Rain (oneshoot)

image

Title : rain

Author : fofo

Genre : romance, real of life

Lenght : oneshoot

Cover by : Rini Puspitasari

Warning! : ff ini memiliki alur acak (maju mundur) jadi perhatikan tanggal yg tertera. Harap konsentrasi saat membaca agar tdk bingung. Klo ada typo tolong maklumi. ^^

SELAMAT MEMBACA.

.

.

Hujan datang padaku.

Air hujan yang menghibur.

Kenangan turun saat hujan, menyebarkan rasa rindu.

Itu menyebar di sudut hatiku, aku bisa mendengarmu.

Seoul, 3 Februari 2015.

– Someone PoV –

Suara alunan piano dalam sebuah restoran terdengar menenangkan, harmoninya menyatu bersama suasana malam. Aku terdiam dan membiarkan pikiranku melayang seperti nada dentingan piano yang merdu.

Semua yang kosong dan hilang, ingin kembali aku menemukannya. Kubiarkan anganku melayang bebas diantara keramaian sekitarku yang tak ingin ku jamah.

Suara lembut yang menyapa.

Aroma yang tertinggal.

Tarikan lembut yang jatuh padaku..

Lengkungan bibir yang menangkan.

Janji yang memudar.

Dan semuanya, segala sesuatu yang berlalu cepat..

Aku kembali melihatnya dari dalam hati.

Aku termenung.

Bibirku tersenyum,

Namun…

” Hei.. ini sudah bertahun-tahun berlalu, masihkah kau..? ” suara lirih seseorang perlahan dan semakin jelas memasuki gendang telingaku, membangunkan diriku dari lamunan. Aku tersenyum samar, menyembunyikan senyum getir karena memori lama sejenak melintas. Rasanya seperti tersengat jutaan volt menghantam dadaku ketika tersadar, kenyataannya adalah, bahwa aku hidup pada tahun ini, di tahun 2016.

” Aku tidak bermaksud melamun. Hanya saja.. musiknya sangat indah. ” kataku beralasan. Alunan musik membuatku melayang tanpa kusadari. Kepalaku kemudian tertunduk. ” Maaf, ” sesalku.

” Lihat aku.. ” aku mendongak, mengikuti perintahnya yang lembut. ” Apakah itu masih menganggumu? Tapi kurasa kau harus benar-benar berhenti sekarang. ”

” Ya, aku tahu. ” kuanggukkan beberapa kali kepalaku. ” Aku hanya… tiba-tiba mengingatnya. ” ujarku lalu kusesap mug putih berisi kopi hangat dari restoran yang kami tempati.

” Ku pikir.. kau sudah terbebas. Maaf jika aku baru saja menyudutkanmu dengan perkataanku, tapi aku hanya cemas ketika melihatmu termenung seperti tadi. Kau tampak sangat jauh dan tenggelam disana. ”

Aku terkekeh kecil mendengar suara cemas berlebihan temanku yang sudah ku kenal sejak kami duduk di bangku SMA. Ya.. temanku yang paling mencemaskanku karena mengetahui perjalanan hidupku. ” Terimakasih sudah mencemaskanku tapi sebaiknya simpan saja rasa cemasmu itu mulai sekarang. Aku takut aku bisa jatuh cinta padamu bila terus memperlakukanku seperti kekasihmu. ” ujarku, mengejek.

Mwo?? Yaa! Itu tidak akan kubiarkan. ”

Kekehanku tak tertahankan lagi melihat ekspresi wajahnya yang menatapku geli, kurasa humorku yang tak terlalu buruk. ” Aku hanya penasaran saja apa yang sedang terjadi sekarang. ” kataku lirih,” Apa semua berjalan sebaik diriku? ” rasa penasaranku itu seiring membawa tawaku hilang. Aku ingin tahu bagaimana hidupnya di masa ini. Sedang aku? Saat ini aku hidup cukup mapan dengan pekerjaanku sebagai kepala editor di majalah fashion ternama di kota Seoul.

Kami lalu terdiam, saling memikirkan sesuatu yang sama. Tapi kurasakan jari-jari hangat temanku melingkari punggung tanganku, mencoba memberi penguatan padaku. Aku menatap raut cemas dan prihatinnya. Ekspresi yang sama ketika aku pernah berpikir dan mengatakan padanya jika saja aku bisa memutar waktu, aku bersedia kembali hidup disana.

Neo.. gwaenchana? ”

Aku tersenyum padanya lalu mengangguk cepat, menyakinkan semua tetap terkendali, aku baik-baik saja meski hatiku tak beraturan lagi. Namun hatiku sudah jauh lebih sehat, meski terasa kosong ketika lubang yang menganga itu mengingatkanku lagi ke masa lalu.

Masa lalu yang manis.

Masa lalu yang membingungkan,

dan..

Semuanya, semua hal yang memiliki berjuta rasa dibanding hari-hari baru sekarang ini.

Tiba-tiba dia mendesah. ” Karena aku bukan shaman, aku tidak tahu jawabannya. Apakah semua berjalan semestinya atau tidak.. Tapi kita hanya perlu melakukan yang terbaik, bukan? ”

” Maaf.. suasana berubah buruk karena aku. Aku tidak bermaksud- ”

” Berhenti minta maaf. Kajja. ” dia menarikku, membawa paksa tubuhku meninggalkan restoran dan mengikuti kemauannya.

” T-tunggu Sunny! Aku masih ada pekerjaan mendesak untuk besok. ” aku memberi alasan yang terdengar monoton. Tapi aku memang harus menyelasaikan laporan untuk meeting besok atau Direktur akan memecatku.

” Apa kertas-kertasmu itu tidak bisa kau lewatkan? ”

Aku menggeleng, memberi tanda aku dalam masalah besar jika melakukannya.

” Aku tidak peduli, aku tidak peduli semuanya. Yang terpenting bagiku adalah malam ini dan pestaku bersamamu sekarang. Akan kukenalkan pada seseorang yang menarik. ” dia terkekeh.

” Lee Sunkyu! ”

Omo! Yaa! Kuhabisi kau jika memanggil nama itu! Cepat masuk. ” dia membukakan pintu mobil untukku, sikapnya memang buruk karena terlahir dari keluarga chaebol. Namun jujur dia tidak seburuk itu, dia adalah gadis baik.

” Haruskah aku pergi? ”

” Ayolah~  ” Sunny terus merengek padaku. ” Mungkin ini bisa mengurangi pikiran berat yang mencekik tenggorokkan tempatmu bernafas. ”

Aku memutar bola mataku, seolah berpikir untuk hal berat.

” Dengarkan aku, saat kau mengingat sesuatu yang.. buruk, itu hanya membuat tubuhmu kehilangan nutrisi, tapi berpesta akan membuatmu sehat. Ayo kita bersenang-senang sampai gila.! ”

Lagi-lagi aku tertawa mendengar ucapan Sunny. ” Aigoo~ manusia itu bernafas memakai paru-paru dan hidung, bukan tenggorokan. ” aku membenarkan.

Nae chingu-ya~~! ”

” Hmmm… ”

Aish! Kau membuatku ingin menarik rambutmu. Cepat putuskan! ”

Khaah~ baik-baik. Aku ikut. Kau gadis kaya yang menakutkan ”

” Hahaha.. gomapta chingu-ya~~ ” dan dia tampak sumringah setelah menerima jawabanku. Tentu saja aku hanya ingin membuatnya kesal. Itu hal menyenangkan ketika kami berdebat.

” Tunggu! ” seruku tiba-tiba

Heol~ apa lagi? ” nadanya memprotes.

” Kuperingatkan padamu, aku tidak akan berpesta atau bersenang-senang sampai gila. Ada setumpuk dokumen yang menungguku pulang. Jadi kau akan habis jika membuatku hilang kesadaran. Neo ara!?? ” ancamku dan ia mengangguk patuh dengan senyuman lebar. Lalu kudorong tubuhku memasuki mobil mewahnya. Sunny kemudian mengikuti dan mengambil tempat duduk pengemudi.

Tak lama mesin mobil berbunyi. Sunny mengendarai mobilnya dengan cermat dan teliti. Pandanganku kini mulai tertuju pada jalanan, suasana begitu tenang. Sisi jalan yang di selimuti kegelapan malam tampak indah karena di penuhi titik-titik cahaya lampu. Aku menikmati keindahannya ketika mobil memecah kedalam keramaian lalu lintas.

Suasana malam dan kegelapan di sekitarku, itu menenangkan. Kami mulai tenggelam dalam keheningan masing-masing. Dan setengah perjalanan tiba-tiba kaca mobil berembun, tetesan-tetesan kecil mulai menghujani mobil Sunny secara teratur.

Kubuka sedikit jendela dan ku keluarkan ujung jemariku untuk menyentuh tetesan dingin dari langit. Alisku bertaut ketika rasa basah menyentuh jemariku, aku tersenyum samar. Rasa air ini tetap sama, sama dinginnya dengan yang bertahun-tahun yang lalu.

” Apa kau suka hujan? ”

” Tidak. “

” Tidak, sekarang aku suka hujan. ” gumanku sangat lirih.

Sekelebat, aku kembali mengingatnya. Kilasan itu cukup jelas untuk sebuah kisah masa lalu, sesuatu itu yang biasa manusia namakan..

Kenangan.

Apa yang sedang di lakukannya?

Apa dia baik-baik saja?

* * *

.

.

Busan, 14 Januari 2008.

Aku berada di trotoar, berjalan cepat menuju rumah sepulang sekolah. Waktu yang bersamaan ketika seseorang menuju arahku cepat, dia berlari lalu menubrukku. Kami jatuh bersamaan. Kejadian itu berjalan secepat kilat sebelum aku menyadari sepenuhnya bahwa kami, atau lebih tepatnya dia menubrukku dengan tubuhnya.

Dia meringis, terduduk di jalanan sambil memegangi pantatnya yang mendarat kasar di tanah. Buku-buku dan bermacam barang dari tas miliknya berhamburan di jalan dan cepat-cepat dia memungutnya satu persatu. Aku bangkit meski sedikit bergoyang dan berjongkok untuk membantu orang itu mengumpulkan barangnya.

Gamsahamnida. ” ucapnya, sembari memberi senyum terburu-buru.

Aku tersenyum balik, ” Tidak masalah. ” dan barang yang berserakan telah kembali pada tas ransel hitamnya. Aku bangkit lebih dulu.

” Apa kau baik-baik saja? ” tanyaku lirih.

” ………… ”

Tapi dia sibuk menepuk-nepuk tas dari debu yang tertempel. Aku mengulangi pertanyaanku, ” Kau tidak apa-apa? ”

Dia mendongakkan kepalanya keatas dan memandangku, lurus, tepat kedalam mataku. Tiba-tiba aku terbius matanya gelapnya, terus berada dalam posisi membungkuk dan tertegun kearahnya. Aku memandangi wajah mungilnya, terpaku dengan garis wajah maskulin indah di depan mataku, aku hanya bisa menatap tertegun. Kemudian dia menggeser jarak diantara kami.

Dia memberi anggukan kecil. ” A-aah.. ya.. aku tidak apa-apa. ” dia menjauh dari tatapanku kemudian menarik tubuhnya untuk bangkit dari jalan yang sudah membuat celana olahraganya kotor.

” Kau membuatku terkejut. ” kataku lirih.

” Maaf, aku terburu-buru, maafkan aku. ” wajahnya menampilkan penyesalan. Dia membungkuk beberapa kali sebagai tanda permintaan maaf. ” Apa kau terluka? ”

Ne? ” alisku terangkat. ” O-oh.. anio. ” mendadak wajahku memanas. Mata hitamnya dan suara lembutnya menggetarkanku.

Omo! Lututmu berdarah! ” ekspresi berlebihan gadis itu sedikit mengejutkanku. Aku mengikuti arah pandangnya dan itu membuatku tersadar, aku berdarah, di lututku. Lututku berdenyut-denyut, mungkin karena kontak keras dengan lantai tadi. Namun aku hampir tidak merasakan sakit. Aku terlalu sibuk menatapnya, terpaku oleh gadis yang berdiri di depanku.

” Apa itu baik-baik saja? ” dia menyerngit, suaranya mengisyaratkan kekhawatiran.

Ne, ini tidak apa-apa. ” jawabku, ini bukanlah luka parah seperti retak atau patah tulang tapi hanya goresan kecil yang mulai mengeluarkan darah.

” Biar kulihat. ” tanpa kuduga dia berjongkok, mengeluarkan sapu tangan dari saku lalu mengusap darahku yang keluar. Usapannya begitu lembut, satu sentuhan dari jarinya telah mengalirkan kejutan listrik menuju jantungku, aku berdebar tanpa alasan. Aku terdiam, mengamati betapa konsentrasinya gadis berambut hitam panjang yang tengah berjongkok dibawahku.

Aakh! ” aku meringis karena rasa menyengat, ketika lukaku ia sentuh, tapi dia tidak bergeming. Dia meniup lututku dari bibirnya, memberi sensasi aneh, perutku terasa berkedut hingga aku menahan nafas dan menggigit bibir bawahku tanpa sadar. Kelembutannya terasa menyeluruh, sungguh manis dan seksi.

” Selesai. ” ia berseru dan kemudian menarik tubuhnya berdiri setelah melilitkan sapu tangan miliknya untuk menutup luka ku sementara. Kami kembali saling berhadapan. ” Kau harus bersihkan lukanya dan segera beri antiseptik. ” aku mengangguk, tatapanku belum lepas dari matanya.

” Aku sungguh menyesal telah melukaimu. Maafkan aku. ” suara lirihnya terdapat penyesalan.

” Ini hanya kecelakaan kecil dan aku baik-baik saja, kau bisa lanjutkan perjalananmu. ” ku coba membuatnya tak terlalu memusingkan luka di lututku. ” Kalau begitu.. sampai jumpa. ” aku mengucapkan salam perpisahan, sebuah kata yang tiba-tiba terdengar berat.

Udara dingin dan awan gelap membuatku harus segera pergi. Aku pun meminta kaki ku melangkah cepat, meninggalkan tempat itu lebih dulu untuk menghindari hujan. Akhirnya aku berlalu pergi, lalu diikuti gadis itu, kami saling membalikkan punggung lalu menjauh dan semakin jauh. Dia kembali berlari dan aku sedikit tertatih.

Aku tersenyum tipis, aku melangkah dengan membawa pergi sapu tangan putihnya yang melilit lututku.

Tes..

Langkahku terhenti di tengah jalan saat rasa basah mengganggu, sesuatu yang dingin telah menjatuhi wajahku. Saat orang-orang di sekitarku berlari menjauh, aku terdiam dan mendongak pada langit. Ternyata awan gelap tak kuasa lagi menampung isinya. Mereka telah menjatuhkan tetes demi tetes air ke atas tanah, menjatuhi kota ku dan tentu membasahiku perlahan.

Omo! Eottoke? ” aku tersadar, hujan deras pasti sebentar lagi turun. Kuputuskan berjalan lebih cepat, mengabaikan nyeri yang tak nyaman dan menyakitkan di area lutut. Tapi aku harus segera menaiki bus di halte yang masih jauh untuk sampai di rumah. Tck! Seandainya aku tidak mengikuti Sunny untuk membeli tteoppoki pasti tidak akan terlambat pulang.

Semakin lama air yang jatuh semakin banyak dengan intensitas cepat, hujan menuju lebat beberapa menit lagi tapi aku terlalu lamban untuk sampai di halte. Aku panik, dengan terpaksa aku mulai berlari meski menyakitkan. Tapi kakiku tidak mau bekerja sama, ketika langkah cepatku tidak bisa berhenti, lututku yang sakit justru memberontak. Aku limbung, tersandung kaki ku sendiri dan jatuh dan pasti semua akan menyakitkan, menjadi semakin buruk.

Akan tetapi… tanpa aku menyadari, entah sejak kapan, tubuhku menopang pada seseorang. Tidak, bukan menopang! Aku di peluk seseorang, sangat erat. Kedua lengannya menjadi perisai pelindung, mencegahku terjatuh.
” Tampaknya kau yang lebih sering jatuh. ” aku menoleh, menuju sumber suara. Mataku membulat ketika menangkap senyuman tipis dari gadis yang harusnya sudah jauh.

” Oh! K-kau-? ”

” Aku tidak tenang melihatmu berjalan tertatih. Jadi biarkan aku membayar kesalahanku sampai tuntas. ”

” Eh? Apa? ”

Aku yang belum memahami arti senyuman yang tadi, gadis itu kembali menampakkan senyum miliknya. Dan mataku kembali membulat, aku terhenyak ketika dia menarikku dan menaruhku di punggungnya. Gadis yang tidak kukenal tiba-tiba menaikkanku, menggendongku ke punggungnya.

Omo! Yaa! Jangan! Turunkan aku, ini memalukan! ”

” Hujan sudah datang dan aku.. mungkin sudah terlambat. Ini harus cepat. ”

” Apa!? Tunggu, apa maksudmu?

” Kearah mana kau pergi? Aku akan mengantarmu sampai tujuan. ”

” Apa? ”

” Bisa kau berhenti bertanya apa? ”

” O-oh, aku harus ke halte, di sana.. ” tunjukku dan ia mengangguk.

” Cepat pegangan. ”

” Apa? Kyaa~! ” aku tak sempat bertanya karena tiba-tiba dia berlari. Tak ingin jatuh segera ku cengkram pundak gadis itu, memeluknya erat.

Dia terus berlari secepat mungkin menuju halte dengan beban berat dari tubuhku, menembus air rintik yang turun tanpa jeda. Siang yang mulai dingin, beberapa kali terdengar gemuruh petir saling menyambar ditengah pekatnya awan. Punggungku juga mulai basah, dan gadis itu juga. Tapi dia tetap berlari menembus hujan seperti tanpa ada beban.

” Pegangan, aku akan lari lebih cepat! ” perintanya.

Apa??

Kurasa dia benar-benar gila. Semua orang memandang padanya, padaku! Aigoo~ kami sungguh menarik perhatian. Tapi sesuai instruksinya, tanganku melingkar sempurna dan erat. Melawan lalu jatuh atau diam dan sampai di halte tanpa nyeri berlebihan, itulah pilihanku dan aku memilih mengikuti ucapan gadis ini tanpa protes.

Wajahku mendekat, aku bisa merasakan aroma tubuhnya yang menyebar di sekitarku, bercambur aroma hujan. Tapi aku bisa membedakannya. Dia berbau sangat harum, aroma wangi parfume cool water, atau mungkin dari aroma sampo yang membuat rambutnya tersibak halus saat angin lewat. Entah apa itu, dia sungguh harum. Dan aku menyukai wanginya, bau dari gadis ini.

Kulihat butiran keringat mulai menembus pori kulitnya, tampak jika dia berjuang keras untuk menolongku. Tapi gadis ini tetap berlari seolah aku hanya kapas yang ringan dan mudah di bawa kesana kemari. Aku diam, menjadi menikmati betapa hangatnya tubuh yang membawaku, merasakan tangannya yang menahan tubuhku dan helaian rambut hitamnya yang sesekali tersibak menyentuh wajahku.

Dalam keadaan berkeringat pun, dia tetap beraroma wangi khas perfume-nya, aromanya manis dan segar peppermint. Diam-diam aku menghirup aroma wangi yang menyerebak kedalam hidungku. Dia sangat harum. Tanpa sadar, aku memasuki dan menikmati hal yang belum pernah kualami.

Aku.. menikmati hal aneh ini.

Tapi apa yang sedang di lakukannya?

Kenapa dia kembali?

Melakukan semacam ini, apa dia baik-baik saja?

* * *

.

.

.

Mengenangmu di hatiku.

Ku memikirkanmu saat kau indah di tengah hujan.

Kenangan yang memudar dalam hujan adalah dirimu.

Seoul, 18 Februari 2015.

Kubuka jendela bus, aku menengadah. Hujan jatuh di telapak tanganku, aku tersenyum karena berhasil menangkap air hujan. Aku mendesah pelan, langit pagi kotaku tinggal sekarang begitu basah. Benar, kotaku tinggal sekarang bukanlah tempat aku dilahirkan.

Aku adalah gadis Amerika tapi karena bisnis ayahku, itu mengharuskan kami berpindah pindah. Ini adalah kepindahan kami yang ke-empat sejak dari Busan di tahun 2008 silam. Tapi kemudian aku memustuskan menetap setelah menemukan pekerjaan idaman di sini, di kota Seoul.

Lamunanku akhirnya terhenti ketika beberapa kali terdengar guntur yang menyambar dan kilat menghiasi langit yang semakin menghitam. Aku pun menarik tanganku dan menutup jendela namun masih memandang keluar.

Langit tampak seperti muram ketika awan berubah gelap dan ketika air hujan turun.. itu seperti tetesan air mata, pelampiasan dari letupan emosi. Seperti diriku, banyak yang menganggap hujan adalah sesuatu yang buruk atau lambang kesedihan.

Tapi orang itu bilang menyukainya, menyukai hujan.

” Menurutku hujan sangat cantik.. “

” Benar. Kurasa.. hujan memang cantik. ” aku berguman sendiri.

” Geunde, ”

” kau juga.. sangat cantik. ”

Aku memerah tiba-tiba, pujiannya memberikan sensasi membahagiakan dan perasaan itu tak pernah hilang atau berubah sedikit pun. Aku tersenyum simpul hingga beberapa saat sampai kemudian aku tersenyum sedih ketika memandangi langit mendung.

Rindu itu mulai menyergapku. Rasanya seperti kehilangan untuk hal berharga yang tidak pernah ku miliki. Dan rasa kehilangan itu menjadi berkali-kali lipat karena aku sadar jika kami tak akan bertemu lagi. Seandainya pun ada, itu hanya peluang kecil untuk mendapatkannya, rasanya seperti mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami. Sangat kecil kesempatan itu datang. Sungguh terlihat tak mungkin.

” Kau juga.. sangat spesial. ” aku kembali berguman.

* * *

.

.

.

Busan, 27 Januari 2008.

Hujan lebat turun pada akhirnya, aku berusaha merapatkan tubuhku, mencari rasa hangat dan berharap bus yang ku tunggu segera datang. Aku melirik jam tangan sekilas, sudah jam dua siang.

Khaah~ ” aku menghela nafas dan sesekali berdoa agar bisa pulang sore ini tanpa hambatan apapun. Tapi bodohnya, aku meninggalkan payung pink favoritku di rumah.

Namun untuk kali ini.. aku tidak terlalu menyesali kelalaianku. Hari ini meski hujan turun, itu tidak begitu buruk.

Aku kemudian menoleh.

Sekarang aku duduk di bangku halte, tepat disebelahnya dan kami basah. Dia dan aku basah dari atas kepala hingga sepatu yang kami kenakan. Hari ini dia memakai kemeja putih berbalut mantel hitam lengan panjang dan celana hitam, sungguh perpaduan sempurna, tidak tampak seperti seseorang yang beragenda ke pemakaman dengan pakaian serba hitam. Dia tampak tenang dan maskulin tapi tetap memiliki sentuhan manis.

Ini adalah pertemuan kami yang ketiga. Meski tidak bisa kupercaya, dia akan duduk disini ketika hujan turun, saat aku menunggu bus menuju rumah. Entah bagaimana.. timing-nya begitu pas.

Mungkinkah karena takdir?

Hujan semakin deras, menyisakan keheningan hanya diantara kami berdua. Yang terdengar riuh adalah dentuman berirama dari air hujan yang menghujani atap halte. Kini dia menatapku.

” A-apa? Ada apa? ” aku menggerayangi wajahku sendiri, takut ada sesuatu yang merusak kecantikanku meski kutahu hujan sudah membasahi wajah dan tatanan rambutku.

” Tidak ada. ” ia menggeleng pelan. ” Mmm.. hanya saja.. ”

” Apa? Hanya apa? ”

” Kau terlalu sering bertanya ‘apa’? ” dia tersenyum. Pandangannya kemudian beralih ke atas, seperti mencari dimana ujung hujan di puncak awan yang pekat. Lalu hening lagi. Kami diam dan menikmati suasana hujan yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkan tentang dia, meskipun gadis itu tepat di sampingku.

” Boleh aku tahu kenapa saat itu kau kembali? ” tanyaku memecah keheningan. Aku tidak sempat menanyakannya kemarin dan rasa penasaranku begitu besar. ” Kau bilang sedang terburu-buru tapi itu pasti sudah terlambat jika kau kembali. Apakah tidak apa-apa untukmu? ”

” Hmm.. ” dia tampak berpikir. ” Apa arti ucapanmu ini sedang mengkhawatirkanku? ”

” Apa? A-aniyo..! Bukan begitu maksudku.. ”

Dia terkekeh, ” Tidak perlu cemas. Lagi pula menolongmu adalah hal yang paling benar. ”

” Apa? ” aku mengerutkan kening.

” Astaga~ kau bertanya apa lagi. ” dia terkekeh, tawa kecil itu membiusku seketika.

” Aku hanya belum puas dengan jawabanmu. Sedikit aneh rasanya ketika kau terburu-buru pergi tapi justru berbalik dan memilih bertahan disini. ”

” I-itu.. sebenarnya.. karena.. ”

” Karena apa? ”

” Hujan! Karena hujan.. aku suka. ” seulas senyum begitu menarik perhatianku ketika dia selesai memberi jawaban, tapi dia menarik senyuman itu dan kembali menatap langit.

N-ne? ” dan aku masih belum juga paham alasan gadis itu.

Dia diam, matanya fokus pada langit dan mengabaikan rasa penasaranku. Tapi.. di saat seperti ini, aku merasa perhatianku teralihkan. Aku semakin dalam menjelajahi gadis itu. Rambut panjang hitamnya membingkai wajahnya yang mempesona. Struktur rahangnya tegas, bibir tipis merah muda sedikit memucat karena udara dingin, hidungnya mancung tapi terkesan mungil, dan mata hitam yang tadi menyedotkku kuat, semua itu membuatnya menarik.

Apakah… karena hari ini juga hujan, dia datang kemari?

Berarti.. bukan karena aku..

Mataku masih terkunci saat dia mulai sibuk mengeringkan rambutnya, menyisir helaian rambut hitam panjangnya memakai celah-celah jarinya. Dada dan bahunya masih basah dengan manik-manik air yang berkilau. Kemudian dia berhenti dan menyeringai.

” Menikmati pemandangan? ” mataku terbelalak tapi tubuhku membeku. Aku tertangkap basah! Jantungku berdegup tak karuan, tidak bisa dipungkiri bahwa aku tertarik padanya semenjak kami pertama kali bertemu.

” Bagaimana kau tahu? O-oh anio! M-maksudku, bagaimana bisa kau menyukai hujan? ” aku bertanya, mencoba untuk mengabaikan pertanyaannya karena aku telah tertangkap basah sedang menatapnya.

”  Tiffany-ssi. ” panggilnya. Dia menatapku intens.

” Eoh? ”

Apa? Bagaimana dia tahu namaku?? Dia mengenalku??

” Lalu kau..? Apa kau suka hujan? ”

Dia masih memandangiku.

Saat ia menatapku, dia… seolah-olah memiliki kekuatan untuk menghisap udara dari paru-paruku. Setiap detik berlalu maka daya tarik yang ia pancarkan semakin bertambah kekuatannya, menjadi mengagumkan. Aku bergetar dan tak ada henti-hentinya.

” Tiffany-ssi.. ” suara lembut itu memanggilku sekali lagi.

” K-kau tahu namaku? Apa kau..? ”

Ia menarik ujung bibirnya, lagi-lagi memamerkan senyum manis padaku. ” Tentu saja. ” dagunya menunjuk kearah tanda pengenal di seragamku, ada nama lengkapku disana.

Oh.. kupikir dia punya indra ke enam.

” Kau suka hujan? ” dia bertanya kembali.

” Tidak, ” jawabku cepat.

Dia mengangguk pelan tapi dua matanya menatapku penasaran, ” Geunde wae-yo?”

” Umm itu… ”

Kami masih saling menatap
satu sama lain.

” Menurutku hujan sangat cantik. Air yang jatuh bisa memberi energi baru dan setelah itu udara akan menjadi lebih bersih dan segar. Air hujan seperti bekerja untuk membawa semua yang buruk pergi lalu menampakkan sesuatu yang indah setelah itu, seperti pelangi. ” dia menyela sebelum aku menemukan alasan tepat kenapa aku tidak menyukai jika ada hujan.

” A-ah.. begitu ya.. ” aku mengangguk-anggukan kepala. ” Aku hanya tidak menyukainya karena itu akan membuatku basah. Basah dan tidak nyaman, membuatku kesal. Hujan juga bisa membuat orang sakit.” ucapku, alasan yang berbanding terbalik dengannya. Aku mendifinisikan hujan sebagai sesuatu yang buruk.

” Tapi kau basah sekarang, apa itu membuatmu tidak nyaman dan kesal? ”

” Ya.. Tidak. ” aku tersenyum tipis, ” Kurasa tidak seburuk itu. ”

Geunde.. ” dia tiba-tiba mendekat dengan wajah serius. Aku memundurkan
punggungku hingga menjauh, mungkin empat atau tiga senti meter jarak wajah kami.  Kemudian dia mencondongkan tubuhnya. Aku membeku dan mataku terkunci oleh mata gelapnya.

Apa dia akan menciumku!???

Pikiran seperti itu membuat perutku bergejolak dengan aneh.

” kau juga.. sangat cantik. ”

Wajahku panas. Betapa indahnya waktu ini. Aku berubah canggung, kikuk tapi berdebar pada orang yang begitu mempesona, orang yang tidak pernah kutemui dalam kehidupanku sebelumnya. Dia seperti tak lupa memberiku senyum miliknya yang tersirat begitu cantik, manis dan maskulin.

Dia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku, ” Senang bertemu denganmu. ”

Aku menatap uluran tangannya, pasti terasa hangat tangan itu.

Dengan nafas gemetar aku memberikan tanganku ke dalam genggamannya. Denyut nadiku menjadi tak terkendali ketika cengkramannya menguat. Sentuhannya terasa berlistrik, menyengat dan menghipnotisku begitu manis.

Geunde, neo irreumen mwo-ya? ” aku menanyakan namanya.

Dia tidak bergerak sejenak, sebuah garis kerutan mengisi jarak diantara alisnya. ” Kau lupa namamu? ” candaku.

” Bisakah aku membuat jawabannya menjadi sebuah alasan untukku?

” Wae-yo? ”

” Untuk bertemu lagi denganmu. ”

Ne? ”

” Ketika hujan di waktu yang sama seperti hari ini, aku juga akan menunggumu disini. ” suaranya halus. Kami mempertahankan kontak mata karena aku tidak bisa berpaling. Tatapannya tenang, tajam dan juga lembut. Aku mulai berkedip, menetralisirkan diriku.

Aku kenapa..?

” Eh..itu.. ”

Apakah maksudnya..? Dia datang karena.. aku???

” Mungkin jika takdir berpihak, Tuhan akan mengijinkan kita bertemu lagi. ”

Kenapa aku tak bisa berhenti menatapnya!?

” Sampai jumpa lagi. ” sebuah senyuman kembali dia lemparkan padaku lalu berbalik untuk selanjutnya melangkah pergi.

Chakaman-yo! ” aku memberanikan diri menangkap lengannya. Aku mendongak, menatap di mata hitam gadis itu yang begitu teduh ketika aku memandanginya.

Wae-yo? ”

” Terima kasih, seandainya kau tidak menggendongku saat itu, mungkin aku berakhir bersama omelan ayahku sepanjang malam. ” ujarku. ” Dan sapu tanganmu.. bolehkah aku menjadikan itu sebagai alasan untukku juga? Untuk bertemu lagi denganmu. ”

Dia terdiam beberapa saat sampai kemudian tersenyum lalu mengangguk cepat, ” Tentu, ketika takdir berpihak.. kita tetap akan bisa bertemu. ” jawabnya, dan aku pun melepaskan tangannya, membiarkan gadis itu pergi meninggalkanku.

Dia pergi begitu saja, menorobos barisan hujan.

Apa ini?

Perasaan apa ini…?

Apa aku telah terpesona?

Aku beranjak, menarik pantatku dari kursi tapi sebuah bus telah berhenti di depanku, memutus pandanganku pada gadis berambut hitam yang sudah menjauh.

* * *

.

.

.

Melihatmu kebasahan.

Bisikan tenang di bawah hujan.

Aku merindukan tentang hal itu.

Seoul, 27 Maret 2016

Aku mengantri di antara barisan orang-orang yang keluar dari bus. Hingga giliranku, aku bergegas menapaki tiga buah anak tangga. Namun tepat setelah menuruni tangga bus, hujan tiba-tiba mengguyur. Aku yang tak membawa payung turun dari bus dan berlari untuk menghindari rintik hujan.

Bagiku membawa payung sebelum hujan bukan kebiasaan yang menyenangkan, aku sama sekali tidak suka membawa barang-barang yang memberatkan gerakanku. Itu sangat merepotkan terlebih karena pekerjaan yang sibuk dan cukup melelahkan membuatku harus merasa cukup hanya dengan membawa tas tangan.

Ah, aku harus cepat atau akan terlambat makan malam yang spesial bersama Daddy, untuk perayaan ulang tahunnya. Aku berlari-lari kecil dibawah guyuran hujan. Sedikit kesusahan karena aku menggunakan high heels putih mengkilap yang menempel di kakiku, juga aku takut jika air yang sudah menggenang di aspal memuncrat ke kaki dan rok mini warna pink favoritku.

Aigoo.. tampaknya aku masih tetap sama. Aku tidak suka air hujan membasahiku!

Tak hilang akal, aku memilih berlari-lari di sepajang hamparan toko agar sedikit terhindar dari air hujan. Well, coat hangatku tak begitu terselamatkan dari guyuran. Aku pun berhenti sebentar untuk mengambil nafas dan membersihkan butiran hujan yang tertempel.

Drrrtt

Kurasakan ponselku berdering jadi cepat-cepat aku merogoh kantong coat coklat mudaku. Setelah menemukan ponselku aku menekan salah satu tombol di layar lalu menjawab panggilan daddy. ” Yes, daddy.. ” jawabku lembut.

” Putriku, kau ada di mana? Cepatlah pulang.. “

” Tentu daddy, aku juga ingin segera pulang. Geunde~ hujan masih menahanku. Aku harus menunggunya sedikit reda. ”

” Apa itu membuatmu basah? Apa harimu berjalan lancar? “ tanya daddy khawatir.

” Sedikit. ” aku terkekeh.

” Aigoo~ akan lebih baik jika putriku yang cantik segera membeli mobil. Kau bisa sakit jika terus kehujanan. “ daddy mulai menceramahiku, itulah yang terjadi setiap hujan datang dan aku tertahan di jalan.

Nde, arraseo daddy~ ”

” Baiklah, aku akan menunggu dengan sabar jadi tidak perlu menerobos hujan. “

Ah ya.. tapi aku sudah menerobosnya untuk mencari tempat berlindung.

Ne arraseo… sampai jumpa di rumah. ” aku menutup panggilan Daddy dan menurunkan ponsel. Aku mengangkat tatapanku, melihat pada awan pekat.

” Aku juga.. aku menyukainya, hujan. ” aku berguman.

Kata-kata tentang aku menyukai hujan, itu benar. Tak bisa kupingkiri alasan aku suka hujan adalah karena orang itu. Ya, karena gadis misterius. Si gadis berambut hitam panjang beraroma papermint.

* * *

.

.

.

Busan, 27 Januari 2008.

Hari ini, sekitar jam dua siang langit mulai mendung, belum terjadi hujan. Gadis itu juga belum terlihat. Dia tidak datang? Ah.. tampaknya takdir tidak berpihak padaku hari ini. Hujan juga belum turun.

Kenapa.. aku begitu kecewa?

Sebenarnya apa yang sedang ku pikirkan?

” Kau masih di sini? ”

Aku tiba-tiba tercekat. Suara yang ku kenal bertanya dalam jarak yang cukup dekat denganku. Suara gadis itu!! Aku berbalik arah, menoleh ke samping dan melihatnya yang sedang memandangiku sambil melangkah mendekat.

” Ooh.. n-ne, ” aku tergagap dan gugup. ” Bus-ku belum datang. ” jawabku. ” Kau sendiri bagaimana? ” aku melihat sebuah payung di genggamannya.

” Apa ini? Bukankah dia suka hujan? Kenapa membawa payung? “ batinku.

” Aku sedang menunggu seseorang. Dan ini.. ” dia mengarahkan pandangan ke payung birunya, dia seperti membaca pikiranku. ” aku hanya ingin tetap kering agar terlihat lebih baik untuk seseorang yang kutunggu. ” jawabnya sembari tersenyum simpul.

Aku mengangguk mengerti.

Tapi memang benar, dia terlihat berbeda saat kering. Hari ini dia mengenakan celana jeans hitam yang bersih dan kemeja biru tua berpadu putih bermotif kotak-kotak dan sepasang headset putih yang melekat di kedua telinganya.

” Senang melihatmu di sini. ” imbuhnya.

” Sebenarnya aku sedikit tidak percaya jika kau akan datang. Tapi kau benar-benar disini. ”

” Kurasa takdir masih berpihak. ” ucapnya.

” Tapi hari ini tidak hujan. ”

” Tidak, masih belum. ” dia mendongak. ” Hujan sebentar lagi. ” gumannya.

” Apa kau suka melihat hujan di tempat ini? ” tanyaku.

Ne? Ooh.. bukan begitu. ” ia mengusap tengkuknya dengan gerakan kaku. ” Aku bisa membawamu ke tempat lain jika tidak nyaman berada di sini,” dia menawarkan.

” Apa? ” aku mengerutkan kening ke arahnya, cukup terkejut dengan ajakannya yang tiba-tiba. Rasanya senang tapi itu juga membingungkan. Dia tidak mudah di tebak.

” Maksudku, jika kau ingin suasana baru. Tapi.. jika kau bersedia, hanya itu. ” jawabnya tergagap. Dia tampak lucu saat tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk dikatakan.

” Tapi.. aku harus menunggu bus. ”

” A-ah, baiklah. Aku mengerti. ” ucapnya lirih.

Keningku berkerut mendengar nada bicaranya berbeda, seperti menahan sesuatu. Dia tampak sedih. ” Apa sesuatu terjadi? ” tanyaku hati-hati.

Eoh? O-oh.. tidak ada. ”

” Mungkin ini sedikit berlebihan atau hanya perasaanku saja, tapi.. kau tidak terlihat baik. ”

Dia membeku, keraguan terpampang di wajahnya.

” Kurasa aku sudah melibihi batas. Tapi jika kau merasa butuh pendengar, anggap saja aku tembok yang bisa mendengarkan. ”

Dia tertawa kecil, ” Tidak ada tembok secantik dirimu. ” aku membalas kekehannya dengan eye smile-ku, menutupi wajah merahku. ” Cantik. Saat tersenyum kau sungguh cantik. ” dia menatapku dalam, memandangi ekspresiku yang menahan malu sekaligus berbunga karena pujiannya. Aku melihat betapa kuatnya tatapan mata hitam yang menyedotku.

Deguban jantungku semakin cepat dan begitu keras hingga aku yakin dia akan mendengarnya. Aku menatap matanya dan bersusah payah menelan kegugupanku. Tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya, menandangiku dengan sorot mata yang tak bisa kubaca sama sekali.

Suasana berubah hening. Beberapa saat kami hanya diam.

Ada apa dengannya? 

Kemudian hanya tertinggal bunyi hujan saja, hujan deras yang tiba-tiba mengguyur. Tapi baik gadis itu maupun aku sama sekali tidak bicara satu sama lain. Dia membuatku membeku dan tidak tahu harus berkata apa. Yang berbicara dalam kegugupan adalah suara detakan jantungku.

” Mau mendengarkan ini? ” suaranya terdengar lebih jelas diantara derai hujan yang mengguyur kota ini dan memecahkan lamunanku.

Dia melepas salah satu dari sepasang headset yg berada di telinganya dan menyodorkan padaku. ” Ini adalah musik yang hanya ada di ponselku. ”

” Musik yang hanya di ponselmu? ” alisku bertaut, aku mengulangi penjelasannya.

” Ya, karena aku suka musik jadi aku membuatnya untuk seseorang. Tapi ini masih belum sempurna. Mungkin mendengarkannya bisa membuatmu merasa hangat. Kau mau mendengarnya? ”

” Tentu, semoga tidak mengecewakan. ” ujarku lalu mengambil handsetnya. Bunyi derai hujan yang keras seketika berganti dengan alunan piano yang mendayu serasi.

Sebuah alunan musik instrumental yang hangat dan romantis, sangat manis. Perasaanku semakin melayang, bagai terbang menuju awan, terlebih saat beberapa kali aku dan dia beradu pandang. Dan ketika mata kami bertemu, sepertinya aku benar-benar tersesat. Aku menemukan diriku tenggelam dalam mata gelapnya, tenggelam dan tak mau repot-repot untuk meloncat keluar.

Aku harap.. takdir tetap berpihak padaku.

* * *

.

.

.

Busan, 29 April 2008.

Aku termenung di dalam mobil silver bersama daddy yang akan membawaku ke rumah baru. Pikiranku tidak tenang, hatiku berdentum-dentum tak karuan. Mungkin ini akan menjadi penyesalan luar biasa setelah aku tak lagi merasakan hujan di kota ini.

Aku begitu resah.

Tangan yang mulai basah karena keringat dingin menggenggam benda yang harusnya kukembalikan pada pemiliknya. Kain putih yang pernah melilit lututku saat berdarah, menjadi milikku untuk sementara. Aku menggenggamnya, menatapnya dan memikirkannya.

” Sapu tanganmu.. bolehkah aku menjadikannya sebagai alasan untukku? Untuk bertemu lagi denganmu. ”

” Tentu, ketika takdir berpihak.. kita tetap akan bisa bertemu. “

Itulah pembicaraan kami beberapa bulan lalu, menjadikan alasan kenapa aku tetap membawanya. Lama memandangi sapu tangan gadis itu, tatapanku pun terkunci pada satu sudut. Mataku menyipit dan menajam karena rasa penasaran. Di ujung sapu tangan itu terdapat dua buah huruf kecil berwarna hitam yang baru ku sadari. Aku mengejanya.

” Apa ini namanya? ” aku tertegun. Kurasa itu inisial nama gadis itu tapi aku tidak tahu huruf keseluruhnya. Jika benar itu adalah nama gadis itu maka dua huruf itu seperti dua potong puzzle yang hilang dan tidak bisa ku temukan.

Hatiku berubah cepat seakan melakukan perjalanan roler coster, aku menggigit bibir bawahku, ada rasa yang menyesakkan. Lalu kupandangi suasana di luar jendela, hujan tetap turun.

Mobil melaju di kecepatan sedang sehingga aku bisa melihat tempat yang biasa kukunjungi perlahan mendekat. Pandanganku tertumpu pada kursi coklat itu. Satu tempat kecil yang menampung memori indah.

Namun kali ini aku melewati halte begitu saja, hanya menatap kosongnya tempat itu untuk beberapa detik sebelum aku menjauh. Mataku berubah sayu, semakin gelap dan kecewa. Aku sudah berharap takdir membelaku untuk keresahan yang menyiksa. Setidaknya untuk kali ini saja.

Aku masih memandang keluar jendela. Kaca mulai berembun dan basah. Setetes dan setetes air dari atas langit mulai datang, mengiringi perjalananku yang menjauhi halte, meninggalkan kota Busan.

Hujan mulai turun.

Hari ini kembali hujan.

Tapi dia…  tidak ada.

Sejak pertemuan itu dia tidak ada, tidak muncul di hari berikutnya, di hari berikutnya lagi dan lagi..

Sejak saat itu, bagaikan lenyap diantara deru hujan, dia hilang.. menghilang dariku begitu saja.

Aku tidak pernah lagi menemukannya dan aku juga.. semakin menjauh.

* * *

.

.

.

Jika mereka bertanya tentang hariku,

Hujan selalu menemani kenanganku.

Kenangan yang tak pudar ketika diguyur deru hujan.

Seoul, 27 Maret 2016

Aigoo~! Aku masih tertahan disini. Hujan turun lebih lama dari perkiraanku. Saat pandanganku turun, aku melihat sebuah genangan di depan kakiku berpijak. Sejenak menatapnya aku mengulurkan kaki, menjejakkan kakiku lalu memainkan air genangan itu.

Kakiku mendekati hujan, meninggalkan atap toko sebagai perlindungan. Aku pun merasakan keseluruhan air hujan menjatuhi rambutku, setiap inci sel kulitku. Masa bodoh dengan hujan turun yang semakin lebat dan mulai membasahi tubuhku. Aku juga tak peduli tatapan aneh di sekitarku karena aku seorang dewasa yang memainkan air hujan di trotoar jalan.

Ternyata menyenangkan bermain air di tengah hujan! Aku tersenyum, senyumanku melebar dan sesekali terkekeh. Hingga beberapa menit kemudian aku berhenti menjadi gila dan kembali mendongak. Aku melindungi wajahku dengan telapak tangan.

Khaah~ ” aku menghela nafas. Aku mematung di tengah jalan, mencari ujung hujan yang mengguyurku, mengabaikan tatapan beberapa orang yang melihat kebodohanku. Aku tidak peduli, sungguh!

Tapi senyum lebarku terkikis dan berangsur lenyap saat sebuah payung pink memayungiku, mencegah dengan segaja air untuk membuat kulitku keriput. Dan aroma wangi yang membekas itu kuhirup lagi, wanginya segar khas papermint. Aku menurunkan pandangan dan tiba-tiba saja dia ada dihadapanku.

Seluruh tubuhku membeku dalam hitungan detik.

Sekarang dia tersenyum padaku. Dia benar-benar ada. Daging dan tulang, bukan hantu, bukan halusinasi atau semacamnya. Dan dia berdiri di hadapanku, menatap lurus kedalam mataku dengan mata gelapnya. Rambut panjang hitam itu kini telah hilang menjadi sebatas bahu, kulitnya semakin memutih.

Deru hujan masih bersama diantara kami, menemani dan menyemarakkan keheningan kami.

Dua mataku nyaris tak berkedip.

Tapi..

Naluri pertamaku saat menangkap sosoknya bukanlah memeluknya atau menciumnya atau meneriakinya seperti gadis gila. Aku hanya ingin menyentuh pipi putihnya yang entah karena hawa dingin atau apa. Aku ingin mengusapkan jemariku ke wajahnya. Aku ingin menyentuhnya untuk memastikan ini benar-benar dirinya.

Aku menarik bibir yang terasa kaku, tersenyum walau mata semakin buram. Aku berkaca-kaca, terasa ingin menangis. Aku mengoreintasikan diriku, sejenak untuk bertatapan, mendengarkan suara jantungku yang berdebar-debar tanpa sadar.

Tapi…

Benarkah ini nyata?

Tiba-tiba dia meraih tanganku, diarahkan padanya dan menggenggamku. Aku bisa merasakan tangannya. Perasaan-perasaan yang terpendam lama menumpuk, bersiap meledak dalam dadaku. Dan caraku satu-satunya untuk bertahan adalah, tetap berkonstentrasi pada tangannya yang menggenggam tanganku.

Cengkramannya mengeras, sehingga genggaman tangannya seperti memeluk tubuhku. Seakan bisa melambungkan tubuhku dari tempatku berdiri, membawaku ke dunia lain yang lebih indah.

Dia kemudian memberikan payungnya agar tubuhku terlindungi dari guyuran hujan dan menggantikan diriku terguyur hujan. Tapi dia tersenyum. Benar, senyum itu. Senyum familiar yang sering di lakukannya jika dia melihatku, bersamaku, bertahun-tahun yang lalu.

” Kita pernah bertemu sebelumnya.. ”

DEG!

Aku tertegun mendengarnya.

” Tiffany-ssi.. ”

Inilah pertama kalinya aku bisa benar-benar mendengarnya, suara lembut yang biasa ku dengar dalam lamunanku. Aku pun membalas senyuman itu, memberikan eye smile milikku, senyum lebar penuh rasa rindu.

Jika ini mimpi, maka aku akan tidur lebih lama.

Bermimpi dalam hujan.

Akan tetapi..

Jika ini adalah kesempatan dan takdir,

Walau seperti tidak tahu malu dan terkesan bodoh atau mustahil.

Sepertinya…

Aku ingin bersamanya.

Aku menyukainya,

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama,

Padanya..

Seseorang yang berlari membawaku bersama hujan.

.

.

.

* ** END ** *

.

.

Yuhu~~ im back.

Gimana oneshoot nya???

Aku tahu 1 pertanyaan yg pasti kalian pikirkan.
WHO’S SHE?? Right??

mmbb…???

Masalahnya pany aja enggak dikasih tau siapa nama si gadis misterius. So.. mana fofo tahu, ya kan?? Hahahaha XD
Kalian bisa membayangkan org itu sesuai imajinasi kalian.

SILENT READER! Go away!!!

Bye~

Advertisements

21 thoughts on “Rain (oneshoot)

  1. taenybooboo

    ya ampun beneran thor aku jd super duper penasaran banget…. itu siapa sih thor… tp aku percaya taeny is real ….. jd kemungkinan cewek itu 99% taeyeon 😁😁😁

    Like

    Reply
  2. sn

    Kayaknya gue udah pernah baca deh, dan itu taeny kan kekekeke. Cuma ini menag lebih banyak n oneshoot. Gue lupa sih baca dimana dan oneshoot apa bukan

    Like

    Reply
  3. sn

    Kayaknya gue udah pernah baca deh, dan itu taeny kan kekekeke. Cuma ini menag lebih banyak n oneshoot. Gue lupa sih baca dimana dan oneshoot apa bukan

    Like

    Reply
  4. brigittagapes

    Wow….. daebakkkk…. gw mah gk peduli itu siapa. Yg ada di otak gw dia adalah tae.KT. ah… masabodo ama siapa dia. Gw mah TaeNy ae.
    Dan nih ff long shoottt…. jjur awal baca pengen gw cepet ke inti masalah tapi setiap bahasa yg lo buat ngalahin rasa penasaran gw. Ini tuh bakalan keren kalo lo masukin ke buku, koran, majalah, wattpad atau bahkan lo jadiin novel berchapter dgn judul berbeda. Ini menarik.
    Gw suka d setiap tippa terhipnotis untuk yg pertama kali. Dan ah sudahlah… pokoknya gw suka.
    Nah itu si tippa gk jdi ngerayain ultah sang daddy nih ceritanya…. awas sakit neng… wakakaka….
    See ya thor n hwataenggg!!!

    Like

    Reply
  5. Kimie

    Aq yakin deh klu itu taeyeon, 😉😉
    Prtemuan kmbli d bwah turunx hujan,,manis bangeeet♥️♥️♥️♥️

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s