Steph mother (14)

image

.

.

Tepat pukul 6.30 alarm berbunyi membangunkan gadis itu. Beranjak dari tempat tidur, ia keluar kamar. Dia melihat ke sekeliling rumah lalu kepalanya berhenti ke salah satu ruangan. Kemudian Tiffany memutuskan menuju ruang tengah, tempat dimana Taeyeon akan lebih banyak menghabiskan waktu disana. Tiffany berjalan mendekat. Sementara debaran jantungnya semakin mengencang, ia menelan ludah dan mencari Taeyeon di sana.

Tiffany menarik napas panjang kemudian melepasnya perlahan-lahan. ” T-taeyeon-ssi.. ” panggil Tiffany pelan seraya mengitari pandangannya di ruang tersebut. Tapi ternyata wanita itu tidak berada disana. Gadis itu mengangkat kedua alisnya ketika melihat keadaan hampir seluruh ruangan yang sangat berantakan.

” Oh Tuhannnn~~ wanita itu benar-benar keterlaluan. Apa dia pikir rumahku adalah tempat sampah? ” gadis itu mendesah jengkel karena kebiasaan buruk Taeyeon.

Selama wanita itu tinggal di rumahnya, seringkali Tiffany mendapati hal seperti ini setiap pagi. Kertas-kertas berhamburan dimana-mana, kursi tidak tertata rapi, di sana-sini terdapat banyak bungkus makanan berserakan. Selain itu ia menemukan juga pakaian Taeyeon yang tergeletak begitu saja di lantai. Serta beberapa botol air mineral dan soft drink di atas meja. Sungguh tak pernah terpikir dalam kepalanya bahwa dia akan hidup dengan seorang wanita misterius yang mengaku sebagai ibunya.

Tiffany mendesah sejenak sebelum ia mulai membersihkan ruangan tersebut. Padahal hari ini adalah hari minggu, dimana biasanya wanita itu akan mengurung diri di rumah. Tapi dimana wanita itu? Tak bisa Tiffany dipungkiri jika dia butuh melihatnya. ” Apakah mungkin…. wanita itu sudah pergi? “ Tiffany menebak-nebak dalam hati. Tapi segera gadis itu menggelengkan kepalanya. Itu tidak mungkin terjadi secepat ini, kan? Bukankah dia akan pergi setelah satu permintaan lagi? Namun keheningan di rumahnya benar-benar membuat suasana semakin sunyi.

Perlahan Tiffany menggerakkan kepalanya, melihat ke arah samping. Biasanya saat malam dia akan menemukan wanita itu bersandar di sana, di sofa dengan matanya terpejam dan tangannya tertangkup di depan dadanya. Lalu tanpa sadar Tiffany tersenyum. Rasa-rasanya, sudah lewat beberapa minggu sejak kedatangan Taeyeon, tapi seolah Tiffany sudah mengenal betul wanita itu.

Tapi, benarkah bahwa mereka memang pernah bertemu di masa lalu? Kemudian Tiffany hanya menghela nafas saat tak menemukan jawabannya. Yang ia tahu, dan hal yang tak pernah terpikir olehnya adalah.. Taeyeon satu-satunya orang yang paling menyebalkan dan yang paling perhatian. Bahkan ketika dia berada diambang masalah, Taeyeon mencintainya dengan tulus dan tanpa ia sadari menjadi pegangannya.

” Apa ini? Astaga, ada apa denganku? ” Tiffany menjatuhkan sampah yang ia pungut dan menekan dadanya yang berdebar-debar. Perasaan mendebarkan ini…..

M-maldo andwae. A-aku tidak mencintai wanita itu kan? ”

Mata Tiffany terbelakak. Pertanyaan itu sontak membuat Tiffany memaksa dirinya untuk menelan ludah walaupun rasanya seperti menelan pisau yang menyayat kerongkongannya. Namun sesaat Tiffany mengeluarkan senyuman remeh, jelas itu tak mungkin. Dia tidak menyukai wanita itu!

Tiffany pun kembali memungut sampah, tapi dia berhenti demi mendengar pertanyaan di kepalanya. Sesuatu itu terus mengganggu kepalanya. Sekarang entah kenapa gadis itu mulai menyadari bahwa Taeyeon… mungkin… selama ini sudah tersimpan di dalam hatinya dan menunggu untuk diakui? Ah, tidak-tidak. Itu tidak mungkin. Cepat-cepat Tiffany menggelengkan kepala, berpikir tak seharusnya ia memikirkan wanita itu.

Aish! Wanita itu membuat kepalaku berdenyut-denyut saja. Sial. ” keluh Tiffany. Sedetik kemudian dia melanjutkan kembali pekerjaannya.

Menghela nafasnya sekali lagi, Tiffany akhirnya beranjak dari ruang tengah setelah merapikan tempat itu. Lalu melangkah masuk ke ruang tamu. Di sana dia duduk sambil melihat pemandangan di luar. Tapi anehnya pikirannya kosong, Tiffany bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukannya saat ini. Menggerakkan kepalanya, ia memandangi rumahnya yang luas, tapi terasa dingin. Kali ini suasana sepi tak kunjung merenggang. Mungkin ini karena hari masih pagi.

Tapi dimana wanita itu?

Ada sedikit rasa sesak menyadari dirinya yang seperti ini, bagaimana dia terlihat benar-benar membutuhkan wanita menyebalkan itu. Entah ia katakan apa perasaan ini. Tapi sebenarnya Tiffany tahu jika dirinya kesepian, tanpa wanita itu.

.

.

Ketika matahari telah tenggelam seluruhnya, dengan senyuman lebar Taeyeon segera melangkah keluar dari ruangan kerjanya. Taeyeon sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah gadis itu dan bertemu Tiffany. Sekarang dia telah menyelesaikan apa yang harus dia lakukan. Jadi wanita itu pergi dengan langkah tergesa-gesa. Padahal baru kemarin mereka berpisah. Tapi ia sudah merasakan kerinduan yang teramat dalam. Taeyeon tidak mengetahui kenapa ia bisa menjadi seperti ini, persis seperti remaja yang sedang jatuh cinta pertama kalinya.

Namun setiba di rumah, Taeyeon justru mendapati suasana rumah yang sepi. Gadis itu cukup kecewa karena Tiffany ternyata tak ada di rumah. Karena itu sesaat ia berhenti di ruang tamu, berdiri santai dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku celana. Mata wanita itu melihat kesana kemari, melirik sekelilingnya yang mungkin tak akan pernah dilihatnya lagi setelah ini. ” Meski aku hanya seseorang yang hanya lewat dalam hidupmu, tapi tempat ini juga, sepertinya… akan sulit bagiku untuk melupakannya. ” guman Taeyeon, lalu tersenyum kecil.

Lima menit kemudian barulah Taeyeon berjalan menuju ruang tengah dan ingin beristirahat sejenak. Tapi betapa ia terkejut saat menemukan Tiffany telah terlelap diatas sofa, tempat dimana biasanya ia tidur. Dan melihat cara gadis itu tidur yang meringkuk, tampak kedinginan, Taeyeon segera mendekat dan menyelimuti Tiffany dengan hati-hati. Wanita itu lalu duduk di lantai di samping tempat Tiffany tidur dan ingin memanjakan matanya dengan mengamati gadis itu lekat-lekat. Taeyeon kembali tersenyum. Demi Tuhan, gadis itu terlihat sangat cantik.

” Pany-ah.. kau sangat cantik. ” Taeyeon berguman, begitu mengagumi sosok wanita idamannya yang memiliki paras terpahat sempurna. Setiap helaian rambut hitamnya yang berkilau, itu menambah kesan manis pada gadis itu. Dan Taeyeon sangat menyukainya, semuanya.

” Tippany, di duniaku ini yang hanya diisi bersamamu, aku akan tetap seperti ini. Aku tidak pernah melupakanmu bahkan seharipun. ”

Sejenak Taeyeon menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. ” Bahkan meskipun kau telah menjauh seperti sebuah mimpi, aku berusaha menangkapmu. Tapi sekarang sudah saatnya aku membiarkanmu pergi. ” Taeyeon berkata pelan dan terdengar sedih. Namun bibir Taeyeon berusaha tersenyum, dan melanjutkan. ” Tapi sekalipun kau tidak disisiku lagi, seseorang yang akan menjadi orang terakhirku, itu.. adalah kau. ” dia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah gadis itu dan menahan telapak tangannya di sana lalu ibu jarinya mengelus-elus pipi Tiffany lembut.

” Dan hari ini, sekali lagi aku berterimakasih pada Tuhan. Aku bersyukur, sebab aku masih memiliki satu hari lagi untuk melihatmu. Aku pasti akan sangat merindukanmu. Tapi aku berharap kali ini kau tidak melupakanku lagi. ” pintanya seakan-akan Tiffany dapat mendengarkan suaranya. Dan jari wanita itu masih menyentuh wajah Tiffany.

Untuk kesekian kali desahan napas berat terlepas perlahan dari mulutnya. Bibir mungil yang biasa tersenyum manis kini mengerucut kecil. Taeyeon memegangi dadanya yang semakin sesak dan nyeri. Sakit seperti tertusuk-tusuk. Udara disekitarnya—yang seharusnya bisa ia hirup—mendadak raib. Sakit memang, disaat menyadari tidak ada sedikitpun kesempatan untuk dapat memiliki seseorang yang sangat disukai.

Sungguh, Taeyeon ingin menangis sekarang. Dia merasa seolah berada di tempat lain, tidak seperti biasanya. Sebenarnya kemanakah dirinya yang biasanya? Ataukah selama ini Taeyeon hanya berpura-pura bahwa dirinya seorang yang kuat?

Tapi lamunan Taeyeon mendadak terhenti karena elusan di pipi gadis itu membuat Tiffany mengkerutkan keningnya. Sial. Taeyeon cepat-cepat menghapus air mata yang sudah menetes tanpa ia sadari. Tak lama Tiffany merintih gelisah dalam tidurnya, tubuh gadis itu bergerak gelisah. Wajah Tiffany juga berkeringat meskipun udara cukup dingin malam itu. Dengan bingung Taeyeon mencoba membangunkan Tiffany yang mulai merengek dalam tidur, memanggil ayah ibunya dan memohon agar mereka tidak meninggalkannya.

” Tidak… Mommy, jangan, jangan… daddy… Jangan pergi, aku takut. ”

” Pany-ah waegure? Gwaenchana? ” Taeyeon mengguncang pelan tubuh Tiffany, namun gadis itu masih tetap memejamkan matanya. Taeyeon semakin kebingungan tatkala melihat rembesan air mata yang mengalir dari mata Tiffany yang terpejam, dia bahkan terisak.

Jebal hajima.. hiks.. ga-gajima… ”

Ssst.. pany-ah, uljima.. Jangan takut, aku ada disini. Ssst.. uljima.. ” tak ada cara lain bagi Taeyeon untuk menenangkan gadis itu. Segera ia meraih tangan Tiffany, menggenggamnya, sesekali mengusap punggung tangan Tiffany perlahan. Lalu tangan gadis itu pun mencengkeram tangannya begitu erat hingga Taeyeon sedikit meringis pelan. Tapi ia tidak menggubrisnya. Dengan tangan yang bebas, Taeyeon terus menepuk-nepuk punggung Tiffany lembut dan sesekali mengusap kepala Tiffany penuh sayang hingga kerutan di kening gadis itu menghilang dan Tiffany pun terlelap kembali.

Kemudian, malam yang kian larut memberikan keheningan, sementara Taeyeon masih terjaga di dekat Tiffany tanpa menghiraukan udara malam yang dingin. Dan saat ia memandangi Tiffany, Taeyeon berkata lirih, ” Kupikir seseorang sepertiku bahkan tidak berharga untuk terlahir. Tapi setelah bertemu denganmu, pertama kalinya dalam hidupku aku merasa begitu bersyukur telah terlahir. ”

Taeyeon mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Tiffany hingga kepala mereka saling berdekatan. Tak ada jarak pada siluet itu. Dan Taeyeon tersenyum tipis sebelum ia menurunkan bibirnya ke kening Tiffany, menanamkan kecupan manis di kening Tiffany. Ciuman yang begitu lembut dan penuh sayang itu bertahan cukup lama sampai kemudian Taeyeon menarik dirinya menjauh.

” Aku senang karena alasanku untuk hidup adalah… kau. Maaf, dan… aku sangat mencintaimu. ” lalu wanita itu mencoba untuk berdiri, namun ketika dia membalikkan badan, Taeyeon terhenyak saat merasa pergelang tangannya ditahan. Ketika ia menunduk, Taeyeon mendapati Tiffany sudah terbangun.

” T-t-tippany? O-oh.. kau sudah bangun? ” tanya gadis itu gugup tapi kemudian membentak gadis itu untuk menutupi gugupnya. ” Y-Ya! harusnya jangan tidur di luar! Apa kau ingin sakit? Lebih baik pergi ke kamarmu sekarang. ” selesai mengatakan itu, Taeyeon ingin bergegas pergi. Tapi lagi-lagi Tiffany menahan kepergiannya. Tangan Tiffany memegang tangan Taeyeon dengan erat. Lalu gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk dan mendongakkan wajahnya untuk menatap Taeyeon.

Menyadari ada yang tak beres, Taeyeon menghela nafas pendek sebelum dia merendahkan tubuhnya, berjongkok di depan Tiffany. Dalam beberapa detik dia masih diam dan mengamati Tiffany. Namun Taeyeon bisa melihat kesedihan terpancar di wajah gadis itu. ” Ada apa Tippany? Apa kau bermimpi buruk tadi? ”

Bukannya menjawab, Tiffany justru melontarkan pertanyaan balik meski setengah mengantuk. ” Bisakah aku meminta bantuanmu? ”

Eo.. kau boleh meminta apapun padaku. ”

” Aku tahu jika hubungan kita sangat aneh, tapi aku sering merasakan orang-orang yang bersamaku, mereka pergi meninggalkanku. Karena itu… saat kau pergi nanti, jangan pergi tanpa memberitahuku. Jangan pernah pergi dariku tanpa memberitahu padaku terlebih dahulu. Dan pastikan untuk mengucapkan selamat tinggal padaku sebelum kau pergi. Apa kau bisa melakukannya? ” Tiffany bertanya penuh kekhawatiran.

Taeyeon diam. Ungkapan Tiffany itu tentu bukan tanpa alasan dan Taeyeon tahu apa penyebab dibalik kekhawatiran gadis itu. Dan tanpa Tiffany sadari sedikitpun, tangan Taeyeon melayang dan menyentuh pipinya dengan lembut. Pandangan mata mereka beradu sejenak hingga berakhir ketika Taeyeon mengangguk mengerti, tanpa tersenyum.

” Terimakasih.. ” ujar Tiffany merasa lega setelah terdiam cukup lama, lalu melepaskan pegangan tangannya, ia bangkit, dan berlalu kembali ke dalam kamarnya. Gadis itu pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan Taeyeon yang mematung tanpa berkata apa-apa, tanpa tahu air mata kembali mengalir di mata wanita itu.

.

.

.

.

***

Baper oy? XD

Advertisements

20 thoughts on “Steph mother (14)

  1. Im d

    Mempunyai perasaan kaya Tae menyakitkan.. Wlpun ad d sekitar ny tp tak d anggap ad.. Hrs kah tae mundur secara teratur..

    Like

    Reply
  2. Yeon TaeNy

    Ulala…jadi baper nih thor…
    Kasihan juga ngeliat taeyeon,perasannya digantung gak jelas ama pany yang lagi labil..huhuhu*mewek

    Like

    Reply
  3. taenyls4ever

    Astagaa.. baper banget ihh chap 14 nya 😭
    Ppany cm tgl blng.. taeyeon jgn pergi.. jgn tinggalin gue.. plis stay with me.. gtu aj suliiitnya minta ampun.. hemmmmm
    Waahh… katanya mo end chap 16.. yahhh sayang udh mau end aj.. aplgi authornya mo hiatus.. syediihhh

    Like

    Reply
  4. ademoelyawati

    Fany knp gtu in tae sih…??kenapa kata” fany seakan” nyuruh tae pergi beneran…
    Lihat tae napa fan…tae tulus cintta ama lu fan…

    Like

    Reply
  5. tippa01

    Huuwaaaaaa sedihh bangettt😢😢😢
    Taeyeon yg kuat yaaa jangan nyerahhh😢
    Kita cuma butuh tiffany ngakuin diri aja huhuhu
    Ayodong fany jgn diingkari lagi😢😢

    Like

    Reply
  6. kimkimkan

    Sedih,baper kenapa fany bilang kalo tae pergi harus bilang dulu? Mungkin karena fany nggk mau tambah sedih dengan tae yg pergi dadakan😢😢😢😢😢😢😢

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s