yang begitu dingin, beberapa kali aku mengusap lenganku untuk mencari sisa kehangatan.

Tck! Bagus sekali, tempat yang kupikir begitu romantis dan hangat ternyata itu hanya dalam mimpiku saja. Sungguh sempurna. ” keluhku kesal ketika aku sampai dibibir pantai.

Kubiarkan sesaat dinginnya air laut menyentuh kakiku dengan lembut. Dan saat mataku mengikuti tarian ombak yang begitu indah, pikiranku pun melayang. ” Khaaah~ ” aku menghela nafas panjang.

Ternyata hati kecilku tidak bisa berdusta. Aku sungguh menginginkan sosok Sooyoung yang hangat ada disampingku, memberikan tubuhnya untuk menjagaku tetap hangat ditempat sedingin ini. Tapi…

” Itu tidak mungkin. ” gumanku lirih. Wajahku tertekuk lesu. Seindah apapun tempat ini, pada akhirnya yang tersisa hanyalah kesendirianku yang menelanku hidup-hidup seperti lubang hitam.

Meskipun aku tahu Sooyoung mencintaiku dan selalu mendengarkan kata-kataku, tapi kini dia tidak ada saat kubutuhkan. Aku sungguh tak tahu apa yang membuatnya begitu sibuk hingga mengabaikanku, terlebih di hari spesial kami. Aku marah karena ia selalu menggunakan pekerjaan sebagai alasan. Wajah bahagiaku saat liburan pun sama sekali tidak nampak meski aku berusaha bahagia, aku begitu murung.

” Dasar pria jahat. ” aku berguman lagi. Aku sudah bersabar untuk menahan diri tapi Sooyoung telah melewati batasanku. Dan aku terlalu membenci diriku sendiri karena terlalu mencintai Sooyoung meski aku dikalahkan oleh pekerjaannya.

Aku harus menelan kenyataan pahit bahwa semua telah berakhir. Aku benar-benar sakit dan kecewa. Seandainya Sooyoung mengatakan aku egois dan kekanak-kanakkan atau aku tak pernah memahami perasaannya, itu memang benar. Aku hanya.. terlalu mencintainya dan berharap selalu ada untukku.

Mataku kian meredup, bibirku yang bergetar kugigit untuk mereda kekesalanku. Semakin banyak aku mengingatnya maka semakin besar luka yang timbul padaku. Itu hanya akan memperburuk keadaan.

Tanpa sadar aku menangis disana sendirian, merutuki diriku sendiri. Membiarkan semua kebencian semakin besar. Tempat indah yang harusnya menjadi saksi cinta kami, kini hanya menyaksikan kegetiranku. Aku termakan kesendirian dan kesedihan tanpa ujung.

Liburanku benar-benar membosankan dan sangat menyedihkan sekarang. Benar, aku begitu menyedihkan.

” Ya, taruh itu disana.. itu juga. ” samar-samar aku mendengar suara derap langkah kaki mendekat. Aku menoleh. Di sekitarku yang tadi penuh kebisuan kini berubah saat beberapa orang berlalu lalang dan sibuk mengatur meja dan benda-benda cantik lainnya.

Aku segera mengusap bekas air mata saat seorang pria paruh baya mendekatiku. ” Maaf nona, tapi tempat ini sudah di sewa seseorang secara pribadi, jadi bisakah anda memilih tempat lain? ” memakai bahasa ingris, pria itu mencoba mengusirku secara halus.

” Apa? Kenapa aku harus pergi? Ini adalah tempat umum. Kalian saja yang pindah. ”

” Tapi itu tidak bisa nona. Zona 1 km di area ini telah di sewa secara legal. Apa anda tidak melihat papan pengumuman?  Saya mohon, anda harus pergi ke sebelah sana. ” tunjuk pria itu yang mengarahkanku ke hotel.

” Sungguh menyebalkan.! ” gerutuku tapi aku memilih pergi daripada berdebat karena semua orang memandangiku. Aku merasa terasingkan. Namun sejenak ku sempatkan melirik meja yang dipenuhi makanan lezat serta aksesoris lain yang menambah kesan romantis. Sial! Itu membuatku muak dan.. iri.

Hiks.. ” aku rasa aku akan menangis lagi.

Aku berjalan cepat karena ingin kembali ke hotel sampai-sampai tak sadar ketika seorang pria nyaris kutabrak. ” Bisa kau minggir? ” ujarku, ucapanku mirip sebuah perintah. Tapi dia tak bergeming.

Yaa! Apa kau tidak dengar!? ” aku membentak orang itu dan menatap kesal kearahnya. Tapi pria topi hitam yang wajahnya tertutup sebuah balon pink itu tetap diam.

Tck! Menyebalkan. ” aku menyisih dari hadapannya dan hendak pergi tapi pria itu kembali menutup jalanku. Saat aku bergeser ke kiri dan ke kanan dia terus saja mengekor. Aku dibuat jengkel olehnya. ” YAA! Apa maumu? Cepat minggir! ” astaga~ aku berteriak seperti pengidap depresi dan dia tetap tak bergeming.

Aku mengghela nafas panjang dan berdecak pinggang. ” Woah~! Kau membuatku marah sekarang. Kukatakan sekali lagi atau kau akan menyesal telah menggangguku. Jadi sebelum terlambat cepat menyingkir!! ”

Shireo. ”

DEG!

” Maaf tapi aku tidak mau pergi, nona.. Sunny. ”

Aku tercengang detik itu juga.

Suara itu..

Aku mengenali suara itu dengan cepat. Suara berat dan serak yang terdengar lembut, dan cara nya memanggil namaku…

” S-sooyoung-ah? ” suaraku nyaris tersesat diujung tenggorakan saat menyebut nama itu, suaraku seperti hilang dalam sesaat.

Pria itu menarik balon yang menghalangi pandanganku dan seketika mataku membulat sempurna ketika menangkap senyumnya yang familiar.

” Kau pasti memikirkanku, benarkan? ” ujarnya dengan nada yang begitu manis.

Aku membisu, keheningan dalam sekejap menyeruak diantara kami. Kami hanya saling memandang, menimbulkan kebisuan yang berlangsung dalam waktu cukup lama.

Aku membeku meski Sooyoung telah ada secara nyata dihadapanku, dia berbicara padaku, dia memandangku dan bukan sekedar bayangan. Sooyoung benar-benar ada disini karena kurasakan tangannya yang hangat menyalurkan sengatan listrik ketika dia meraih tanganku. Kehangatannya dengan cepat menyebar ke seluruh nadi di tubuhku, memberi rasa nyaman yang kurindukan.

” T-tunggu, kenapa kau ada disini? ” tanyaku bingung, aku menarik tanganku. ” Bukankah aku tidak penting selain perusahaanmu? ” ejekku kemudian dan Sooyoung tersenyum samar.

” Tentu saja aku datang karena aku takut pacarku yang cantik akan menangis lagi lalu ada pria lain yang melihatnya. Hanya aku yang boleh melihatmu saat menangis atau tersenyum. ” aku memerah mendengar rayuannya tapi menatapnya penuh tanya.

” Aku sungguh tidak tenang jadi kupercepat pekerjaanku dan menyewa tempat ini untuk merayakan hari spesial kita. ” imbuhnya untuk memberiku penjelasan lebih.

Ehem! ” aku berdehem pelan, menyembunyikan tawa senangku dalam hati. Jadi dia yang menyewa tempat ini untukku? Namun cepat-cepat aku memasang wajah tak bersahabat. ” Aku masih kesal padamu jadi meski kau datang, tidak ada yang berubah. Sekarang cepat minyingkir sebelum kuinjak kakimu. ” ancamku dengan nada dingin.

Sooyoung terkekeh, ” Kalau begitu.. sebagai permintaan maaf karena membuatmu sedih dan terluka, maukah kau menerima balon ini sebagai hadiah untuk menebus keselahanku? ” dia menyodorkan balon pink tadi padaku.

Tck! Kau pikir aku balita? ”

” Apa itu berarti kau menolaknya? ”

” Ya. ” jawabku cepat, tanpa pikir panjang.

Dia menggangguk lemah, tampak kecewa. ” Geure, jika kau tidak bisa menerimanya.. ” suara Sooyoung melirih lalu memberi jeda sejenak. ” Aku akan membiarkan balon ini terbang bebas, dan itu berarti.. nasib balon ini akan sama seperti hatiku yang kau biarkan melayang bebas. ”

M-mwo? Sooyoung-ah, apa maksud- ” ucapanku terhenti takkala Sooyoung mengangkat tangannya lalu merengganggkan perlahan jari-jari yang menggenggem erat tali balon, membiarkan balon itu sedikit demi sedikit terbang.

Mataku terbelalak melihat balon pink itu merangkak naik. ” Andwae!! ” teriakku bersaaman tanganku yang menyambar cepat tali balon itu, mencegahnya terbang bebas. ” Apa kau bodoh? Bagaimana bisa kau menyamakan hatimu dengan balon kosong seperti ini!!? ” aku berteriak memarahinya. Tentu saja aku tidak mau melepas hati Sooyoung semudah balon ini.

Dan Sooyoung hanya tersenyum memihat reaksiku. Dia tampak senang aku menerima hadiahnya. ” Terimakasih sudah menahanku. ”

” Kau sangat menyebalkan! ”

” Dan kau sangat cantik. ”

” Aku membencimu! ”

” Aku juga mencintaimu. ” ujarnya dengan senyum lebar yang menggetarkan hatiku. Tapi tak mau terhanyut karena keindahan paras Sooyoun , cepat-cepat aku menarik tanganku namun tangan besarnya menahanku. Jari-jari Sooyoung yang hangat menyelimuti punggung tanganku.

” Aku sudah mengatakannya bukan? Aku tidak akan pernah melepas tangan ini, sampai aku mati sekalipun. ”

” Berhenti merayuku dan berikan balonnya padaku. ” pintaku ketus.

Dia mengangguk tanpa menyudahi senyum manisnya. Sooyoung melepas balonnya tapi kemudian sesuatu terjatuh menuruni tali yang di genggaman Sooyoung, dan benda itu menyentuh punggung tanganku yang sibuk menggenggam tali balon dibawah tangan Sooyoung.

Aku terdiam, memandangi benda kecil itu berbentuk bulatan kecil. Menyadari benda apa itu, aku segera mengalihkan mataku kearahnya. Mataku yang terbelalak menatap Sooyoung dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan. Benda itu adalah sebuah cincin.

” S-sooyoung-ah.. ”

” Maaf sudah membuatmu menangis, tapi setelah ini.. setelah kau menahanku, mau kah kau membuat kenangan yang lebih indah dan menyenangkan bersamaku? Sampai waktu kita di dunia ini berakhir, sebagai.. suamimu. ”

” S-s-suami? ”

” Yes, so.. will you merry me? ”

Aku menatap mata hitam Sooyoung tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Mataku dengan cepat melelehkan bekuan hatiku, mencairkan amarah dan kekecewaanku dan merubahnya menjadi air mata kebahagiaan. Meski tak percaya dengan kejutan ini, aku menggangguk cepat. Tentu saja aku ingin bersama Sooyoung, sebagai istrinya!

Wajah bahagiaku tak bisa ku sembunyikan lagi, aku tersenyum lebar diatas air mata haru. Sooyoung kemudian meraih tanganku, memakaikan cincin manis itu di jariku.

Choi Sooyoung, pria-ku..

Di waktu bersamaan dia membuatku merasakan sebuah perasaan bersalah atas apa yang kulakukan dan merasakan kebahagiaan yang besar menjalari setiap sel di dadaku. Dia sungguh pria tampan dengan segala pesona yang tak terduga. Aku mencintainya.

Chagi-ya~ apa aku membuatmu menangis lagi? ” kedua tangannya menangkup pipiku, memintaku menatap matanya. Benar, air mataku sudah berjatuhan dan turun tak terkendali. Namun sungguh, itu bukan tangis penderitaan. Tapi sebuah kebahagiaan, aku bahagia karena dirinya.

Omo! M-maafkan aku, aku tidak bermaksud- ”

Segera kudekap tubuhnya, aku tidak tahu apa jadinya jika dia tak datang. Dan kejutan darinya sungguh luar biasa, ini seperti bukan Sooyoung yang menyebalkan. Dia sekarang benar-benar menjadi pria manis.

” Terimakasih sudah datang.. Aku mencintaimu Sooyoung-ah. ” aku berbisik. Lalu pelukanku mengerat seakan tak ingin tubuh hangat priaku ini menjauh barang sedikit pun.

” Aku tahu, aku juga mencintaimu. ” ujarnya. ” Jadi jangan menangis ya? ” dia mengusap lembut punggungku, memberi ketenangan dan rasa hangat yang kusukai.

Dan bagaimana liburanku..?

Yeah, tentu saja lebih dari indah! Karena dia ada, bersamaku, disisiku, dan bahkan dia melamarku! Ya Tuhan~~ ini adalah liburan terbaik. Sungguh menakjubkan!

Hariku menjadi sempurna ditempat indah ini karenanya, bersama seorang pria tampan dan hangat, yang mencintai seorang gadis egois dan kekanakan sepertiku dengan tulus.

” Terimakasih, aku mencintaimu.. ” bisikku, hatiku pun juga mengakatannya.

Dia mengangguk lalu memberiku tatapan intens. Senyum indahnya merekah ketika melihat gurat- gurat kebahagiaanku. ” Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu nyonya Choi. ” jawab Sooyoung dan kami saling membalas senyuman, kami di penuhi cinta.

.

.

.

.

** END **

Ini ff lama (aku repost) jd maklum klo ceritanya rada gk jelas dan gampang ditebak. ㅋㅋㅋㅋ
Okay, see u next time ^^.

Advertisements

9 thoughts on “My Day (oneshoot)

  1. Kristya

    Aigoooooooo ketawa gaje aq baca nih ff seorang choi sooyung yg shikshin dan konyolnya minta ampun bisa semanis ini wahhhhh daebakkk mreka sangat cute bersama
    eonnie emnk top dehh klo udah buat ff semanis ini toppp dah pokonyaaaaaaaaa
    Semangat terus ya eonn fightinggggggggggggggggggg

    Like

    Reply
  2. Kimie

    Senyum2 trus aq baca ni cerita,,
    Manis banget soosun nih,, aplg si sooyoung rela di kata2 in sama sunny tapi hati dan cintax tak pernah berubah.. pasangan cute ini bikin iri..
    😍😍😍😍😘😘😘😘😘

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s