YOU [1/2]

image

Author : fofo
Cover by : jinjin
Note : DONT PLAGIAT MY FANFIC OR TAKE OUR COVER WITHOUT MY PERMISION!!

* SELAMAT MEMBACA *

.

.

Drap drap drap!!

Kupercepat langkah kakiku, sesekali kepalaku menengok kearah belakang. Keringat memenuhi dahiku seiring langkahku yang semakin cepat. Pikiranku kacau. Ketakutan, kecemasan dan sesuatu yang membingungkan ini telah bercampur setiap waktu, dan terus berulang ketika gadis itu melakukan hal ini padaku. Tanpa lelah dia selalu mengejarku, membuntutiku, menempel seperti benalu dan mengatakan banyak hal yang di luar nalarku. Tapi orang itu tak juga lelah menghancurkan hari-hariku. Dan hari ini pun sama. Karena itulah aku mencoba untuk menghidar.

Tapi anehnya.. meski berusaha keras untuk menghindar, aku justru tersedot seperti magnet. Seakan gadis pengganggu hidupku itu, aku telah terbiasa akan kehadirannya. Aneh bukan? Lalu kenapa ini terjadi padaku? Tidak, jangan tanya padaku kenapa karena aku pun tidak tahu. Aku tidak tahu siapa dia, kenapa obsesinya padaku begitu besar, dan kapan dia akan berhenti melakukan ini? Sungguh, aku benar-benar tak tahu apa-apa. Inilah yang membuatnya menjadi semakin menyebalkan!

Sekarang aku bisa merasakan langkah cepat gadis itu kian memperpendek jarak diantara kami. Gawat, aku harus cepat! Aku semakin mempercepat gerak kakiku. Beberapa saat kemudian aku berlarian di sepanjang lorong sekolah seperti gadis aneh. Yang harus kulakukan adalah segera menghilang dari jangkuan gadis itu atau aku akan menjadi korban ocehan gilanya dan obsesinya yang mengerikan.

Hosh.. hosh.. ” aku terus berlari dan berlari, tak menghiraukan pandangan mereka yang menatapku penuh keheranan. Tapi aku justru lebih heran, heran pada gadis itu yang memaksa masuk dalam hidupku.

Sial! Kenapa gadis itu tak pernah berhenti menguntitku? Aku yang selalu berusaha menghilang seperti gelembung, seperti yang dilakukan oleh putri duyung ternyata tak pernah berhasil. Entah bagaimana dia melakukannya, dia pintar mencium bekas pecahan gelembungku dan berakhir dengan menemukanku. Lagi dan lagi. Ugh! Kurasa gadis itu selalu bisa menemukanku hingga ke lubang semut sekalipun.

Dan akhirnya langkahku tertahan ketika aku berada di ujung lorong, tak ada jalan lagi bagiku untuk melarikan diri. Dengan nafas menderu aku memutar tubuhku, menatap tepat pada gadis itu yang juga sama terlihat letihnya. Tuhan, kapan hal gila ini berakhir? Aku benar-benar lelah. Tapi… oh damn! Dia tersenyum begitu tenangnya. Aura misterius dan manis yang memikat milik gadis itu kian menambah kadar keseksiannya, yang membuatku semakin benci padanya. Lalu tanpa kutahu sejak kapan, langkah gadis itu telah berhenti tepat sebelum ujung sepatunya menyentuh ujung sepatuku.

” Tolong berhenti mengi-! ” bersamaan dengan suaraku yang gemetar ketakutan, dia meraih tanganku.

Hosh.. dengar, aku.. ”

” Jika kau tidak pergi aku akan berteriak. ”

Chakaman,

Kya-mmpph~~!!! Mpph!! mmpph!! ” tangannya segera membekap mulutku, lalu menyentakan tanganku, sedikit gerakan yang membuat tubuhku lebih dekat padanya. Saat tubuh kami menempel, wajahnya perlahan bergerak mendekat hingga aku bisa merasakan nafas hangatnya menyentuh permukaan kulit wajahku.

” Dengar, aku- ”

Shireo! ” aku memalingkan wajahku. ” Lepaskan. Cepat lepaskan aku! Yaa!! ” aku menjerit sembari menepis kasar tangannya. Aku benar-benar benci sifat frontal gadis itu.

Aish! Diamlah sebentar! Kenapa kau lari? Apa kau tidak mendengarku agar berhenti? ”

Wae? Kenapa aku harus mendengarkanmu? ”

” Karena aku cemas melihatmu berlarian seperti tadi! Bagaimana jika kau jatuh dan terluka!? ” dia berteriak, wajahnya memerah, memperlihatkan kilatan amarah. Ah~ bukan, sepertinya itu bukan jenis amarah yang seperti pada umumnya. Tapi itu lebih terlihat seperti perasaan cemas. Dibalik suaranya yang keras, dia juga terdengar ketakutan. Ya, aku bisa mendengarnya. Wajah menggemaskan sekaligus menyebalkan gadis itu terlihat benar-benar cemas hingga terlihat seperti amarah. Dan sifat protektifnya yang berlebihan itu membuatku bingung. Namun ini sungguh aneh, walau merasa risih dan tidak menyukainya, aku merasa lumrah.

Tapi… kenapa?

” Hei gadis bodoh, apa kau tidak menyayangimu tubuhmu sendiri? Kau selalu saja ceroboh. Apa kau mau membuatku mati muda? Jika kau jatuh, tubuhmu bisa terluka dan itu akan membuatku sakit! Lagi pula sampai kapan kau mau menghindariku? Sudah kukatakan percayalah padaku! ”

Mwo? Gadis bodoh? Ceroboh? Tidak menyayangi tubuhku sendiri? Merasa sakit karena aku? Yaaa! Siapa kau hingga tak tahu malu berbicara seperti ini? ” ujarku geram lalu menginjak kuat kakinya hingga gadis itu berteriak dan mengaduh kesakitan. Saat itulah aku menampik kasar tangannya hingga cengkramannya terlepas dan aku melangkah pergi.

M-mianhe.. mian.. ” tapi tiba-tiba dia memegangi seragamku dan berlutut di lantai, membelalakkan mataku. Astaga, apa yang dia lakukan?

” Tunggu sebentar Tiffany, ada yang ingin kukatakan padamu. ”

Y-yaa! Apa yang kau lakukan? ” aku menyeret tubuhku tapi gadis itu menarik seragamku agar aku tetap diam ditempatku.

Gajima, yeobo.. Aku sungguh tak bermaksud berbicara kasar. Aku hanya khawatir padamu. ”

Yaak! Berhenti memanggilku yeobo. Cepat Lepas! ”

” Hanya sebentar.. jebal~ ” tiba-tiba wajahnya memelas, memandangiku dengan cara yang…. ah tidak tidak! Mata itu, kedua mata yang memohon dan tatapan yang lembut itu… aku… sangat menyukainya, tapi aku benci ini!! Aku terlalu mudah tersedot dalam tatapan aneh gadis itu, seakan-akan aku ini adalah gadis murahan. Sial! Kenapa ini selalu terjadi?

Tapi saat aku menatapnya seperti ini, entah kenapa aku bisa membaca sesuatu di dalam mata hitam kelamnya. Mata itu.. seakan dia sedang menyembunyikan sesuatu. Aku bisa melihat tatapan yang terluka, seolah seseorang telah menyakitinya terlalu banyak. Atau karena dia sedang merindukan seseorang? Benar, mata gadis itu seperti berbicara padaku, memberitahuku dalam kebisuan bahwa dia begitu merindukanku.

Tapi siapa dia?

Nan molla…

” Tolong, dengarkan aku.. ”

” Kubilang cepat lepaskan! Yaa! Tidak puaskah setiap hari kau mengusikku? Apa kau orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa!? Brengsek, pergi sana dan berhenti menguntitku seperti gadis mesum! ” aku mendorong kepalanya, berusaha agar cengkramannya lepas. Tapi gadis itu menempel erat padaku seperti benalu meski tubuhnya yang berlutut dilantai terseret olehku ketika aku berjalan pergi

Jebal gajima! Aku hanya ingin berbicara denganmu, jebal… ”

Shireo! Aish, tolong jangan lagi-! YYAAA!! ” geram, aku mendorongnya kuat hingga dia terpental jatuh. Untuk beberapa saat aku merasa bersalah ketika melihat bagaimana gadis itu terjatuh. Pasti sakit sekali rasanya dan caranya terjatuh.. ugh~ itu terlihat tidak keren. Namun aku segera berdiri tegak dan memasang tatapan tajam. ” Kau yang harus mendengarku. Berhenti menguntitku seperti penjahat gila! ” aku mengendus kesal lalu menghembuskan nafas panjang, ” Cepat pergi! Kau membuatku sakit kepala saja. ”

M-mianhe.. aku hanya, ” suaranya kemudian terdengar lemah. Gadis itu berdiri dengan kepala tertunduk sedih. Aku melihat matanya memerah dan dia segera memalingkan pandangannya. Dan lagi-lagi, itu terasa menyakiti dadaku saat dia tampak begitu rapuh. Sepertinya gadis itu akan menangis.

” T-tiffany.. aku sangat merindukanmu. ” dia melanjutkan dan suara yang lembut itu membuat tubuhku merinding. Jantungku bergetar dan perutku terasa mual karena begitu senang. Sungguh mengerikan, kata-kata itu seperti mantra sihir untuk melemahkan hatiku. Lalu dia melanjutkan, ” Aku begitu frustasi dan sudah tidak tahan setiap melihatmu. Sudah banyak yang kulakukan untuk menahan perasaan ini, tapi.. ” dia menggeleng lemah. ” Tapi aku sudah tak bisa lagi. Aku tidak bisa melepasmu Tiffany. Aku ingin menggenggam tanganmu, berjalan di sisimu, memelukmu dan..- ”

” Hentikan! ”

” Jika kau ingin aku berhenti dan membuatku menyerah, kumohon jangan melarikan diri dariku. Aku akan menyerah dan pergi setelah kau memberiku satu kesempatan. Hanya satu kali saja. Jika itu tetap membuatmu tidak menyukaiku, aku akan berhenti. Dan.. aku pasti akan pergi dari hidupmu. ” ujarnya lirih.

M-mwo? Apa maksudmu kau ingin aku memberimu kesempatan untuk bersamaku? ” aku berdecak pinggang, ” Apa kau pikir aku akan sudi? Tck, jangan berharap. ” ucapku kesal. Astaga, otakku bahkan tak mampu mencari tahu kenapa dia melakukan semua ini.

Gadis itu selalu mengikutiku seolah aku adalah induknya. Apapun itu, saat di dekatku dia selalu bersikap berlebihan, membuatku sangat muak. Dan pertengkaran kami selalu berakhir dengan aku memakinya kasar atau memukulnya lalu meninggalkan gadis itu begitu saja. Tapi ada yang aneh, dia tahu semua hal yang ada pada diriku bahkan hal kecil sekalipun yang ibuku sendiri tidak mengetahuinya. Entahlah, mungkin saja dia sudah menguntitku sejak bayi.

” Tiffany… ”

” Jika kau masih mengikuti sekali lagi, aku akan melaporkanmu pada polisi! ” ancamku.

” Polisi? Lagi? Apa kau tidak bosan mengancamku dengan hal yang sama? Lagipula aku bisa keluar dengan mudah seperti dulu. Mereka pasti bosan jika melihatku lagi di dalam penjara.Β  ”

Mwo?

” Bukankah… ibumu ada dipihakku? Apa kau lupa? ” dia menyeringai, memberi senyuman mengejek.

” Berhenti tersenyum! Jangan tersenyum! ” aku membentaknya lagi. Arrgh! Kepalaku pusing! Harus bagaimana? Dengan cara apa lagi agar dia menjauh dariku?

Dan Ibuku? Dia juga adalah satu hal yang tak kumengerti. Aku sungguh heran dan tidak mengerti dengan mommy yang justru kian menjerumuskanku padanya. Tapi semakin aneh saat mommy tidak berusaha menjodohkanku agar aku menikah saja dengan gadis itu. Lalu ayahku hanya diam menonton semua hal yang terjadi padaku. Bahkan teman-temanku begitu menikmati interaksi tak wajar diantara kami. Mereka seolah-seolah terkena sihir dan berbalik memihak padanya. Mereka sungguh keterlaluan!

Tapi ada satu hal yang tak bisa kulupakan. Dimulai saat hari itu, hari dimana aku membuka mataku di suatu pagi dengan gadis itu adalah orang pertama yang kulihat, sejak saat itulah aku mengetahui jika hidupku telah berubah. Ketika aku terbangun hal pertama yang kurasakan adalah keanehan. Seperti terlahir dikehidupan yang baru, duniaku terasa asing, tak kukenali dan begitu berantakan.

Kemudian sejak hari itulah dia selalu mengikutiku kemana pun aku pergi, dan menyiksa hari-hariku dengan sejuta hal aneh yang ia lakukan. Semakin aneh saat orang-orang bersikap acuh, membiarkan dia menerobos masuk tanpa ijin kedalam hatiku. Dalam waktu bersamaan aku begitu membencinya, namun terkadang juga menginginkan akan sosoknya untuk tetap diam di sisiku. Ah dasar menyebalkan!

” Tiffany, jebal.. ”

” Pergi! Aku mohon pergilah! Kau membuat kepalaku sakit!! ” bentakku lgi. Lalu rasa sakit itu tiba-tibs datang, menyerangku lagi tanpa ampun. Aku mengerang sambil mencengkram keningku yang berdenyut nyeri. Sial! Semua ini karena dia! Kenapa rasa sakit ini selalu menyerangku saat dia ada didekatku?

” Pany-ah.. ” suara lembutnya memanggil namaku. Suara itu.. suara yang sudah familiar itu berusaha membuatku goyah. ” Gwaenchana? Apa kepalamu sangat sakit? Ayo pergi ke ruang kesehatan saja. ”

” SUDAH CUKUP!! Bukankah kau tahu aku sangat membencimu, jadi tinggalkan aku sendiri! Kau hanya parasit yang berusaha menghancurkan hidupku. Ibuku, ayahku, teman-temanku! Lalu siapa lagi? APA LAGI YANG INGIN KAU INGINKAN!?? ”

” Hatimu.” dia berbicara dengan tegas, dan aku terdiam. Matanya menatapku tajam, namun aku tak bisa menemukan kebohongan di dalam sana. ” Tiffany, aku hanya menginginkan hatimu agar kau bisa melihatku. Aku tahu ini pasti tak masuk akal, tapi aku tahu semua yang kau pikirkan saat ini. Meski kau sangat membenciku, aku akan tetap berusaha membuatmu berada disisiku. Jadi aku tidak bisa menyerah sekarang sebelum kau memberiku kesempatan. ”

Mworago? ” aku tersenyum geli. ” Kau menginginkan hatiku? ” aku mengalang perkataannya dengan nada remeh. Ya ampun, apa sih yang sedang dia bicarakan? Aku mengguman dalam hati.

Dia menatapku nanar, ” Maafkan aku Pany-ah.. tapi aku tidak sanggup hidup tanpamu. Setiap kali memikirkan jika kau mungkin tak akan di sisiku lagi, itu membuat nafasku tercekik dan dadaku sangat sakit. ” dia mencengkram dadanya, terlihat kesakitan. Dan itu terasa menyakitiku juga.

” SUDAH KUBILANG CUKUP! ” teriakku dan tiba-tiba saja sesuatu melewati kepalaku. Sekelebat aku melihat bayangan diriku yang pernah membentak seseorang seperti sekarang. Entah siapa orang itu. Namun yang pasti bayangan itu membuat kepalaku semakin berdenyut-denyut. ” Arrgh! ” dan akhirnya rintihan kecil meluncur dari mulutku begitu saja.

” Pany-ah! Gwaenchana? ” aku segera mengambil langkah mundur saat dia mendekat padaku. Aku menggeleng, memintanya tak mendekat.

” Jika kau terus seperti ini aku tidak tahu hal buruk apa yang akan kulakukan padamu. Jadi.. berhentilah. Karena aku benar-benar membencimu. Hanya dengan melihat bayanganmu saja aku sudah muak. ” ujarku dingin.

” Tiff- ”

” KUBILANG CUKUP! Tolong hentikan sampai disini. ” pintaku lirih. Ketika gadis itu telah membisu, aku memutar tubuhku untuk berjalan pergi, membiarkan gadis itu mematung di tempatnya berdiri. Menit berikutnya kakiku sudah membawa tubuhku pergi, berjalan cepat sampai aku meyakini jika jarak kami sudah cukup jauh. Aku berhenti sejenak ketika dadaku tiba-tiba berdenyut-denyut menyakitkan. Jantung terasa sangat sakit. Kupikir dengan mencengkram kuat dadaku, rasa sakitnya akan mereda. Tapi aku salah, kesakitan yang hampir membuatku tak bisa bernafas ternyata tidak juga mereda.

Kenapa rasanya sangat sakit?

Harusnya ini sudah benar, tapi.. kenapa aku merasakan perasaan semacam ini? Rasa iba dan perasaan bersalah menyerangku setelah aku mendorongnya pergi. Apakah karena aku… me-?

Tidak, itu tidak mungkin. Aku menggeleng lemah, menepis pikiran yang tak masuk akal.

Kemudian aku menahan langkahku ketika sampai di depan tangga. Sejenak berpikir, lalu aku memutuskan pergi menuju atap gedung untuk mencari udara segar. Kaki ini kupaksa bergerak, tapi setiap langkahku terasa semakin berat. Beberapa saat setelah sampai diatap gedung, aku menghela nafas panjang. ” Khaah~ ” sepertinya disini sedikit lebih baik.

Aku memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang baru saja melewatiku. Namun lagi dan lagi rasa sakit itu menyerangku. Dadaku terasa nyeri seperti terpelintir seolah aku telah menyakiti bagian dari diriku sendiri. Padahal sudah jelas aku tidak mengenalnya, aku tidak bisa menemukan apapun tentang dirinya dalam otakku tapi kenapa rasa sakitnya begitu menyiksa? Kenapa aku juga sangat kesakitan setelah aku menyikitnya?

Wae..?

Ssshh.. appo~ ” perlahan perasaan asing itu semakin meremas jantungku, menyiksa dadaku hingga saat menghirup udara pun terasa nyeri. Semua ini pasti karena gadis itu!

” Tapi siapa dia?? “

Benteng yang kubangun memang kuat tapi gadis itu mengikisnya perlahan setiap detiknya. Aku goyah dan aku benci hal seperti ini. Aku merasa marah dan bingung, sekaligus tertarik padanya dalam waktu bersamaan. Air mata yang kubendung akhirnya tumpah, jatuh menetes saat aku merasakan dinding pertahanku runtuh menyeluruh. Yang tidak kumengerti menyiksaku dalam ketidakpastian. Aku seperti bukan diriku. Bahkan aku bisa menangis sesedih tanpa tahu apa alasan dibalik semua kesedihanku.

Hiks..hiks… ” aku membuka telapak tanganku saat air mata menetes jatuh dan membasahinya. Aku menyerngit heran tapi aku terus menangis terisak, menangisi hatiku.

” Hiks.. wae? Kenapa aku menangis seperti ini? Hiks.. tapi hatiku sangat sedih. Hiks.. monmy.. hiks.. ” air mataku pun jatuh melewati pipiku tanpa henti. Hatiku ingin tahu kenapa aku seperti ini. Juga, kenapa gadis itu terus menerobos dinding-dinding kokoh yang kubangun? Dan kenapa aku merasakan sakit yang sama saat aku menyakitinya? Tanpa sebab aku merasa…

Sret!

Seseorang menarikku, merengkuh tubuhku dalam dekapan hangatnya. Pelukannya sangat erat seakan ingin meremukkan tulang-tulangku ketika aku hanya memilih diam, tapi pelukan yang seperti ini rasanya begitu nyaman. Lalu perasaan ini, dan kehangatan miliknya.. juga aroma yang tidak begitu asing, aku sudah menyukai semua itu tanpa aku menyadarinya sejak kapan. Dan akhirnya gadis ini selalu saja menemukanku.

Mianhe Pany-ah.. aku bersalah. Aku sungguh minta maaf karena terlalu mencintaimu. Maafkan aku, semua ini salahku. Maaf, maafkan aku.. ” ujarnya serak, bahunya bergetar ketika aku mendengar isak tangisnya yang tertahan.

” Lepas. ” pintaku lemah tapi dia semakin merapatkan tubuhku dalam dekapannya. Gadis itu seperti takut jika aku akan pergi sangat jauh jika pelukannya terlepas.

” Sekali ini saja, biarkan aku memelukmu. Aku mohon.. ”

Wae? Kenapa kau seperti ini? Hiks.. ”

” Aku menang gadis pengecut. Aku begitu mencintaimu tapi terlalu takut melepasmu meski aku tahu kau tidak mencintaiku lagi. Hikss.. mianhe.. ” aku merasakan pundakku basah oleh air matanya. Dia menangis dalam diam tapi tubuhku kini begitu diam, seolah mulai memberontak pada perintahku agar pergi dari gadis ini. Aku hanya diam, membiarkan kenyamanan ini tak segera pergi. Dan jantungku mulai kehilangan kendali, berdetak cepat seperti akan meledak sebentar lagi.

Tidak, bagaimana ini bisa terjadi?

Beberapa saat kemudian ia melepaskan pelukannya, mendorong tubuhku lembut, dan menatapku begitu dalam. Tangannya yang hangat bergerak mengusap air mataku dan menahan telapak tangannya di pipiku. ” Aku memang bodoh. Aku hanya pecundang bodoh yang selalu menyakitimu. Aku tidak bisa menjagamu. ” ucapnya. Sorot matanya di penuhi rasa bersalah dan penyesalan.

” Apa yang kau katakan? Tak ada satu hal pun yang bisa kumengerti. ”

” Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Pany-ah, maafkan aku.. ” kepala gadis itu menunduk sedih tak kuasa menatap ke dalam mataku yang menuntut banyak penjelasan. Lalu setetes air mata itu kembali jatuh menetes dari sudut mata hitamnya. Lagi dan lagi, ketika aku melihat gadis itu menangis.. itu sangat menyakitiku. Aku merasakannya dalam hatiku.
Β 
Tanpa sadar tanganku bergerak, menyentuh lembut wajahnya. Dia mendongak, berusaha membalas tatapanku walau air matanya belum kering. Lalu kami membisu, hanya membiarkan mata kami saling menatap dalam diam. Kenapa gadis ini begitu membuatku frustasi? Siapa dia? Perlahan aku mengusap usap air matanya memakai ibu jariku dengan lembut. Hatiku berkata tidak rela melihat dia menangis. Aku ingin dia tetap bersikap konyol dan berbuat aneh saat berada di dekatku meskipun aku membenci ketika dia melakukan itu. Karena tanpa kuduga, aku lebih membenci diriku ketika melihatnya menangis. Aku tak tak sanggup melihat gadis itu ketika dia sangat rapuh.

” Pany-ah.. ” dia memanggil namaku dengan cara yang kusikai. Aku terpana saat gadis itu menarik bibirnya, memberiku senyuman tipis yang menenangkan hatiku. Tak lama aku tersadar saat tangannya meremas tanganku yang masih menempel diwajahnya.

Nan jeongmal saranghae..

Chuu~

Aku terkesiap. Mendadak, dia mengecup keningku, ciuman yang begitu dalam. Dan aku hanya terdiam, mencari arti ciuman yang penuh kasih sayang darinya. Kemudian kelopak mataku jatuh menutup, mencoba berdamai dengan sisi gelapku dan berusaha mendengar isi hatiku untuk mendapatkan jawaban dari semua kegundahan hatiku.

Hanya sesaat, kemudian gadis itu menyudahinya dan kembali memandangku, penuh kelembutan. ” Aku sudah memutuskannya sekarang. ”

M-mwoga? ” tanyaku gelagapan. Omo! Kenapa aku berubah segugup ini?

” Aku akan berhenti dan menunggumu di suatu tempat. Aku juga tidak akan mengusikmu lagi sampai kau menerimaku kembali. Tapi.. jika sampai saat hari itu tiba dan hatimu tidak kembali padaku.. geure, aku akan menyerah. ” ia kembali tersenyuman, senyuman kaku yang sangat menyedihkan.

” Aku akan pergi sekarang. ” suaranya yang terdengar bergetar terdengar semakin lirih. Ia tampak berusaha menyakinkanku walau nyatanya ia sendiri terlihat tak yakin.

Jadi dia akan pergi? Tak akan mengusikku lagi? Tidak akan mengacaukan hari-hariku atau membuntutiku dan berbuat sesuatu yang kubenci? Tapi…

DEG!!

Hatiku kembali berdenyut. sakit. Sangat sakit dan semakin sakit.

” Sekarang jangan pikirkan apapun. Dan kau tak perlu melihatku jika itu mengganggumu. Sampai jumpa. ” dia mengusap pipiku penuh kelembutan untuk beberapa detik sebelum bergerak pergi. Setelah memberiku senyuman palsu ia memalingkan tubuhnya, dan melangkahkan kakinya menjauh. Ya, dia pergi. Setiap detik yang berjalan lamban, mataku tak berhenti menatap punggungnya yang perlahan-lahan menjauh. Gadis itu semakin jauh dan akan menghilang sebentar lagi.

” Gajima! “ aku berteriak keras. Kaki ini tanpa ijinku bergerak sendiri, berlari padanya dan menubruk punggung gadis itu untuk memeluknya erat-erat. Tanganku melingkari pinggangnya, mengikat tubuh gadis itu agar tetap diam di tempatnya. Dan aku tak menghiraukan keterkejutannya dengan perubahan sikapku.

N-neo.. nuguya? ” tanyaku lirih. Pertanyaan ini yang selalu meracuniku sejak hari itu, sejak pertama kali aku melihatnya tengah menatapku dengan perasaan penuh cinta. Aku ingin tahu, apa artinya gadis itu dalam hidupku sejak aku melihatnya tengah menggenggam hangat tanganku. Karena dia adalah orang pertama yang kulihat saat mataku terbuka di pagi itu, beberapa bulan setelah aku terbaring koma di rumah sakit.

” P-ppany-ah… ”

” Apa kau tak dengar? Siapa kau? Siapa kau sebenarnya? Aku tidak bisa mengenalimu, tapi kenapa kau terus mengusikku dan membuatku bingung. ” aku mengeluh. Dengan posisi aku masih memeluknya dari belakang, keadaan berubah hening. Hanya menyisakan suara angin dan gemersik daun yang saling bergesekan.

Yaa! Apa kau tuli? ”

N-nan.. T-t..ttaeyeon imnida. ” kata gadis itu tergagap.

Ah, benar nama itu! Taeyeon. Kim Taeyeon. Nama yang selalu tak asing. Tapi aku belum puas, karena itu aku kembali bertanya, ” Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? ”

” Aku adalah Taeyeon, seorang murid kelas 3 SMU Sowon High School, dan teman satu kelas dari seorang gadis pemarah bernama Tiffany Hwang. ”

” Benar, Taeyeon. Kau adalah Taeyeon. ”

Dia melepaskan tanganku, berbalik dan mencengkram kedua bahuku. Gadis itu menatapku lekat-lekat. ” Apakah mungkin…. kau sudah mengingatku sekarang? ” tanyanya antusias. ” Apa kau tahu siapa aku? ”

” Kau? Kau adalah Taeyeon. ”

Mata gadis itu terbelalak tak percaya, ” Tiffany!? Jadi k-kau.. kau sudah mengingatku!? ” senyum gadis itu melebar, membuat wajahnya bersinar terang. ” Astaga! Jadi kau benar-benar sudah ingat sekarang!!? ”

Aku menghela nafas pendek, ” Kau baru saja mengatakan namamu bodoh! Lagi pula aku bertanya padamu siapa kau, bukan siapa namamu! Aish! Jinja baboya!

O-ooh.. ne, araseo. ” ujarnya, sekejap ekspresi di wajahnya berubah lesu. Ia menghirup dalam-dalam oksigen disekitar kami. ” Baiklah karena sudah empat bulan ini aku menahannya dan sekarang kau bertanya, maka aku akan menjawabnya dengan jujur. ” gadis itu mengulurkan tangannya padaku dan memberiku senyum yang manis. Tapi karena aku hanya membiarkan uluran tangannya menggantung begitu saja, dia langsung meraih tanganku dan menjabat tanganku. ” Nae iremuen.. Taeyeon, Kim Taeyeon imnida. Dan aku adalah suami dari seorang gadis yang sangaaaat cantik ”

”Β  S-su..suami? ” aku mengulangnya dengan terbata.

Gadis mengangguk, ” Ne, aku punya seorang istri yang sangat kucintai. Dia sangat manis, cantik, seksi, cerdas dan menyenangkan. ”

Geunde, apa mungkin seorang siswa sudah bisa menikah? Omo~ gadis macam apa yang mau menikah denganmu. Tck, geotjimal.

” Tentu saja mungkin karena kami sudah melangsungkan pernikahan, yeah.. walaupun kami belum mendaftar di catatan sipil. Dan istriku adalah gadis yang sangaaaat spesial, dia sangaaaat cantik dan dia juga begitu mencintaiku. ”

Tck, kurasa dia juga sama bodohnya sepertimu karena menikah dengan sesorang suami yang terus mengejar-ngejar gadis lain. Aigoo~ kasihan sekali dia. ”

” Tidak, kau tidak boleh menyebutnya bodoh. Cukup akulah orang yang paling bodoh itu. ”

Aigoo, pasti menyedihkan sekali hidup istrimu. ”

Kepala gadis itu tertunduk, matanya yang gelap terlihat sendu. ” Kau benar. Itulah yang membuatku sangat frustasi. Dan karena kebodohanku.. dia harus hidup menderita dan mengalami kecelakaan enam bulan yang lalu. Aku benar-benar bodoh. Kupikir dengan dia melupakanku akibat kecelakaan waktu itu, ini akan membuat hidupnya lebih baik sekarang. Tapi ternyata aku tidak bisa melepaskannya. Aku sungguh egois. ”

” S-sudah hentikan! ” seruku, aku tidak tahan melihat wajah sedihnya, itu sungguh mengusik hatiku. ” Aku tidak bertanya tentang istrimu tapi aku bertanya tentang kau. Siapa sebenarnya kau dan untuk apa kau terus mengusikku? ”

” Karena wanita itu, wanita yang spesial itu.. ” dia menatapku sendu dibalik mata gelapnya, ” dia adalah kau. Karena Tiffany Hwang adalah istri Kim Taeyeon. Ya, aku suamimu Pany-ah. ”

Aku terhenyak. Kedua bola mataku membulat sempurna. Belum usai keterkejutanku Taeyeon kembali menarikku dalam dekapannya. ” Jika kali ini kau mendorongku pergi maka aku akan pergi, benar-benar pergi dan menghilang. Aku tidak mau melihatmu tersiksa karena setiap kau melihatku kau selalu menderita. ”

Anehnya tanganku tak diam seperti tadi. Perlahan kuangkat tanganku hingga menyentuh punggungnya, menepuk nepuk lembut punggungnya. Aku memejamkan mata. Benarkah semua yang dikatakan gadis ini jika aku adalah istrinya? Benarkah? Kenapa meski sangat terkejut, aku tak memiliki amarah jika ini hanyalah sebuah kebohongan? Benarkah aku telah menikah dengan orang ini? Sungguh menggelikan bukan?

Tapi.. saat aku menatap matanya untuk mencari kebohongan yang tersembunyi, aku tidak dapat menemukannya. Dan sekarang aku justru tidak menginginkan kepergiannya. Sekalipun alasan yang mendasari keputusanku ini, untuk menahan gadis itu tidak terdengar masuk akal, itu tak apa-apa. Aku hanya ingin dia tetap bersamaku, di sisiku.

” Kim Taeyeon-ssi, ”

” Hm? ”

Jadi… aku akan mencoba lagi, mencari seperti apa gadis ini, siapa dia dan apa artinya dia didalam kehidupanku. Juga, bagimana perasaanku sesungguhnya pada gadis itu.

Geure, satu kesampatan. ”

N-ne?

” Hanya satu kali saja, aku akan memberimu satu kesempatan. Jika kau gagal maka….. ”

Sekalipun tidak berhasil, aku akan mencoba memulai segalanya dari awal. Dan sepertinya, aku…. memang menyukai gadis ini. Seorang gadis yang mengaku sebagai suamiku, Kim Taeyeon.

.

.

.

.

* * *

ff ini adalah ff lama (dan aku repost disini), jd maklum klo ceritanya biasa ajah.

Ok sekian, Dank U~

Advertisements

30 thoughts on “YOU [1/2]

  1. 9@50N3

    Ini masih ada kelanjutannya kan thor?
    Lagi ngebayangin gimana kejadiannya ye kalau si tae ngebuntuti phany sejak bayi?
    Wkhaha,,,,,.

    Like

    Reply
  2. ChipotHyun

    Pusing abdi mah sama Pw Step Mother ..

    Ini kaya nya FF bakalan di Protec jy dah πŸ˜‘πŸ˜‘
    Ini udh prnh di post kan

    Like

    Reply
  3. brigittagapes

    Okay taeny mulai buat pusinggg… apa ppany kecelakaan dan dia hanya lupa ke tae…? Pasti saat itu dia mikirin tae *biasanya sih gitu… wkwkwk
    Nah taeny on the way… mulai penasaran ada apa dan gmana kesempatan itu d buat menarik ama tae…
    Woahhh… tae jjang!!! Gk nyerah juga…
    Mantap dah
    See ya thor n hwataengggg!!!

    Like

    Reply
  4. lidya20

    kerasa banget feel nya thor, ikut ngerasain perasaanya tae, 😭 dan pengen liat gimana perjuangan tae buat pany ingat tae, dan jujur baru pertama kali baca ff ini, walaupun katanya udah pernah di di share.

    Like

    Reply
  5. Vin Bluee09

    Yg di maksud tae ,ppany kah thor ??
    Ya ampun ppany pemarah ,nyeremin amat yak 😞😞😞

    Semoga ppany cpet inget ,inget tae satu kesempatan ..jangan kau sia_sia kan ..

    Hwaiting thor

    Like

    Reply
  6. totobeljjang

    Wkwkwkwk si tae lucu bgt disini mah. Ngaku2….. Coba bayangin jd fanny, ketika ada orng ngaku2 jd suami lu, tp lu sendiri merasa bahkan gak kenal orang itu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Ok thor gue tungguin kelanjutannya, pasti seru nih, dan penasaran dengan masalalu taeny, kenapa fanny bisa lupa sama tae?

    Like

    Reply
  7. taenyls4ever

    Hwahh tiffany amnesia??
    Kasian taeng… knp nasib mu sllu bgini nakkk.. 😧😧
    Punya bini marah2 mulu..nggk di ff ini.. nggk di ff satunya.. melas bangtlah lu taeng.. 😧😧😧😧

    Like

    Reply
  8. kimtaetae

    mengharukan :’) kasihan taeng semoga aja kesempatan ini dimanfaatkan dgn baik ama si taeng smg juga ppany bisa ingat lagi, itu anehnya anak sekolahan udah nikah wkwk XD
    hmm jadi penasaran ppany kecelakaan apa ya

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s