(After) Rain – Sequel

image

Title : (After) rain

Author : fofo

Genre : romance, real of life

Lenght : oneshoot – Sequel

Warning! : DONT BE SILENT READER! DONT PLAGIAT! Klo ada typo tolong maklumi.

SANGAT DISARANKAN MEMBACA PART SEBELUMNYA (RAIN)! ^^

SELAMAT MEMBACA.

.

.

Bisakah kau merasakannya?

Hatiku yang tersembunyi,

Selalu aku mencintaimu dalam hatiku.

Author Pov

Di ruangan berdinding putih yang luas dengan meja sebuah meja kayu gelap dan sedikitnya dua kursi yang secorak berada di sekitarnya, juga terdapat sebuah piano putih. Di luar itu, ada jendela dari lantai ke langit-langit dengan pemandangan cakrawala kota Seoul yang terlihat menakjubkan. Tapi dalam kemegahan itu tetap saja menyimpan kehampaan tersendiri.

Di depan piano duduk seorang gadis muda berambut pendek,benar-benar tenggelam dalam musik yang dia mainkan. Permainannya yang pernah dia dengarkan pada seseorang begitu menakjubkan, tapi sekarang lebih sempurna. Musik itu tetap ia mainkan untuk orang yang sama, orang yang bersama gadis itu bertahun-tahun lalu. Tapi dengan sisa ruangan besar dalam kegelapan dia seperti terisolasi, menyisih kedalam dunianya sendiri, tak tersentuh.

Ekspresinya sedih dan kesepian seperti musiknya. Dia sendirian, kesepian, dalam hatinya.

Sejak beberapa menit menarikan jemari di atas tuts piano dia memutuskan berhenti ketika seorang pria berpenampilan sangat menarik dan rapi melangkah masuk kedalam ruangannya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam tajam, kemeja putih bersih, dan dasi coklat bergaris dengan rambut klimis. Dia yang tampak rapi itu mendekat lalu membungkuk pada gadis muda.

” Saya datang untuk menyampaikan laporan terbaru, mungkin..- ”

” Tunggu sebentar. ” gadis yang mengenakan kaos hitam menyelipkan rambut ke belakang telinganya, menenangkan diri dari alunan musik piona yang sempat mengeluarkan emosi yang biasa terpendam jauh.

” Ini tentang dia.. ” pria berparas tampan itu tidak mengindahkan perkataan gadis berambut pendek untuk menunggu sejenak.

Gadis muda mendongak, melihat pria tampan di belakang pianonya dan tersenyum samar, ” Aku paham. ” katanya singkat.

” Anda harus memutuskan. ”

” Sekarang aku tak tahu apa-apa tentang dia, ” gumannya, mencoba untuk menekan rasa gugup yang meningkat. Dia menoleh ke sisi lain. Jalanan sepi ketika dia mengarah pandangan ke luar jendela. ” apa yang harus kulakukan? Semua itu hanya masa lalu. ”

” Apa anda ingin berhenti saja? ”

Gadis itu mendesah dan menggigit bibir bawahnya saat memikirkan dan menenggelamkan wajah diantara kedua tangannya. ” Beberapa orang mungkin mengatakan itu hanya sebuah kebodohan. ”

Ye, itu memang kebodohan. ” gadis bermata hitam menekuk wajahnya saat pria yang ia kenal sejak masih kecil mengatakan yang sebenarnya. ” Tapi anda sudah berusaha keras sejak tujuh tahun yang lalu. ” pria tampan tersebut menambahkan.

” Hm, kau benar. ” dia menurunkan tangannya, masih tertunduk. ” Aku yakin dia tidak akan memikirkan seorang gadis tak dikenal, yang berjanji menunggu dia hampir delapan tahun lalu. ”

” Anda baru berusia 18 tahun waktu itu, seseorang yang baru mengenal cinta. Hal-hal seperti ini sering terjadi. ” ujar si pria menenangkan.

” Hm.. ” dan gadis itu mengangguk setuju. ” Aku pasti.. memang gila. ”

” Anda harus melihatnya. ” Jae Rim mendekat dan bergerak hati-hati saat map coklat ia letakkan diatas deretan tuts piano. ” Dia satu-satunya gadis yang mengaduk-aduk hati anda. Dan semua keputusan ada di tangan anda. ”

” Mungkin dia sudah melupakanku. ” pikiran seperti itu mengirim sengatan menyakitkan pada jantung gadis itu.

” Mungkin dia tidak akan melupakan anda. ”

” Atau mungkin.. dia tidak memiliki apapun lagi untukku. ” ekspresi gadis muda berambut pendek meredup. ” Aku tidak tahu.. sungguh. ” ujarnya lirih. Gadis itu memandangi map yang tergeletak sendu, seakan meratapi nasibnya.

” Jangan membuat seseorang menunggu terlalu lama, penyesalan yang sama jika terjadi lagi, itu lebih mematikan. ” ujar Jae Rim datar, dingin dan penuh peringatan.

Gadis itu tampak berpikir.

Beberapa detik kemudian dia tersenyum samar dan mengambilnya. Dia menegakkan bahu kembali. ” Kau benar, ” Jantung gadis itu berdetak perlahan saat mengingat dia menangisinya hingga larut malam. Dan menyesali waktu yang bersamanya berlalu dengan kosong setelah ia hanya sendiri. ” terima kasih oppa. ”

Pria itu membungkuk hormat kemudian berbalik dan melenggang ke pintu, tumitnya menggeluarkan suara bergema di lantai marmer, menyisakan keheningan untuk gadis itu. Dia keluar setelah meyakinkan majikannya dan pergi melanjutkan sisa dari pekerjaannya.

* * *

.

.

.

Ketika hatiku berada di angin yang dingin..

Aku melihatmu.

Itu adalah cinta.

Someone Pov

Sudah tujuh tahun berlalu dan aku tampak lebih dewasa sekarang dan pastinya berpakaian seperti wanita yang sudah berpengalaman. Rambut hitamku kini tinggal sebatas bahu. Bermata hitam dengan make up minimalis, aku tidak tampak seperti gadis yang baru saja lulus SMA.

Tapi tak pernah ada perubahan, terlebih yang ada di dalam hatiku.

Dan hidupku??

Bagiku, hidup.. itu adalah sesuatu hal untuk dipikirkan. Dan ketika pikiranku berjalan bersama kehidupanku, sebuah kenangan akan mengisiku, tetap mengelilingi hidupku.

Lalu keadaanku?

Yeah, aku baik-baik saja dan terkadang tidak. Tampaknya pekerjaanku sebagai komposer adalah satu-satunya yang ku miliki sekarang.

Aku baru saja berusia dua puluh enam tahun, aku single, aku tinggal sendirian di apartemen mewah dan tidak memiliki anak. Pekerjaanku adalah teman yang menyibukkanku. Tapi di tengah kesibukkan itu, tak hanya sesekali aku teringat dia yang membawa hatiku pergi.

Hanya ada dia saja.

Ketika aku menciptakan sebuah melodi indah dan menghangatkan, menyenangkan sekali perasaan itu jika memang ada di kehidupan nyata dan terjadi padaku lagi. Tapi aku harus menelan mentah-mentah keinginan itu yang tampak indah bagai drama.

Aku beranjak dari kursi, menempatkan diriku di depan jendela lebar yang menunjukkan padaku pemandangan indah kota ini. Matahari sudah bersembunyi di balik awan. Langit pun juga sudah berubah warna menjadi hitam pekat. Seolah tak ingin ketinggalan, petir juga mulai menggemakan suaranya dengan lantang. Gerimis mulai jatuh membasahi permukaan tanah. 

Awan mendung..

Gemuruh petir..

Dan tetasan hujan yang turun.

Ini mengingatkanku pada pertemuanku, dengan gadis bermata indah.

Saat itu.. ketika keluargaku sedang berjuang untuk menjadikanku penerus perusahaan, aku berhenti untuk menjadi penurut. Saat itu, ketika aku mencari mencari jawaban dan memakai pelarian diri sebagai sikap arogansiku, untuk pertama kalinya..

Hujan telah mempertemukan kami.

Hidupku berubah, indah.

Pertemuan itu, untuk beberapa alasan aneh, aku bahagia. Dia wanita yang di luar tampak percaya diri tapi memiliki sifat yang hangat di dalamnya, dan di balik senyum cerahnya.. dia menyihirku.

Tapi untuk hari-hari yang sudah berlalu setelah pertemuan itu, aku menerima serangan yang begitu sakit. Aku menderita. Aku ingin melihatnya, ingin mendengarnya, aku ingin memuji senyumnya. Tapi aku hanya bisa menggigit kegetiranku. Aku merindukannya, selama hampir delapan tahun.

Drrrttt

Lamunanku lenyap ketika aku mendengar ponselku bergetar diatas meja. Aku melangkah menjauhi jendela dan meraih ponselku.

” Nona.. mobil sudah siap, apa yang akan anda putuskan? “ aku mendengar suara Jae Rim oppa di sebrang sana.

Aku diam beberapa saat.

” Apa keputusannya adalah berhenti? Atau.. anda akan pergi? ” tanya-nya lagi.

Kuangkat lembaran kecil dari cengkraman jariku. Aku menatap kertas itu dengan penuh pertimbangan.

” Nona, “

Mataku terpejam. Lalu kuhembuskan nafas dan kembali membuka kelopak mataku ” Ne, kajja. ” jawabku pada akhirnya. Aku menurunkan ponsel dan segera melangkah keluar, menuju mobil yang terparkir di depan apartement.

Aku pergi mengikuti hatiku.

.

.

Flashback

” Apa kau baik-baik saja? ” suara itu lirih dan lembut. Aku merasa nyaman meskipun tidak melihatnya. Aku yang terburu-buru ingin pergi dari kota memuakkan ini sedikit terguncang karena suara itu.

” Kau tidak apa-apa? ” suara itu lebih dekat kali ini dan aku merasakan hembusan nafas hangatnya ketika dia memaksaku untuk melihat ke arahnya.

” A-aah.. ya.. aku tidak apa-apa. ” aku gugup dan menatapnya melalui mata gelapku. Dia masih menatapku. Ada kekhawatiran di matanya.

Gadis itu benar-benar cantik. Pipi merah merona dan bibir mungil namun penuh berwarna pink natural. Wajah cantik itu dibingkai dengan rambut panjang sepunggung berwarna coklat gelap bergelombang dibagian ujung, begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.

Pandanganku beralih ke mata kecoklatan yang berbinar terang, menenggelamkanku dalam jurang tanpa dasar dan aku tahu.. aku sepertinya takkan pernah mampu kembali kepermukaan.

Detik itu juga aku tersadar, ada
sesuatu yang terasa berbeda pada diriku ketika melihatnya. Untuk pertama kali sejak aku hidup, jantungku bergetar karena seseorang, pada gadis yang ku temui beberapa detik yang lalu.

Sejenak aku memutus kontak mata dengannya. Aku menjauh dari rasa gugup dan hendak pergi tapi menyadari kakinya terluka, aku mengurungkan niatku. Aku ingin membayar kesalahanku.

Omo! Lututmu berdarah! ” seruku tiba-tiba, aku berjongkok, segera memeriksanya dan tidak menggubris ucapannya yang berkata jika tidak sakit.

Dengan lembut dan berhati-hati agar tidak menyentuh lututnya yang tergores aku melilitkan sapu tanganku. Lalu kami berpisah setelahnya. Namun aku merasa sangat bersalah melihatnya terpincang. Aku segera berbalik, mengejarnya. Ku abaikan rasa terkejut gadis itu. Aku menarik tubuhnya serta,
menggendongnya saat hujan turun.

Aku pun berlari bersamanya, bersama gemuruh hujan yang menutupi suara jantungku yang mengeluarkan deguban keras dan tak terkendali.

Aku tersenyum diam-diam.

Flashback End

* * *

.

.

.

Getaran kecil di hatiku,

Ini mungkin cinta.

Semuanya yang terlewati adalah cinta.

Dia indah dan menakjubkan. Aku belum pernah setertarik ini pada siapapun dalam hidupku seperti saat itu padanya. Aku mendambakan senyumnya seperti candu, meskipun menyadari itu hanya akan terjadi dalam khayalku. Bahkan hampir delapan tahun memori itu, aku mampu dibuat terpesona olehnya.

Ikatan tanpa sengaja melahirkan perasaan yang luar biasa. Kehadirannya mengubahku. Akan tetapi aku hancur ketika dia meninggalkanku tepat sebelum aku menyatakan perasaanku, pada tahun 2008, setelah aku di terima sebagai traine dan semester pertamaku sebagai mahasiswi jurusan musik.

Benar-benar hancur. Aku tidak pernah bisa tidur nyenyak atau makan dengan baik selama berminggu-minggu. Dia
membuatku benar-benar mengerikan.

Kemudian tidak sampai musim
panas, aku pergi ke Jepang untuk melanjutkan karir dan akhirnya bisa menerima bahwa apa yang pernah ingin ku miliki telah hilang untuk selamanya. Tak ada yang bisa ku perbuat. Perasaanku terjebak di satu titik tanpa bisa keluar, selama bertahun-tahun.

Dia menjadi seseorang pertama yang spesial. Cinta pertamaku.

Tapi bagi orang tuaku, aku hanya seorang gadis kecil yang bermain-main di dunia dongeng, memaksaku kembali pada dunia nyata. Mereka memaksaku berdedikasi pada perusahaan. Yang kulakukan pada akhirnya adalah memendam dengan baik dan melarikan diri. Aku lari, lagi dan lagi hingga menjadi aku yang sekarang. Menjadi kuat untuk tetap hidup sebagai seorang Kim dan orang paling lemah untuk hatiku.

.

.

Flashback

” Kau suka hujan? ”

” Tidak, ” jawabannya cepat. Aku tersenyum samar mendengarnya.

” Menurutku hujan sangat cantik. ” ujarku ketika memperhatikan butiran air yang jatuh, membentuk seperti ikatan yang tak bisa terputus.

” Aku hanya tidak menyukainya karena itu akan membuatku basah. Basah dan bla..bla..bla… ” aku berpaling dari hujan dan mataku berpusat padanya seperti semesta yang mengitari mataharinya.

Secara alamiah tubuhku tertarik magnet yang begitu manis, ” Geunde.. ” ucapanku sengaja menggantung. Aku terpikat untuk mencondongkan tubuhku padanya lebih dekat.

Jariku ingin sekali menyentuh wajahnya, mengeringkan sisa hujan yang membuatnya basah dan tampak tak nyaman. Telapak tanganku ingin menggenggamnya, meremasnya lembut kedalam perlindunganku yang tak akan membuatnya bergetar kedinginan. Dan bibir yang seksi itu begitu menggoda seakan ingin dihangatkan dari hembusan angin hujan.

” kau juga.. sangat cantik. ” Dia tertegun seperti manekin karena perkataanku.

Oh Tidak! Dasar bodoh! Kenapa aku seperti wanita perayu yang amatiran! Aku merasa takut dia akan marah karena ucapanku. Namun matanya yang indah mengunciku, aku sulit berpaling darinya.

Saat seperti ini, seandainya… aku membayangkan dia menarikku lebih dekat kearahnya.. mungkinkah?

Omo! Andwae! Andwae!

Kurasa aku yang gila!

Tapi aku hanya diam di tempatku tanpa melakukan apapun. Tubuhku tidak bergerak seinci pun untuk sesaat ketika dia mengeluarkan hembusan nafas yang lembut. Aku menatapnya, memperhatikan seluruh sudut wajahnya. Mata coklat itu lebih dekat kepadaku daripada saat yang lalu, dan aku bisa mencium aroma wangi tubuhnya. Sesuatu yang begitu harum sehingga begitu manis untuk tetap mematung di sampingnya.

Aku begitu menikmati moment ini hingga tak ingin cepat berakhir. Namun yang terjadi, aku harus pergi, terlalu malu dengan caraku mengungkapkan hatiku akan kekagumanku padanya. Aku pun menarik tubuhku, mengulurkan tanganku dengan canggung. ” Senang bertemu denganmu. ” dia hanya menatap dengan raut bertanya-tanya.

Setelah sekian detik dia membalas uluran tanganku. Dan saat telapak tangannya menyentuhku, sebuah sengatan listrik menjalar dari urat nadiku, menyebar pada seluruh tubuhku. Tangannya memberi cengkraman lembut. Dan panas.

Geunde, neo irreumen mwo-ya? ” tanya-nya menyelidik.

Namaku? Dia menanyakan namaku?

Apakah.. dia juga setertarik diriku padanya?

Aku menyembunyikan senyum bahagiaku, aku merasa haru. Mataku menatapnya intens. Dan mata coklatnya masih begitu dalam menatap mataku. Dia sungguh cantik.

” Kau lupa namamu? ”

Tentu tidak! Tapi..

” Bisakah aku membuat jawabannya menjadi sebuah alasan untukku? Untuk bertemu lagi denganmu. ”

Ne? ”

” Ketika hujan di waktu yang sama seperti hari ini, aku juga akan menunggumu disini. ” ujarku seperti sebuah janji yang menggema di riuhnya hujan. Dia terlihat manis saat tampak bingung dengan jawabanku. ” Oh! Busmu.. ” aku memberi isyarat dengan kepalaku dan ia mengikuti kearah bus yang dari kejauhan mendekat. Aku pun beranjak pergi.

Chakaman-yo! ” matanya berpindah padaku lagi, ” Dan sapu tanganmu.. bolehkah aku menjadikan itu sebagai alasan juga untukku? Untuk bertemu lagi denganmu. ”

Seperti lampu hijau di lalu lintas, itu memberikan sebuah petunjuk untukku, bahwa dia juga senang jika kami bertemu lagi. Aku tersenyum lalu mengangguk, ” Tentu, ketika takdir berpihak.. kita tetap akan bisa bertemu. ” ujarku dan aku meringis dalam hati saat ia melepas genggamannya.

Takdir.. aku harap benar-benar memberiku kesempatan untuk melihatnya lagi, lagi dan lagi, tanpa batas.

Flashback End

* * *

.

.

.

Apa kau tahu?

Aku memikirkanmu.

Selalu mencintaimu dalam hatiku, begitulah caraku hidup.

Mobil yang dibawa Jae Rim oppa bergerak meninggalkan apartemen mewahku. Baru beberapa menit aku duduk di kursi, langit sudah mencurahkan hujan teratur tapi lebih rapat.

Didalam mobil mataku fokus memperhatikan selembar foto yang menakjubkan. Begitu hebat hingga aku merasa bergetar dan berkeringat dingin karena kertas itu menggambarkan senyumannya yang melelehkan.

Aku menatap foto itu tanpa putus hingga mobil melambat di lampu merah. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Gerimis yang tadi jatuh telah diganti guyuran lembut. Tepat saat itu aku melihat ke trotoar. Aku tersenyum, didalam rasanya berdebar dan kacau ketika mataku berjalan pada sebuah halte dengan kecepatan lambat.

” Cantik. Saat tersenyum kau sungguh cantik. “

Aku mengingat ucapanku kala itu. Dia memang sangat cantik. Senyumannya sehangat mentari yang baru muncul di waktu pagi, lembut dan hangat. Ketika dia tersenyum, dia memiliki lengkungan indah di bibir dan dua matanya memiliki garis eye-smile sempurna.

Keindahannya menggetarkanku.

Semakin lama senyumanku nyaris pudar dan menyisakan senyum kegetiran. Kenyataannya, perasaanku bagai bayangan gelap yang hanya bisa dilihat namun tidak pernah dapat menyatu atau dirasakan.

Akankah tetap seperti ini?

Terlebih aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjadi dewasa bersamanya dan membuatnya jatuh cinta padaku. Beberapa bulan setelah pertemuan terakhir, aku mendengar dari Jae Rim oppa jika keluarganya tak lagi di tempat yang sama denganku.

Dan aku tak pernah melihatnya lagi, tak pernah mendengar sekilas saja kabarnya selama bertahun-tahun tahun. Menghilang begitu saja.

Keindahan itu terkadang ingin ku lupakan saat frustasi menyerangku tanpa ampun. Tapi tidaklah mudah. Kenangan-kenangan itu masih segar berkejaran di otakku, yang saling mencoba untuk hadir lebih dulu. Rasa frustasi tak pernah benar-benar mampu mengikis rasa hangat yang dulu pernah memenuhiku.

Berjalan melewati tempat-tempat seperti ini seakan membawaku kembali membalik waktu, ke masa-masa yang lebih membahagiakan, masa-masa dimana aku dipenuhi dengan harapan serta cinta.

Sepenuhnya bahagia,

Sepenuhnya lengkap.

.

Flashback

” Kau adalah seorang Kim! Penerus KnK group! ”

” Tidak appa! Aku hanyalah Taeyeon, seorang gadis biasa! Aku adalah seseorang yang mencintai musik dan kehidupanku yang normal. ”

” Hentikan main-mainmu dan segera pergi ke tempat mereka menunggu. Ini adalah kesempatan untuk kita memperbaiki kondisi perusahaan. Cepat ganti bajumu dan jangan menentangku lagi! ”

” Apa appa tahu? Sejak awal hanya ada keinginan appa, perusahaan appa dan uang appa! Tapi disana tidak ada aku. ” bibirku bergetar menahan tangis yang ingin melemahkanku. ” Apa appa pernah menanyakan bagaimana hatiku? Pernahkah appa memikirkan perasaanku saat memaksaku menikah dengan orang yang tak ku cintai? ” ujarku lirih, suaraku hampir hilang tertelan kesedihanku.

” Itu tidak penting sekarang. Lakukan semua hal, sesukamu setelah kau menikah dengan Hyunsik. ” ujarnya lirih tanpa menatapku.

Hatiku bagai dipukul palu besar saat kehidupanku dibuat seperti sebuah kontrak yang di jual pada mitra bisnis oleh ayahku sendiri. Itu membuatku merasa sakit, membuatku nyeri.

Tidak! Aku tidak akan pernah melakukannya! Bahkan jika aku akan mati sekalipun.

Tanganku yang gemetaran terkepal kuat, aku memusatkan tatapan tanpa keraguan pada ayahku yang berdiri penuh amarah. ” Maafkan aku appa, tapi perusahaan dan pertunangan membuatku muak. Cukup Jaewon oppa yang ayah kendalikan, tapi aku..! Aku tidak bisa menuruti kemauan appa lagi. ” aku menentangnya dengan jelas, membuat kilatan amarah semakin menyorotiku dengan begitu gelap dan kejam.

” Kim Taeyeon! ” ayahku menggeram, rahangnya mengeras seiring perlawanan yang tak pernah ku lakukan kini aku melakukannya.

” Seseorang sedang menungguku sekarang. Jika aku tidak pergi aku akan lebih menyesal daripada kehilangan warisan dan perusahaan appa. Maafkan aku, aku harus pergi. ” kataku sebelum beranjak pergi.

” BERHENTI! ATAU KAU AKAN MENYESAL! ”

Tanpa menjawab ancamannya, aku melangkah pergi. Meski aku sendiri merasakan sakit yang menyengat saat mengingkari hati ayahku, tapi aku tak bisa mengabaikan rasa pedih yang muncul dari dalam dadaku karena keputusannya.

” TAEYEON-AH! KIM TAEYEON!! ”

Langkahku melesat begitu cepat seakan hendak menembus angin. Kemudian tidak ada teriakan lagi, kurasa ayahku hanya menatap punggungku sampai aku menghilang dari ruangannya.

Maafkan aku appa.. tapi aku harus pergi untuk kebahagiaan yang pantas ku miliki.

.

.

Setelah satu tikungan, mobil yang dikendarai Jae Rim oppa berhenti di pinggir jalan. Aku pun turun di tempat yang ku inginkan, tempat dimana seseorang yang kutunggu berada. Seulas senyum begitu nyata seakan menghapus kelamnya jalan hidupku ketika mataku tertuju padanya. Dia ada disana, bergerak gelisah seperti menanti seseorang.

Mungkinkah dia menungguku?

Aku terhipnotis ketika memperhatikannya. Sejak saat aku menatap punggungnya, dia membuatku berdebar cepat. Bergegas aku mendekat ke tempatnya berdiri.

” Kau masih di sini? ” tanyaku seiring jarak yang semakin ku kikis hingga berada lurus di balik punggunya.

Tepat saat dia berbalik, aku rasa dewi afrodit sudah menembakkan panah cintanya ke dada ku. Mata indah itu memandangku, mengamati kedatanganku.

” Ooh.. n-ne” dia tampak terkejut dengan kemunculanku. ” Kau sendiri bagaimana? ”

” Aku sedang menunggu seseorang. ” jawabku, bohong. Lalu pandanganku turun seiring matanya yang menatap heran pada benda yang kubawa. ” Dan ini.. aku hanya ingin tetap kering agar terlihat lebih baik untuk seseorang yang kutunggu. ” jawabku sembari tersenyum simpul, aku tahu alasan kenapa mata coklatnya tertarik menatap payung biruku.

” Tapi hari ini tidak hujan. ”

Aku menggeleng lemah, ” Tidak, masih belum. ” kepalaku menengadah keatas, meneliti pergerakan awan yang pekat. ” Hujan sebentar lagi. ” ujarku lirih. Awan pekat itu membuatku merasa dingin, mengingatkan pertengkaranku dengan ayah. Seandainya hidupku bagai awan pekat itu.. setelah menurunkan hujan yang membebaninya, pasti semua akan kembali cerah dan lebih baik.

” Apa sesuatu terjadi? ”

Eoh? O-oh.. tidak ada. ” aku menyudahi lamunanku dan menatapnya. Saat itulah kusadari mata indah itu menyorotiku dipenuhi kekhawatiran.

” Mungkin ini sedikit berlebihan atau hanya perasaanku saja, tapi.. kau tidak terlihat baik. ” dia mendekat.

Aku hanya terdiam.

Aku ragu-ragu. Namun dengan jelas menyadari hembusan nafasnya yang menerpa wajahku, mengirim sinyal-sinyal listrik ke seluruh permukaan kulitku. Tapi meski aku ingin mengatakan sesuatu, aku tidak ingin melakukannya. Lagipula hanya dengan dia disampingku, bahkan tanpa sepatah kata pun.. aku bahagia. Dia ada di sini, bersamaku, aku lebih dari cukup untuk mendapat getaran yang membahagiakan.

” Kurasa aku sudah melibihi batas. Tapi jika kau merasa butuh pendengar, anggap saja aku tembok yang bisa mendengarkan. ” nada bicaranya semakin melembut.

Oh.. Ya Tuhan.. suaranya membuat jantungku melompat-lompat. Dia begitu indah.

” Tidak ada tembok secantik dirimu. ” dia tersenyum karena pujianku, menggodaku untuk semakin mendekat. Senyum itu sehangat mentari yang belum pernah kulihat. Tatapan dari sepasang mata indahnya secerah langit yang dilumuri kelembutan.
Dan gerakan tubuhku tak bisa ku kendalikan, aku menutup jarak sampai menyisakan satu jengkal saja. Kupandangi dalam-dalam setiap sudut wajahnya.

” Cantik. Saat tersenyum kau sungguh cantik. ”

Seolah mendukung suasana, gerimis kecil mulai turun dengan cepat. Lalu situasi berubah hening dalam sekejap, dan kemudian menyisakan irama hujan deras yang akhirnya datang. Tapi aku tidak peduli, aku masih ingin disini. Bersamanya.

Mataku begitu sibuk menembus kecantikannya. Aku hampir lupa diri dan terjebak dalam keindahannya. Kilauan rambut coklat yang gelap membutakan. Mata coklatnya yang terbius karena sorotanku.. Sungguh, aku tidak pernah melihat wanita yang begitu sempurna sampai saat ini. Sampai saat aku sadar bahwa aku terlalu dekat dengan wajahnya!

Aku mengerjap, berpikir cepat untuk tidak membuat kekonyolan di depan gadis yang ku kagumi. Oh! Musik!! Aku datang karena itu, karena musik!

” Mau mendengarkan ini? ”  aku
menyodorkan salah satu earphone, memecah keheningan tanpa menarik tubuhku. ” Aku membuatnya untuk seseorang. ”

Ya, aku membuatnya untukmu..

Alisnya bertaut.

” Tapi ini masih belum sempurna. Mungkin mendengarkannya bisa membuatmu merasa hangat. Kau mau mendengarnya? ” imbuhku berusaha hilangkan kekakuan.

” Tentu, semoga tidak mengecewakan. ”

Alunan dari piano mulai terdengar sepanjang deru hujan yang mengelilingi kami. Saat musik mengalun, lagu indah nan sendu membuat kami terhanyut oleh dentingan halus di siang yang basah oleh hujan.

Lagu spesial untuknya terus
menggema memenuhi telinga kami. Alunannya berirama membentuk sebuah intonasi yang mampu menghangatkan hati, seakan menangisi sesuatu. Sesuatu itu telah membuat hal yang indah untuk menyambut kedamaian.

Ditengah kebiusan, diam-diam aku memperhatikannya. Berbeda dengan saat pertama aku melihatnya, kali ini wajahnya di poles make up tipis dan tidak ada air yang membuatnya basah. Semilir angin nampak menerbangkan helaian demi helaian rambut kecoklatan miliknya. Bibirnya yang tipis membentuk garis tipis melengkung saat menikmati musikku.

Seluruh tubuhku kemudian berhenti padanya. Aku tidak berhenti memandanginya. Entah kenapa.. hanya dengan melihatnya seperti ini, membuatku merasakan kesejukan dalam hatiku.

Dia membuatku tersenyum, berdebar, gugup dan takut akan waktu yang terus berlalu dalam satu waktu ketika bersamanya.

Aku merasakan perasaan luar biasa.

Aku merasakan letupan dalam hatiku.

Flashback End

Aku merasa lampu pasti berubah karena mobil mulai bergerak lagi. Aku mengusap kasar wajahku. Kehangatan dari mobil dan kenyamanan dari kursi kulit ini terasa tidak membantu keresahanku. Degubanku begitu kencang hingga menekan dadaku.

Sepertinya.. aku akan mati dalam perjalanan karena getaran dadaku begitu kuat seperti ledakan teror.

***

.

.

.

Aku bermimpi bersamamu.

Satu satunya,

Bersamamu.

Aku akan tetap berada disampingmu.

” Nona, kita sudah sampai. ” ucapan itu membuyarkan lamunanku.

Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian mengalihkan pandangan kearah langit berwarna pekat yang menurunkan hujan lebat. Tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Mataku beralih pada tempat yang begitu ramai, tempat yang memungkinkan untuk bertemu dengan orang yang mungkin… menungguku.

” Tidak turun? ”

” O-oh.. Ne.. ” ujarku dan segera mengambil payung pink yang bersandar di dekatku. ” Gomawo Jae Rim oppa.. terima kasih untuk semuanya. ”

” Tidak masalah. Pergilah, kau akan menyesal jika terlambat. ”

Aku tersenyum tipis padanya lalu menarik payung dan melangkahkan kaki meninggalkan mobil. Aku berdiri sejenak, menyesuaikan udara dingin dan menyedot orama hujan yang mendebarkan lebih dari biasanya. Aku menghela nafas dan kemudian mendorong tubuhku menuju suatu tempat yang telah Jae Rim oppa beritahu.

Langkahku yang awalnya pelan berubah kian cepat setiap detiknya, menyalip orang-orang yang menghalangi jalanku. Bersabar aku menyusuri jalan mencari sosoknya. Aku terus melangkah setapak demi setapak, meniliti tiap sudut yang semakin membuat hatiku di selimuti kegugupan luar biasa.

Mataku menatap ke setiap sudut. Mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan olehku. Entah sudah berapa lama aku mencari, setiap sudut sudah ku telusuri, namun… sama seperti tadi. Aku tidak menemukan apa-apa di sekitarku.

Aku bingung kemana lagi harus mencari, sungguh aku tidak mengerti kenapa situasi ini begitu mencekikku. Kepalaku tak henti-hentinya menoleh ke kiri dan ke kanan. Kakiku bergerak tanpa lelah. Dadaku panas dan menyesakkan, ingin meledak hingga nyaris membunuhku.

Aku takut jika ini hanya berupa mimpi, mimpi yang paling buruk jika kesempatanku hilang. Sampai akhirnya…

Yes Daddy.. ”

” Tentu daddy, aku juga ingin segera pulang. ”

DEG!!

DEG~ DEG~

Suaranya yang terdengar begitu dekat membuatku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku menoleh ke sumber suara. Mataku terbius seketika, terpaku dengan dada yang bergetar tak terkendali. Pada detik ini, hatiku pun kembali.

Aku menemukannya! Dia berdiri tepat di sebrangku.

Apa aku bermimpi?

Aku masih terengah-engah, mencoba untuk memperlambat pernapasanku, jantung berdebar dan pikiranku kacau tak beraturan.

Benarkah??

Apakah ini bukan mimpi???

Aku menggeleng kuat-kuat.

Tidak! Ini adalah nyata!

Karena.. dia tetap mengagumkan.

Aku tak tau lagi apakah aku sedang tersenyum bahagia atau menangis haru. Kaki ku mulai bergerak kembali, diam-diam berjalan ke arahnya, tertarik oleh keindahan yang biasa mencekiku ketika sepi menelanku, saat mengingatnya.

” Sedikit. ” ujarnya pada seseorang lewat ponselnya. Dan dia tersenyum. Gadis itu memamerkan senyuman yang ku tunggu. Senyum indahnya kuyakini mengalahkan hangatnya mentari, jenis senyuman yang mampu melumerkan batu karang paling keras sekalipun. Aku terpesona, selalu, bahkan dari sepotong foto saja.

” Cantik. ” ujarku tanpa sadar.

Nde, arraseo daddy~

Tiba-tiba tubuhnya bergerak setelah mengakhiri pembicaraan lewat ponsel. Dia merenggangkan tubuhnya, melangkah masuk bersama hujan dengan gaya pesonanya yang khas. Aku berdiri ditempat, mengamati gerakannya. Caranya bergerak membuatku terhipnotis. 

Ribuan tetesan kecil dari langit yang menyentuh pori-pori kulitnya mulai membuatnya basah dan kedinginan namun itu tidak mampu membuatnya berhenti. Sedang aku tidak pernah berhenti menatap gadis itu. Dia berdansa dengan nyaman dibawah derasnya air dari langit. Tetesan air yang mengenai tubuhnya membias indah, butiran-butiran itu berkilau menyelimuti sosoknya. Dia terlihat menyatu dengan hujan.

Sudut-sudut bibirnya kemudian tertarik keatas, menyunggingkan senyum yang tak pernah kulupakan. Tanpa peduli jika dia basah, gadis itu membiarkan senyumnya mengembang. Senyumnya membuatku terpesona lebih dari waktu aku mengingatnya dalam ingatan, aku benar-benar melihatnya sekarang.

Sangat cantik. Sangat menawan.

Aku merasa nafasku tertahan di leher. Sepertinya aku begitu serakah karena aku sangat ingin mendengar tawanya juga.

Kenangan mendebarkan ini kembali kudapatkan. Aku ikut tersenyum melihatnya bermain-main dibawah guyuran air seolah mulai akrab dengan hujan. Tampaknya dia tak lagi membenci hujan.

Gadis itu kemudian diam membelakangiku. Dia sudah berhenti. Tangannya menutupi wajahnya yang mendongak keatas seolah membaca langit yang menghitam. Dan aku mengikuti jejaknya menatap langit. Tapi kali ini langit yang biasa mencuri perhatianku telah terkalahkan olehnya, pandanganku turun padanya yang masih memandangi langit dengah wajah sendu. Semuanya, apa yang ada dalam gadis itu tak lepas dari pengamatan mataku.

Hingga seakan telah puas memandanginya, aku mendekat tanpa ragu dan menghentikan langkahku tepat di sampingnya. Aku menaunginya dari rentetan hujan yang membasinya wajah dan tubuhnya. Aku ingin menatapnya wajah lembutnya yang terbingkai rambut berwarna coklat tanpa ada hujan yang menjadi penghalang.

Kedatanganku yang tiba-tiba membuatnya tersentak. Dia berpaling, mata coklat lembutnya yang bersinar turun menatap mata hitamku. Mata kami pun bertemu, beradu pandang pada satu garis lurus setelah bertahun-tahun nyaris tak pernah kami lakukan. Dan aku tidak bisa melepaskan mataku dari tatapannya.

Lagi.. aku tersesat jauh kedalam mata indah coklatnya.

Dalam hitungan detik, kembali aku mendapatkan tatapan kehausan dari gadis yang mematung melihatku.

Berdesir… itulah yang ku rasakan pada saat tatapannya menusuk dalam ke mataku.

DEG~ DEG

DEG~! DEG~!

Jantungku pun bergetar. Aku merasakannya lagi! Debar  jantungku yang ingin meloncat keluar. Aku nyaris tak berkedip karena tak bisa menguasai diri.

Sedangkan dia… dia tampak sangat syok. Wajahnya mengatakan, sepertinya aku tak nyata, menganggapku seolah-olah hanyalah kekosongan udara. Untuk meyakinkannya, aku memotong keraguannya hingga menyisakan jarak satu jangkah. Aku mendekatinya yang hanya bisa berdiri membeku.

Kemudian aku melihatnya. Wajah cantik itu, tersirat campuran banyak emosi yang terpendam dan takkan pernah bisa aku terjemahkan. Dia menatapku dengan ekspresi penuh kebimbangan. Dalam keheningan kami berpandangan cukup lama.

Tanganku bergerak meraih tangannya lembut, menggenggamnya penuh dalam tanganku. Aku merasakan berat tangannya digenggamanku. Lalu kuberikan payungku padanya. Sejak tadi aku tidak meninggalkan wajahku sehingga mata kami tetap bertemu. Dia adalah seorang beraroma sangat harum, aku bisa mencium aroma wangi yang begitu ku rindukan.

” Kita pernah bertemu sebelumnya.. ” kataku yang nyaris seperti bisikan.

” ………. ” dia masih membeku.

Karena itu, ku beranikan memanggilnya namanya. ” Tiffany-ssi.. ” panggilku lembut.

Dalam kebisuan dia tersenyum kaku padaku. Kedua mata yang indah itu berkaca-kaca.

Sedang diriku..? Aku juga sama.

Mataku memanas, dadaku terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bergejolak. Jantungku berdebar kuat. Tidak percaya dengan penghilatanku, kekaguman pada gadis yang biasa hadir dalam mimpiku yang semu kini benar-benar nyata.

Bogoshipo.. ” perkataan itu meluncur begitu saja, membuatnya terbelalak. Tapi ini adalah saatnya.. Ini adalah ujung penantianku. Aku tidak bisa lagi membendung kerinduan yang menggila dalam dadaku. ” N-nan.. jeongmal bogoshipo..

Tangannya terangkat ke arahku, jari-jarinya kemudian bergerak pelan di atas wajahku untuk mengusap jejak basah yang memenuhi permukaan kulitku. Dia mengusapku lembut meski dengan tangan gemetaran. Bisa kurasakan kehangatan yang mengalir dari telapak tangannya. Tubuhku mendapatkan  kenyamanan yang membuatku merandang. Karena saat dia menyentuhku, ada aliran listrik statis yang tidak wajar.

Tiffany tersenyum, dia memberikan senyumannya yang paling indah untukku. ” N-na..n-nado! ” ia menggigit bibir bawahnya seiring satu kata yang terbata itu meluncur, melelehkan bekuan hatiku yang terbiasa menyiksaku. jarinya terasa bergerak, mengusap-ngusap pipiku lembut seakan dia mencari kepastian keberadaanku di depannya. ” Aku.. juga, merindukanmu..hiks..”

” Aku datang.. aku datang untuk memenuhi janjiku. Aku ingin mengenalmu lebih baik. Dan.. karena datang terlambat, maafkan aku.. ” ucapanku hampir terhenti karena air mataku ingin mendahului keluar. Dia mengangguk cepat sambil menatap mata gelapku dengan mata yang mulai dipenuhi air mata.

Sepertinya aku bisa mengerti kenapa aku begitu menyukainya
sekarang. Ternyata benar-benar mendebarkan melihat setiap ekspresi yang muncul di wajah ini karena setiap tindakan yang kulakukan.

Dengan lembut kutarik Tiffany dalan pelukanku, dia tidak menolak. ” Terima kasih. ” gumamku, senyumku melebar. Aku tidak lagi bisa menyembunyikan kelegaan dan kegembiraanku darinya. Dia menyandarkan tubuhnya kepadaku, menumpahkan rasa harunya yang meluap-luap, membuat matanya basah. Aku mengusap punggungnya penuh rasa sayang.

Seluruh tubuhku memeluknya erat-erat penuh kebahagiaan. Namun tak ku duga dia mendekatkan wajahnya dan rasanya saat ini jantungku berhenti bekerja. Aku nyaris pingsan di tempat ketika merasakan hembusan nafasnya menyentuh pipiku yang memerah.

Chuuu~~

Mataku terbelalak saat sentuhan lembut dari bibirnya menyentuh pipi merahku. ” Kurasa kita harus berkencan. ” awalnya aku tertegun tapi kemudian aku tersenyum lebar mendengar ucapannya.

Saat ia bergerak mengusap air matanya, aku menangkap tangannya, meremasnya yang di penuhi kelembutanku. ” Kurasa, kita sudah cukup umur untuk itu. ” jawabku yang disambut tawa kecilnya. Aku ikut terkekeh dan kami tertawa bersama-sama. Lalu tiba-tiba saja mata kami bertatapan dengan dalam, dan sesuatu terjadi begitu saja. Suasana penuh canda berubah menjadi lebih… intim.

Tubuhku bergerak begitu saja tanpa aba-aba, wajahku mendekat dan lebih dekat lagi. Bahkan entah sejak kapan kami membiarkan payung yang harusnya melindungi tergeletak tak bernyawa begitu saja. Ketika aku menundukkan kepala untuk menyentuh bibirnya, dia memejamkan mata.

Perlahan aku memiringkan kepala, mendekatkan bibirku menuju bibirnya. Waktu yang melambat ini tak dapat menyembunyikan kegugupanku. Rarasanya aku akan meledak segera. Seolah ada ratusan kembang api meletup-letup di dalam perutku.

Dan…

Chuu~~

Dibawah hujan, kami akhirnya benar-benar bertemu.

Bibirku mulanya terasa dingin ketika menyentuh bibirnya yang lembut. Aku mengecupnya dengan lembut, memagut bibir bawahnya. Aku menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Setelah yakin dia menerimaku, aku menggerakkan tangannya dan membimbingnya untuk merangkul leherku. Aku memeluk Tiffany erat-erat dan melumat bibirnya.

Ciuman kami sangat luar biasa, Tiffany membalasku. Semula dari yang dingin lalu panas kini menjadi membakar. Aku melumat bibirnya intensif, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirku. Perasaan kami semakin dalam yang terjalin di sana, bibir kami berpadu dan tubuh kami menjadi semakin rapat.

Perasaan ini tidak akan pernah kubiarkan lari lagi dari hidupku.

Hingga aku mati, tak akan ku lepaskan tanganku darinya.

Akan kubuat jejakku yang takkan bisa terhapus darinya bahkan setelah hujan turun sekalipun.

Setelah ini.. setelah hujan reda. Kami akan berjalan keluar bersama-sama, berpegangan tangan seperti pasangan.

Karena meski waktu menembus hingga bertahun-tahun atau seratus tahun pun, aku tetap mencintainya.

Karena dia mencintaiku.

Dan karena kami..

Saling mencintai.

*** E.N.D ***

.

.

.

.

.

Nothing sequel again!

Aku putuskan buat updet bbrp oneshoot yg sudah aku post dulu.
Aku akan post ff romantic blue di wp mystarfanfic sampai End. Wp ini hanya untuk bantu promo dan maybe.. akan aku post ff baru disini. Ingat, maybe~~ XD
Tapi kita liat kedepannya nanti gmn ya.. 🙂

BYE

Advertisements

14 thoughts on “(After) Rain – Sequel

  1. taenybooboo

    toh kan bener itu taeyeon… akhir nya mereka bersatu … aku kira bkl sad ending coz br bc di awal nya … udah bikin aku pgn mewek aja…

    Like

    Reply
  2. novita_alfiah

    Annyeonghaseyo. Salam kenal. Gue blm baca yang sblmnya tapi gue bener2 tertarik sama ff ini. Gue bakal baca yang sebelmnya 🙂
    fighting!!

    Like

    Reply
  3. brigittagapes

    Akhirnya…. mereka bersama jga. Udh feeling sih ntuh si tae… dan ternyata sekali berjodoh akan tetap jodoh kemanapun hati membawa. Berarti selama ini tae udh nyari keberadaan tippa… ahhh… so sweetttt…
    Thanks thor see yaaaa n hwataengggg!!!!

    Like

    Reply
  4. ryan

    Aaaakh asli sweet pisan ini teh,
    Pas kemaren liat moment mereka meski ga se intens biasanya, ckp ngobati kangen.. skrang baca ff ini wah, bapeer dah bapeer hahaha

    Like

    Reply
  5. SiMidget

    Kkkyyyaaaaaa, paraaah banget sweetnyaa 😱😱😱😭😭😭😭😝😝😝😝
    Kalau semua ff lu manis kyk gini, dijamin gw bakal kejang2 krn overdosis!! Ini terlalu kereeeen thooorrr 😭😭😭😭😭👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻

    Like

    Reply
  6. Kimie

    👍👍👍👍👍
    Ini mah sweet dan klewatan sweet banget,, kyk film romantis ciuman d bwah rintikan hujan,, ❤️❤️❤️❤️❤️

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s